Presiden dan Para Pengolok

Kamis 18-06-2026,10:21 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Justru karena kekuasaan itu berbahaya, ia harus diawasi. Karena kekuasaan dapat menyimpang, ia harus dibatasi. Karena kekuasaan bisa salah, ia harus dipertanyakan.

Tetapi kritik yang sehat memerlukan kerja berpikir. Ia membutuhkan argumen, data, dan keberanian intelektual. Sedangkan olok-olok hanya memerlukan jempol dan koneksi internet.

Kritik berusaha memperbaiki. Ejekan hanya berusaha menghibur. Kritik melahirkan warga negara.

Olok-olok melahirkan penonton. Dan mungkin di situlah tragedi terbesar republik ini. Kita ingin memiliki presiden yang hebat, tetapi terlalu malas menjadi rakyat yang dewasa.

Kita menuntut negarawan, tetapi lebih menikmati badut. Kita meminta kepemimpinan yang bermartabat, sambil bertepuk tangan pada penghinaan yang murahan.

BACA JUGA:Tren Wisata Bahari 'Open Trip' Lombok–Komodo Makin Diminati Wisatawan Domestik dan Mancanegara

Lalu ketika kualitas percakapan publik menurun, kita bertanya-tanya dengan wajah polos: "Mengapa bangsa ini sulit maju?"

Padahal jawabannya mungkin sedang tertawa bersama kita. Sebab republik ini, tampaknya, bukan kekurangan presiden. Republik ini hanya terlalu kaya akan penggemar olok-olok.

Dan seperti semua penggemar hiburan, mereka memiliki satu ketakutan terbesar. Bukan takut kehilangan demokrasi. Bukan takut kehilangan keadilan. Melainkan takut kehabisan bahan lelucon.

Karena bagi sebagian orang, nasib bangsa memang penting. Tetapi bahan meme jauh lebih mendesak.##AS@@.

by: Prof DR Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA 

 

Kategori :