Azka memilih University of Amsterdam, Belanda, untuk menempuh studi Human Geography and Planning.
Sebuah pilihan yang menunjukkan kedewasaan: ia tidak sekadar mengejar gengsi, tetapi ingin memahami manusia, ruang, budaya, dan arah pembangunan masa depan adalah sebuah kunci daya saing suatu bangsa.
BACA JUGA:Tak Menyerah pada Keadaan, Rafly Buktikan Mimpi Bisa Dicapai Lewat Sekolah Garuda
Namun sebelum ia menjadi "buruan" kampus-kampus top dunia, Azka adalah seorang santri.
Ia adalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor—pesantren legendaris yang dikenal dengan disiplin tinggi, penguasaan bahasa asing, dan kaderisasi pemimpin bangsa.
Dari Gontor, Azka membawa bekal kedisiplinan dan kemandirian. Dari SMA Pradita Dirgantara, ia mendapat wawasan global dan bimbingan karakter ala TNI AU.
Perpaduan dua dunia inilah yang melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kokoh secara moral.
BACA JUGA:Mama Papua Optimistis Anaknya Bisa Kuliah di Luar Negeri Berkat Sekolah Garuda
65 dari 101 Siswa Tembus Beasiswa Luar Negeri!
Keberhasilan Azka bukan satu-satunya kabar baik.
Dari 101 siswa kelas XII tahun ini, 65 di antaranya (64,35%) berhasil meraih Beasiswa Garuda LPDP—program beasiswa S1 gratis ke luar negeri yang diluncurkan pemerintah Prabowo.
Beasiswa ini mencakup biaya pendidikan, transportasi, visa, asuransi kesehatan, biaya hidup bulanan, hingga dana darurat.
Ini bukan sekolah biasa. Ini adalah "pabrik" pemimpin masa depan yang disiapkan untuk menjemput Indonesia Emas 2045.
BACA JUGA:Ada Sekolah Garuda, Guru Harap Anak Tidak Mampu Juga Bisa Kuliah di Luar Negeri
Meski memiliki 30 tawaran, perjalanan Azka tidak mulus-mulus amat. Belanda saat ini dilanda krisis perumahan parah dengan kekurangan lebih dari 410.000 hunian.
Mahasiswa dan ekspatriat adalah kelompok yang paling terdampak. Universitas di sana tidak menyediakan asrama. Mereka harus mencari sendiri tempat tinggal.
"Kasus Azka ini membuka mata kita. Anak-anak SMA yang baru lulus dan mendapat beasiswa ke luar negeri, apalagi yang masih di bawah umur, butuh perhatian khusus. Universitas di sana tidak menyediakan asrama. Mereka harus mencari sendiri tempat tinggal di tengah krisis hunian. Ini sangat berat, apalagi untuk anak seusia Azka," ujar Dr. Rachma Fitriati, M.Si, M.Si (Han)—dosen FIA UI sekaligus ibu Azka.