Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara relevansi ekonomi dan tanggung jawab peradaban.
Kampus perlu membangun kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sosial. Kolaborasi dengan dunia industri penting diperkuat.
Program magang, riset terapan, kewirausahaan, dan inovasi sosial perlu terus dikembangkan agar lulusan memiliki pengalaman nyata menghadapi perubahan dunia kerja.
BACA JUGA:Masa Depan Cerah Industri Sawit Indonesia
Pada saat yang sama, pendidikan juga perlu tetap menjaga ilmu-ilmu dasar dan humaniora sebagai bagian penting pembangunan bangsa.
Universitas memerlukan ruang reflektif agar tetap mampu menjaga akal sehat publik di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Di era kecerdasan artifisial saat ini, kemampuan manusia yang paling mendasar justru semakin penting. Teknologi mungkin dapat menggantikan pekerjaan administratif dan teknis tertentu.
Empati sosial, kebijaksanaan moral, kemampuan memahami kompleksitas manusia, dan kedalaman refleksi tetap menjadi wilayah yang tidak mudah digantikan mesin.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja.
Pendidikan perlu melahirkan manusia yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya.
BACA JUGA:Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Butuh Persatuan, Bukan Narasi Krisis
Kampus memang perlu dekat dengan realitas sosial dan ekonomi. Universitas juga memikul tanggung jawab menjaga horizon pengetahuan yang lebih panjang daripada sekadar kebutuhan pasar hari ini.
Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh tenaga kerja yang terampil, melainkan juga oleh manusia-manusia yang mampu menjaga arah moral, kebudayaan, dan imajinasi masa depannya.
By Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi)