Ia mencontohkan saat ini, misalnya Australia harus menjalin kerja sama dengan Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk mengamankan pasokan bahan bakar. Di Uni Eropa juga terjadi hal serupa.
“Bahkan Amerika Serikat yang sebelumnya memberlakukan embargo minyak terhadap Rusia dan Iran kini mulai melonggarkan kebijakan tersebut karena tekanan harga yang dirasakan masyarakat. Embargo itu sudah berlangsung lebih dari 40 tahun. Namun sekarang, karena harga semakin tinggi dan masyarakat harus membayar lebih mahal, terutama di negara demokrasi, muncul tekanan dan kritik terhadap pemerintah,” tuturnya.
BACA JUGA:Jenis-Jenis Plastik yang Harganya Naik Tiap Hari karena Konflik Timur Tengah
Lalu saat ditanya apakah ada langkah penghematan, misalnya dengan penerapan work from home (WFH), sebagai upaya efisiensi energi di Timor-Leste?
“Untuk saat ini, kebijakan work from home belum diterapkan di Timor-Leste, meskipun kemungkinan masih dalam proses pembahasan. Seperti yang sudah saya sampaikan, kenaikan harga mungkin akan terjadi, dan ini bukan hanya di Timor-Leste, tetapi di seluruh dunia. Bahkan negara maju yang sebelumnya menganggap konflik di Timur Tengah—khususnya antara Amerika, Israel, dan Iran—tidak berdampak pada mereka, kini mulai merasakan tekanan ekonomi. Banyak negara menghadapi kesulitan, bahkan beberapa maskapai penerbangan harus mengurangi atau menghentikan operasionalnya. Situasinya cukup serius,” katanya.