Dor! Dor!

Kamis 21-05-2026,04:04 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Dor!

Mungkin tidak ada yang tewas oleh tembakan Presiden Prabowo di sidang pleno DPR kemarin. Tapi yang terluka pasti banyak. Sebagian pasti luka parah.

Pengusaha sawit dan batu bara tidak boleh lagi jualan sendiri-sendiri ke luar negeri. Semua produk sawit dan batu bara harus dijual ke Danantara. BUMN itulah yang akan menjualnya ke pembeli di luar negeri.

Dor!

Pasar pasti guncang. Tapi rakyat di desa tidak makan batu bara dan tidak minum sawit. Yang heboh pasti para pengusaha sawit dan batu bara. Harga saham dua jenis perusahaan itu langsung terjun bebas.

Dor! Dor! Dor!

Presiden Prabowo kelihatan firmed saat berpidato. Seperti sudah memperhitungkan semua risikonya. Tidak pula perlu tes gelombang. Sebelum berpidato presiden sudah menandatangani peraturan pemerintah yang mengatur soal itu. Berarti aturan tersebut harus langsung dijalankan.

Saya rasa peraturan pemerintah itu bersandar pada UUD 1945. Berlandaskan konstitusi negara. Presiden sampai menayangkan bunyi pasal 33 konstitusi kita. "Bahasa Indonesia di pasal 33 itu sangat jelas. Tidak perlu ditafsirkan," ujar Presiden.

Sejak UUD 45 berlaku, rasanya baru Presiden Prabowo yang berani menerapkannya. Presiden-presiden sebelumnya seperti ragu: apakah pasal 33 itu bisa benar-benar dilaksanakan di dunia nyata. Misalnya: bahwa seluruh kekayaan alam adalah milik negara dan harus digunakan sebesar-besar kemakmuran negara.

Praktik yang terjadi selama ini: kekayaan alam adalah milik perusahaan. Baik swasta maupun BUMN. Mereka mendapatkan izin dari pemerintah. Setelah itu terserah perusahaan: mau dijual ke mana hasilnya. Praktik ini sudah berlangsung sejak presiden siapa pun. Tidak ada yang berani mengubahnya.

Pun soal asas ekonomi, yang menurut UUD 1945, harus berdasar kekeluargaan. Tidak ada presiden yang berani menjalankannya. Ekonomi kita berganti-ganti asas –tanpa ada yang merasa itu melanggar UUD 1945.

Di zaman Bung Karno asas ekonomi kita adalah ''ekonomi terpimpin''. Ekonomi harus jadi alat revolusi. Hasilnya, Anda sudah tahu: Indonesia dilanda kelaparan. Ekonomi kita hancur. Inflasi tidak terkendali. Sandang dan pangan sangat langka.

Presiden Soeharto mengubah asas ekonomi menjadi tanpa nama. Tapi Anda tahu: praktik ekonomi di masa Orde Baru adalah kapitalistik. Liberal tapi mengenal subsidi untuk BBM dan beberapa komoditas.

Di zaman Pak Harto pula lahir UU Penanaman Modal Asing –tanpa sedikit pun sungkan dengan pasal 33 UUD 1945.

Tidak ada orang yang berani mempersoalkan bahwa asas ekonomi Orde Baru bertentangan dengan UUD 1945. Itu karena rakyat bisa menikmati hasil pembangunan ekonomi Orde Baru. Beras melimpah –kita pernah swasembada beras di zaman Pak Harto. Sandang berlebih-lebih. Perumahan rakyat terus dibangun lewat Perumnas.

Rasanya hanya Prof Dr Mubyarto yang ngotot agar asas ekonomi kita berbasis ''ekonomi Pancasila''. Tapi guru besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu kalah angin dengan yang sedang berkuasa.

Di luar Prof Mubi juga banyak ahli yang menyorot sisi lemah model ekonomi Orde Baru tanpa mereka minta ganti asas. Sisi lemah itu: melebarnya kesenjangan kaya-miskin.

Koperasi pernah dibangun besar-besaran di zaman Pak Harto: Koperasi Unit Desa (KUD). Meski namanya Unit Desa tapi hanya ada satu KUD di satu kecamatan. Hasilnya: gagal total. Badannya koperasi tapi isinya kapitalistis. Semua KUD bangkrut. Koperasi kalah efisien dari praktik kapitalisme.

