Dari Pacific Caesar ke DBL Camp 2026, Rainer Anggakara Fokus Bangun Basket Pelajar

Kamis 14-05-2026,13:19 WIB
Reporter : Agustinus Fransisco
Editor : Gunawan Sutanto

Perjalanan kepelatihannya sendiri dimulai sebagai asisten pelatih SMP Petra 3 Surabaya di Junior DBL East Java Series 2020. Setahun kemudian, ia mendapat kesempatan menangani SMA Petra 2 Surabaya dan mulai semakin serius mendalami dunia coaching.


Bambang Asdianto ketika memberikan materi seputar statistik basket di DBL Camp 2026.-Media DBL Indonesia-

Sedikit demi sedikit, Rainer membangun identitasnya sebagai pelatih muda dengan pendekatan disiplin, analisis permainan, dan pengembangan mental pemain.

Baginya, basket sekolah bukan hanya soal mengejar kemenangan, tetapi juga membentuk karakter atlet muda.

Namun, menjadi pelatih ternyata bukan perkara mudah. Ada tantangan besar yang harus ia hadapi ketika berpindah dari peran sebagai pemain menjadi pembimbing tim.

BACA JUGA:DBL Camp 2026 Jadi Tempat Coach Mbing Kembangkan Analisis Statistik Basket

BACA JUGA:Keseruan DBL Dance Clinic 2026, Peserta Bisa Belajar Langsung dari Dancer Profesional

"Tantangan jadi pelatih itu menghadapi anak-anak dengan berbagai macam karakter dan sifatnya. Awalnya jiwa pemain terus tiba-tiba menjadi pemain tuh, harus siap menjadi sosok pembimbing dan mentor. Jadi belajar lagi buat menyampaikan ilmu," kata Reiner.

Di DBL Camp 2026, seluruh pelatih juga berkesempatan mengikuti seleksi menuju DBL Indonesia All-Star 2026. Nantinya hanya empat pelatih terbaik yang akan terpilih untuk belajar dan menimba pengalaman basket di luar negeri bersama skuad All-Star.

Rainer mengakui dirinya tentu memiliki keinginan untuk bisa mencapai tahap tersebut. Namun, baginya hal terpenting tetap soal proses belajar dan pengembangan diri sebagai pelatih.

"Kalau terpilih itu bonus. Saya punya impian bisa mencetak pemain-pemain yang membawa Indonesia di panggung internasional. Untuk skala lebih kecil, basket di Jawa Timur dan Surabaya semakin bagus," tukasnya. (*)

Kategori :