Soeharto juga demikian. Tiga puluh dua tahun kekuasaan yang mengubah wajah ekonomi, sekaligus meninggalkan jejak pembungkaman politik yang panjang, terkadang dipadatkan hanya menjadi satu hal sederhana: senyumnya.
Gus Dur? Ah, beliau bahkan telah berubah menjadi pabrik anekdot nasional. Seorang intelektual, ulama, pembela pluralisme, yang pikirannya melampaui zamannya, sering kali lebih dikenal melalui kumpulan lelucon daripada kumpulan gagasannya.
BACA JUGA:IHSG Diprediksi Melemah Jelang Review MSCI, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini
Megawati dianggap terlalu diam. SBY terlalu banyak bernyanyi. Jokowi terlalu "ndeso". Prabowo terlalu berapi-api.
Kesalahan terbesar seorang presiden di republik ini tampaknya bukan korupsi, bukan pelanggaran konstitusi, bahkan bukan kebijakan yang buruk.
Kesalahan terbesar mereka adalah memiliki kepribadian.
Sebab rakyat kita ternyata lebih mudah memaafkan kebijakan yang salah daripada gaya bicara yang tidak sesuai selera. Yang menarik, orang-orang yang paling gemar mengejek presiden sering kali adalah mereka yang paling sensitif jika dirinya dikritik.
Mereka dapat menertawakan kepala negara selama berjam-jam, tetapi menjadi tersinggung selama berminggu-minggu hanya karena tetangganya mengatakan bahwa kopi buatannya terlalu manis.
Mereka dapat menyebut presiden bodoh dengan penuh keyakinan, tetapi panik ketika diminta menjelaskan apa itu APBN, inflasi, defisit fiskal, atau geopolitik.
Bagi mereka, pengetahuan memang tidak terlalu penting, yang penting percaya diri, dan memang, kepercayaan diri adalah sumber daya alam terbesar republik ini.
Di media sosial, ribuan orang berlomba menjadi hakim sejarah. Mereka mengadili presiden dengan modal video dua puluh detik dan gelar doktor dari Universitas Katanya.
BACA JUGA:Tren Wisata Bahari 'Open Trip' Lombok–Komodo Makin Diminati Wisatawan Domestik dan Mancanegara
Mereka tidak membaca laporan. Tidak mempelajari data. Tidak memahami konteks. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih penting daripada itu semua: kuota internet.
Barangkali inilah bentuk demokrasi yang paling kreatif, dahulu para filsuf Yunani membayangkan warga negara berdiskusi mengenai keadilan, etika, dan masa depan polis.
Sementara warga republik modern lebih sibuk memperdebatkan bentuk senyum presiden dan warna bajunya.
Mungkin Plato tidak pernah membayangkan bahwa peradaban manusia akhirnya mencapai tahap ketika meme memiliki pengaruh lebih besar daripada buku. Namun, tentu saja presiden harus dikritik.