Setelah itu tidak ada lagi yang berani menempuh jalan non kapitalistik. Apalagi gerakan Swadeshi di India juga mengakibatkan negara itu hampir bangkrut. Ditambah lagi negara-negara yang menganut sosialisme gagal: Uni Soviet tercerai-berai. Korut jatuh ke kemiskinan yang abadi. Pun Kuba.

Kini Prabowo tidak hanya menembak kapitalisme, tapi menjatuhkan bom. Ledakannya besar. Guncangannya bisa seperti gempa bumi. Asapnya bisa bikin sesak di mana-mana.

Tapi Prabowo hanyalah menjalankan UUD 1945. Ia mengatakan di DPR kemarin: "saya disumpah di tempat ini untuk menjalankan UUD 1945"

Bukan sekadar sumpah. Prabowo berkeyakinan cara yang selama ini dilaksanakan tidak bisa membuat Indonesia menjadi negara maju. Selama tujuh tahun terakhir jumlah orang miskin justru bertambah. Jumlah penduduk kelas menengah turun.

Prabowo juga heran: dengan tumbuh 5 persen setiap tahun, selama tujuh tahun, seharusnya Indonesia kini lebih kaya 35 persen (5x7). Kok tidak. Berarti ada yang salah. Kekayaan kita mengalir ke luar negeri. Lewat mana? Prabowo menyebut lewat tiga cara: transfer pricing, under invoicing, dan curang di volume.

Presiden merasa seperti dipukul di ulu hati: harusnya pendapatan negara sangat besar. Akibat praktik itu rasio pendapatan kita dengan GDB hanya 11 persen. "Kamboja saja 15 persen. Kita kalah dengan Filipina apalagi Meksiko," katanya.

Itulah yang mendasari keputusan drastis Prabowo kemarin: semua ekspor sawit dan batu bara harus lewat Danantara. Dengan demikian tidak akan ada under-pricing dan transfer pricing.

Dengan demikian Danantara akan jadi eksporter terbesar di Indonesia. Semua dolar hasil ekspor masuk Danantara. Tidak ada dolar yang ditahan di luar negeri.

Memang rincian putusan ini belum dijelaskan. Misalnya apakah perusahaan sawit harus menyerahkan hasilnya ke Danantara. Kan Danantara tidak punya gudang dan tangki CPO. Demikian juga batu bara: apakah Danantara juga yang cari kapal pengangkut.

Lalu berapa Danantara akan membayar harga hasil sawit ke perusahaan sawit? Berapa pula Danantara membeli batu bara dari perusahaan tambang batu bara? Belum lagi bagaimana cara pembayarannya.

Belum jelas juga anak perusahaan Danantara yang mana yang akan menjadi eksporter sawit dan batu bara. Apakah mereka bisa mencari pembeli sebagus yang dilakukan swasta.

Pokoknya dua komoditas itu kini dikuasai negara dulu. Jangan-jangan penetapan harga beli Danantara nanti pakai rumus cost plus. Atau cost plus plus. Berapa biaya produksi ditambah keuntungan yang wajar.

Belum tahu juga bagaimana kalau perusahaan sawit itu sudah terikat kontrak jangka panjang. Atau sudah diagunkan ke bank.

Keputusan besar baru saja diambil oleh Presiden Prabowo. Keputusan besar dengan resiko besar. Mungkin ekonomi kita akan kokoh ke depan. Mungkin juga sebaliknya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 20 Mei 2026: Rujak Ambon

Abu Faiz

kenapa ya, sistem di komentar CHD ini kok susah utk copipaste.. jadi menyulitkan. padahal konsep dan semanagat "jika bisa mudah kenapa dipersulit?" justru ada dalam isi tulisan2 CHD. Ironi.

Sulaspin

Mohon dimaafkan kalau keliru. Karena kerterbatasan referensi. Pertama kali dalam sejarah, Presiden menghadiri sidang pleno DPR. Dengan agenda : penyampaian kerangka makro ekonomi th 2027. Banyak pihak menunggu. Diliputi berbagai perasaan. Takut. Kuatir. Cemas. Berdebar-debar. Layaknya fans Arsenal, menanti hasil akhir pertandingan Man city lawan musuhnya. Hasilnya happy ending bagi Arsenal. Akhirnya setelah penantian panjang, Arsenal juara liga inggris 2025/2026. Mudah2 an pidato presiden kali ini, bisa happy ending. Paling tidak bisa menenangkan rakyat. Bisa menjawab dan merespon berbagai keraguan dari berbagai kalangan. Akademisi, ekonom, pakar keuangan, pengamat ekonomi, dunia kampus mahasiswa, anallis pasar modal dst. Juga bisa menenangkan investor dan pelaku pasar modal. Rakyat pedesaan akan menyimak pidato presiden hari ini, dengan tersenyum. Sambil ngopi diwarung. Ditemani singkong goreng dan jagung rebus sama pisang rebus.

