JAKARTA, DISWAY.ID-- Mahasiswa Trisakti mulai bergerak menuju Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juni 2026, sekira pukul 14.30 WIB.
Para pengendara diharapkan menghindari Jalan Kyai Tapa hingga Jalan Letjen. S Parman agar terhindar dari kemacetan panjang.
BACA JUGA:Sosok Rahadian Saputra Pria Pakai Kebaya Ikut Kirab 1 Suro, Kini Klarifikasi dan Minta Maaf
Sebab, ratusan mahasiswa tampak berkonvoi memadati jalan menggunakan kendaraan roda dua hingga mini bus.
Berdasarkan pantauan Disway di lokasi, tidak hanya mahasiswa Universitas Trisakti yang turun ke jalan. Terlihat pula almamater mahasiswa Universitas Esa Unggul.
Mereka berbondong-bondong kumpul di depan Tugu 12 Mei Reformasi, area Trisakti, Jakarta Barat, untuk bergerak bersama menuju Gedung DPR/MPR RI.
BACA JUGA:Hasil FP1 Moto3 Ceko 2026: Hakim Danish Menggila, Veda Ega Pratama Tercecer di P22
Ratusan Mahasiswa Trisakti Turun Ke Jalan, Bawa 3 Tuntutan Ini
Sekitar 700 mahasiswa Universitas Trisakti akan menggelar demo bertajuk Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juni 2026.
Perwakilan mahasiswa sekaligus Menteri Luar Negeri Kepresma Trisakti, Arief Rizquna mengatakan keputusan itu telah sesuai dengan hasil konsolidasi yang dilaksanakan dua hari lalu.
"Mahasiswa yang akan hadir, khususnya hari ini, mulai dari titik Trisakti sampai ke sana nanti, yang berkonsolidasi dengan kita kurang lebih ada sekitar 600 sampai 700 massa," ujarnya, Jumat, 19 Juni 2026.
BACA JUGA:Ada Demo Mahasiswa, Perdagangan IHSG Sesi I Siang Ini Ditutup Melemah 0,73 persen
Arief pun menjelaskan tritura yang akan disuarakan oleh mahasiswa. Pertama, mendesak pemerintah agar segera memulihkan ekonomi dan politik secara nasional.
Kedua, berantas inkompetensi dari pejabat negara yang hari ini marak terjadi. Kemudian, ketiga mengembalikan supremasi sipil.
"Tuntutan yang kita bawa, kita sebut sebagai Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat. Kenapa kita mengklasifikasikan sebagai tiga tuntutan? Karena menurut kami, kalau kita mengklasifikasikan sebuah permasalahan di negara ini, mungkin satu, dua, atau tiga buku pun tidak cukup untuk mengklasifikasikan masalah," jelasnya.