Er Gham 2

Dulu, mencoba rujak di pantai natsepa adalah saat selesai tugas di Pulau Seram. Dari dermaga Tulehu, mampir dulu makan rujak sebelum sampai Ambon. Rujak buah dengan campuran kacang tumbuk yang royal. Biasanya campuran kacang di rujak buah Pulau Jawa hanya sekedar pemanis saja.

djokoLodang

-o-- Popok Beruk *) Sejatinya, dibanding masa kecil dulu sekitar tahun 1960an, kehidupan kita sekarang ini sudah mengalami banyak kemajuan. Silakan simak lagu pada jaman itu. "Popok beruk keli", dibawakan Waldjinah --maestro tembang klasik jawa. https://www.youtube.com/watch?v=jlFt4iFdmQU Tembang itu terkait dongeng yang sering diceritakan nenek pengasuhku menjelang aku tidur. Kisah seorang gadis cilik yang mencuci pakaian milik majikannyi di sungai. Ada yang hanyut terbawa arus --popok beruk. Dia menyusuri sungai untuk menemukannya kembali. Bertanya kepada bapak-bapak yang sedang memandikan sapi, kerbau, tetapi mereka semua tidak melihat popok-beruk yang hanyut itu. Akhirnya, bertemu dengan nenek-nenek yang sedang mencuci beras. "Ni Nini sing mususi ngriku nopo enten popok beruk keli popoke limaran nggih sulaman beruke cengkir gading kir ukiran." dijawab Nini: "Oo iya, nduk. Ana, nduk. Tak wenehke kowe ya, nduk. Ning,... ning... apa kowe gelem dipek anak ki kaki buto..." *) Waktu itu, aku kok merasa wajar saja mendengar kisah itu. Mencuci baju di sungai. Belum terpikir apakah saat itu belum cukup ada fasilitas air bersih di rumah sampai-sampai mencuci beras pun dilakukan di sungai? ~ Dan, apakah masuk akal demi memperoleh kembali popok-beruk yang hanyut, gadis kecil itu rela diangkat anak oleh raksasa buto ijo? *) Setelah beranjak dewasa, baru aku menyadari bahwa di balik dongeng itu tersimpan "sanepa" . Petuah untuk melakoni hidup. --0-

Irary Sadar

Yang biasa berpergian menggunakan kapal ferry biasanya faham akan hal ini. Kalau naik ferry jangan pilih yag diatas, apalagi yang bagian depan. Sudah didepan, diatas lagi. Anda akan alami apa yang dirasakan oleh 'Bos Sesuatu' itu. Dan juga kalau naik speedboat jangan pilih duduk dibagian depan dekat kemudi kapten, jika ombak kuat. Anda seperti di banting-banting. Bikin dada cepat bergemuruh... Tentu ini tips hanya untuk yang tidak selalu naik kapal, beda cerita jika dia ABK atau nelayan...

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KURSI MAHAL DAN FILSAFAT BURITAN.. Bagian terbaik tulisan ini justru bukan rujaknya. Bukan pula hotel bergaya VOC. Tapi kursi kapal. Bang Dahlan membeli tiket paling mahal. Logikanya benar. Posisi atas-depan pasti terbaik. Ternyata salah total. Justru paling dihajar ombak. Paling membuat kepala goyang seperti harga cabai. Lalu ditemukanlah kebenaran hidup itu: bagian bawah-belakang lebih damai. Bisa menulis. Bisa podcast. Bisa menikmati laut tanpa drama lambung. Saya langsung teringat kehidupan modern. Banyak orang berebut kursi depan. Jabatan depan. Meja depan. Mobil paling depan. Padahal makin depan sering makin banyak guncangan. Kadang hidup yang nyaman justru ada di “kelas ekonomi”. Anginnya lebih jujur. Lautnya lebih terasa. Tulisan ini diam-diam menyindir gaya hidup kita hari ini. Semua ingin premium. Semua ingin prioritas. Padahal ketenangan sering bersembunyi di buritan. Dan khas Bang Dahlan: pelajaran hidup itu tidak datang dari seminar motivasi. Tapi dari kapal cepat Tulehu-Banda. Yang membuat saya makin yakin: ombak ternyata guru manajemen yang sangat murah.

Irary Sadar

@Pak Agus, Sampai sampai ada anekdot begini: - Sekali dia berpidato, pasien konsultasi Psikiater bertambah. - Sekali dia berpidato, obat Aspirin laku keras. - Sekali dia berpidato, kiamat dipercepat 1 hari. Hehehe, ada-ada saja netizen...

Indra Hungih

Utk lebih mengenali pulau ambon anda hrs sewa motor utk mengelilinginya, bs dimulai dari arah belakang bandara bisa tembus sampe Benteng Amsterdam trus sampe pantai Natsepa... disepanjang jalan anda akan merasakann suasana tenang desa, pemandangan alam yg indah, moment tdk terduga lainnya

M Gathmir

Irian Barat waktu itu masih dikuasai Belanda, dan Sultan Tidore punya Opsi untuk Tidore masuk bagian Belanda (karena ditawari), berdiri sendiri atau bergabung dengan Indonesia. Tapi lebih memilih bergabung dgn Indonesia yg akhirnya Gubernur pertam Irian Barat adalah Sultan Zainal Abidin Syah dengan Ibu kota Propinsi di Tidore (gedung bekas kantor Gub Irian Barat masih ada dan dipelihara dengan baik) Melihat sejarah Tidore dan Ternate yg begitu elegan, menjadi pertanyaan kenapa Prop Maluku ibukotanya di Ambon? Analisa asal2an Sy, Orde Baru mau menghapus sejarah dimana Pres Soekarno terlibat disitu. Silahkan mungkin ada yg lebih tahu.

M Gathmir

Abah & Bapak Ibu, mungkin ada yg bisa menjelaskan mengapa pemerintah menetapkan Ambon sebagai ibukota propinsi Maluku (waktu itu Maluku + Maluku Utara), mengapa tidak Tidore atau Ternate. Waktu SD pelajaran sejarah tentang bangsa eropa pertama kali ke Indonesia adalah Portugis 1512 dilanjutkan Spanyol 1521 ke Maluku dgn Konotasi Ambon, padahal Portugis ke Ternate sedangkan Spanyol ke Tidore. Kedua negara tersebut penguasa dunia waktu itu dan melakukan perjalanan mencari rempah berdasarkan perjanjian Tordesilles yang membagi wilayah dunia menjadi 2 yaitu arah Barat untuk Portugis dan arah Timur untuk Spanyol dgn titik awal Verde Cape (Afrika Barat), waktu itu tidak ada yg tahu ujungnya dimana. Portugis arah barat melalui India, Malaka sampai Ternate. Spanyol arah timur melalui selat Magellhen, nyampai Filipina berakahir di Tidore dan pulang membawa 3 Ton cengkeh dan sekarang diperingati sebagai Hari Rempah Nasional. Nah waktu Spanyol sampai ke Tidore, Portugis protes karena menganggap tidak mematuhi perjanjian Tordesilles. Spanyol memberikan klarifikasi kalau mereka mencapat Tidore melalui jalur Timur yg sdh disepakati, disitulah baru disadari bahwa BUMI ITU BULAT (secara teori sdh diakui sejak lama, tapi prakteknya baru tahu waktu expedisi mencari rempah). Sejarah kedua tentang Irian Barat, Kesultana Tidore pada masanya menguasai Tidore, Ambon, Papua sampai kepulauan Salomon. Presiden Soekarno 2 atau 3x ke Tidore bertemu dgn Sultan Tidore pada waktu perebutan Irian Barat.

Bahtiar HS

Pak @Agus SIii, Kita hargai apa yg Bpk Presiden sampaikan. Kita rakyat ini kan hanya minta satu hal saja: apa yg diomonkan, apa ygvdirencanakan, coba dijalankan dengan semangat dan kongsisten. Jangan meniru siapa itu, apa yg dilakukan adalah kebalikan yg diomonkan. Presiden menekankan disiplin fiskal. Negara tidak boleh boros. Utang harus dijaga. Belanja negara harus tepat sasaran. Bahasa gampangnya: jangan sampai pengeluaran lebih galak daripada pemasukan --- Nah coba ini saja dijalankan dg kongsisten. Insya Allah akan bisa membalik keadaan. Kita lihat saja dalam waktu bbrp hari lagi, apakah ada perjalanan ke luar negeri lagi. Bawa Maung dg pesawat terpisah lagi. Sambil rayain ultah siapa lagi. Lalu utang nambah lagi. Kurs Rupiah naik lagi. Lalu bawa2 orang desa lagi. Banyak ekonom sdh memprediksi, jk Rupiah tak terkendali hingga 22.000 per USD, pemerintah sangat mungkin akan jatuh.

Bahtiar HS

Tidak dapat seat pesawat tidak masalah. Masih ada kapal dari Ambon ke Banda. Tinggal pilih. Kapal Pelni sembilan jam. Ada kapal kayu: 12 jam. Saya pilih kapal cepat: lima jam. Hemmmm. Ada rasa --minjam istilah Cak Mul-- "ngece" dlm kalimat Abah di paragraf 5 ini. Pilihannya 9 dan 12 jam. Tapi Abah pilih yg 5 jam. Kapal cepat. Ini spt disuruh milih: kakaknya atau adiknya? Eh tibake milih emak-nya :)) Hal yg serupa mau diulang, tp belum tuntas pd paragraf 9: Tiba di kantor Cantika kami bisa pilih kursi. Ada tiga pilihan: Rp 500.000, Rp 750.000, dan Rp 1 juta... Dan Abah blm memilih pd paragraf ini. Mungkin sejatinya Abah akan menulis (se-ngece sebelumnya) ... Saya pilih tiket yg Rp 2,5 juta. Dapat Kabin untuk kelas terbaik, yg ada di bagian atas-depan kapal. Mungkin karena kemudian menyesal, beliau tidak jadi menulis harga yg mana yg dipilih-- krn ternyata penuh goyangan ombak. Akhirnya pindah ke buritan. Begitulah kalau kantong kelas kabin terbaik, tp badan kelas buritan dg dek terbuka; kumpul bersama yg isi dompetnya 5 lembar nominal 2000an. Lbh tenang, bs nulis banyak dan podcast Dismorning dg Sasa hanyalah alasan. Sy bs membayangkan itu krn thn 1997 sy pernah naik kapal dari Banjarmasin ke Tj Perak Surabaya. Pas keluar di Sungai Barito kapal kandas menabrak lumpur. Miring semalaman. Nunggu pasang esok hari, baru lanjut membelah Laut Jawa. Praktis 3 harian dpt goyangan ombak di atas kapal. Yg goyangan itu msh terasa hingga 7 harian setelah mendarat di Surabaya.

Jokosp Sp

Saya duduk bersebelahan dengan teman sekamar yang kebetulan sudah dua kali ini naik haji. Jam 02.30 kami sudah di posisi tengah Mesjid Nabawi. Di samping kami sudah duduk seorang arab yang dikenali sekilas dari bentuk wajah dan jenggotnya, juga pakaiannya. Terdengar si arab membaca do'a dalam bhs arab dengan sangat lembut, fasih dan enak didengar. Bacaan do'a yang dilakukan dari layar di HP nya. Tiba-tiba terdengar bacaan do'anya lebih keras dari sebelumnya, kami terkejut dan tak bisa untuk tidak menoleh dan memperhatikan layar di hpnya. "Astafirullah..... ternyata sedang live video call mungkin dengan istrinya". Kamipun berdua cuma bisa saling pandang, dan setelah selesai keluar baru bisa tersenyum, "HP.... di dalamnya apapun ada".

MULYADI PEGE

Melintas di jalan toll. Kami sudah siap dengan garam di saku celana masing-masing. Kami kupas kulitnya kami potong kecil-kecil dagingnya lalu kami cocol garam dan kami makan. Waww sensasi asamnya dominan tapi segar. Mata kami kesua memicing sambil mengepal tangan menahannya, lalu coba lagi, coba lagi dan tertawa bersama sama. Kami tidak peduli, kalau pagi itu semua belum sarapan. Oh indahnya. Terima kasih pak yayi, semoga pak yayi damai di syurgaNya. Amiin.

MULYADI PEGE

Lima hari CHDI menulis tentang pulau banda dengan buah palanya yg sejuta manfaat, saya jadi teringat kenangan masa kecil, tahun 1988. sewaktu mondok di ponpes Daarul Ulum Bantar Kemang Bogor. Ajengan saya memang Tuna Netra tapi mata hatinya begitu tajam. Saya ingat setiap hari Jumat pagi (sekolah libur setiap hari Jumat) kami diwajibkan olah raga dengan berlari menanjak ke arah timur sepanjang 5 km., jalurnya sangat indah, disisi kiri aliran sungai anak Ciliwung yg berhulu di gunung cisalak, dan sisi kanannya hutan bambu dan pertanian warga, begitupun sebaliknya. Jalur itu berakhir di pintu loket toll Ciawi. Tahun itu jalur toll yg menuju puncak. Belum dibuat. Ajengan saya Alm KH. Elon suja'i mempunyai kebun seluas 5000m2 persis di sebelah pintu toll tersebut. Kebun itu ditanami pohon pala dan ada beberapa empang ikan mujair dan mas yang airnya mengalir masuk dan keluar secara alami. Setelah satu jam menelusuri jalur yang indah tadi, kami diharuskan mampir ke kebun tersebut untuk membersihkan gulma yang mengganggu. Moment itu adalah yang selalu saya tunggu, sebab itu adalah kesempatan saya untuk melepas rasa penat belajar selama seminggu.. Kegiatan mencabut gulma tidaklah memakan waktu lama, hanya sekedar agar kami merasakan sirnya bertani, karena kebun itu ada yang khusus merawatnya. Moment yg paling saya tunggu adalah semua santri boleh memetik buah pala yang sudah masak. Setelah itu kami duduk-duduk sambil melihat, menghitung, dan mengenali merk-merk mobil yang

Liam Then

Tionghoa di Indonesia sudah jarang pakai minyak babi, bahkan yang totok kayak di Pontianak atau Singkawang... Sebabnya? Minyak babi, muahaaaal sekali...

Gregorius Indiarto

"Jangan baca lanjutan cerita perjalanan saya ke kepulauan Banda pagi ini. Ada kejadian yang lebih penting: ada sidang pleno DPR pukul 09.00 hari ini", sampai disini lebih sedikit, ganti cari berita tentang pidato presiden. Berat,...tinggi,...ora nyandak. Lanjut baca CHD, dan berhayal, berandai-andai, asal, seandainya pulau Rhun dijajah Inggris lebih lama, bisa jadi pulau Rhun jadi seperti Hongkong, dan akan sulit atau tidak bisa menemukan lagi rujak Ambon, yang salah satu bahannya dari buah pala yang diambil dari pulau Rhun. Ah,...pala kan tidak hanya tumbuh di pulau Rhun. Ah,...namanya juga berhayal, boleh tidak jelas. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.

Er Gham 2

Kok ada dapur yang berlokasi di dalam area sekolah swasta elit dan mahal. Dari SD sampai SMA. Juga pasti melayani sekolah lain di sekitarnya. Pintar juga ketua yayasannya.

pak tani

Kenapa ya banyak yang kontra dengan MBG ? Sebagai penikmat MBG, saya justru mendukung. Meskipun kadang bosan dengan variasi menunya. Tapi ini bagian dari mensyukuri nikmat yang ada. 1 level lebih rendah dibanding school of suffering ajaran cucu pak Bos. Apapun menu MBG nya, sikat saja. Banyak manfaat dan nikmat nya menurut saya. Jangan sampai tersisa..., pamali!! Bisa panjang urusannya. Pak Bos pun saya yakin mendukung dan menikmati MBG. Cuma malu2 saja berterus terang, takut dicurigai memiliki banyak dapur. Akhir kata. MBG maju terus!! ** MBG = Masakan Bini Gue ** #habiskan #damai itu indah

Er Gham 2

Jika satu sekolah setingkat sma ada 600 siswa, dari kelas satu sampai kelas tiga. Misalkan, masing masing angkatan ada 200 orang. Lalu saat ini kelas tiganya sudah libur selama dua bulan karena tinggal menunggu hasil tes seleksi perguruan tinggi. Apakah pencairan budget dari BGN ke dapur sppg masih tetap untuk anggaran 600 siswa. Siapa yang monitor hal ini. Ini seharusnya menjadi pengurang biaya MBG. Sehingga ada penghematan. Tinggal dikali berapa puluh ribu sma/smk/ma.

doni wj

VOC - Veerenigde Oostindische Compagnie atau Perserikatan Dagang Hindia Timur adalah perusahaan swasta. Keterlibatan para pihak yg ada di situ diwakili lewat penguasaan saham. Termasuk Kerajaan Belanda. Namun ia diberi keistimewaan untuk punya tentara dan mata uang sendiri. Sehingga kuasanya tak kalah dan bahkan lebih gesit dibanding negara. Sebagai kanak-kanak yg tumbuh besar di Jawa, memori kolektif tentang penjajahan dan segala tingkah polah beserta atribut -atribut yg mewakili imperialisme kolonial diwariskan turun-temurun lewat sebuah idiom yg mewakili hal2 tersebut. Entah dg daerah lain. Di Jawa, mendengar kata "Kompeni" akan memicu sebuah nuansa emosional tertentu: licik, menekan, manipulatif, biadab, dan sederet predikat buruk lain. "Woo.. dasar kompeni!!" adalah frasa yg akrab terdengar dan dimengerti di keseharian orang dewasa hingga anak2. Lebih dulu daripada pelajaran IPS SD yg mengajarkan kepanjangan VOC yg keriting beserta tgl pendiriannya yg pasti keluar di ulangan. Syukurlah tanggal pendiriannya sama dengan ulang tahun saya. Ayem2, minimal sudah benar satu soal.. wkwkwkwk Maka harga yg tidak terlalu VOC untuk bermalam di Cilu Bintang Estate juga berarti tinggal dan merasakan ambien Kompeni tanpa tagihan yg terlalu Kompeni

Thamrin Dahlan YPTD

Selamat sore Pak Mario. Terima kasih meng ingat kan komentar disini. Saya beberapa hari ini menyibukkan diri wara wiri ke Palembang. Sehingga sering ketinggalan kereta dismorning dan disway. Ngaku kalah dengan Abah tentang kemampuan tetap konsisten menulis sesibuk apapun. Sebenarnya beda usia 75 dan 74 antara sesama Dahlan bukan jadi alasan kslah berlomba lari literasi. Namun kenyataan stamina Abah melebihi rerata lansia.Ya sudah sekarang ngisi Absen Perusuh soal rujak dan judul disway 3 hari lalu tentang Ambon manise yang terlewatkan Sesuai anjuran sekarang memantau berita Harkitnas. terkait kebijakan ekonomi Semoga baik baik saja Indonesia Raya Salamsalaman

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BAGEA, MAKANAN TRADISIONAL KHAS AMBON.. Di Ambon, bagea bukan sekadar kue. Ia bagian dari kenangan. Bagian dari hidup orang Maluku. Makanan tradisional khas Ambon ini dibuat dari tepung sagu. Bentuknya kecil. Bulat. Warnanya sederhana. Tapi kerasnya terkenal ke mana-mana. Kalau dicampur kenari, teksturnya lebih lunak. Lebih harum juga. Ada rasa gurih samar yang khas. Kenari memang sahabat baik bagi bagea. Seperti kopi dan pagi hari: cocok. Dulu, tahun 70-an, saat gaji saya masih pas-pasan, saya pernah membeli bagea untuk oleh-oleh dua keponakan. Laki-laki. Umur 6 dan 8 tahun. Waktu itu saya merasa harga bagea lumayan mahal. Maka saya beli dengan perasaan sayang sekaligus bangga. Eh, sampai rumah, bagea itu malah dipakai main lempar-lemparan. Karena keras. Saya sedih. Bukan karena kuenya. Tapi karena di tiap bagea itu ada perjuangan kecil. Ada uang yang disisihkan pelan-pelan. Ada rasa ingin membahagiakan keluarga. Anak kecil memang belum mengerti. Mereka tahunya: kalau keras, ya dilempar.

Layanan Pelanggan

Untuk membuka blokir BALE btn, hubungi WhatsApp Call Center Bank btn di +62877 25919=249, atau +62 812=5551=1168 kunjungi cabang Bank BTN terdekat untuk menyampaikan kronologi Anda. Anda akan diminta mempersiapkan dokumen identitas (seperti KTP) dan bukti kepemilikan rekening. Jika pemblokiran terkait masalah teknis atau keamanan, prosedur pembukaan blokir akan lebih mudah, namun jika pemblokiran terkait kasus hukum atau perintah dari lembaga yang berwenang (seperti PPATK), prosesnya akan lebih kompleks dan memerlukan pengisian formulir serta verifikasi data di kantor bank

Kategori :