Enak Busuk

Enak Busuk

Ilustrasi Catatan Dahlan Iskan tentang kualitas rasa MBG.--

Tentu ada yang mengeluh: makanan MBG tidak enak. Ada seorang ibu yang bercerita anaknya tidak mau makan makanan MBG. Apakah itu berarti semua makanan MBG tidak enak?

Saya teringat saat makan ke restoran yang belum pernah ke situ sebelumnya. Belum tahu masakannya enak atau tidak. Saya coba satu menu. Tidak enak. Saya pun bercerita ke Galuh Banjar: jangan pesan banyak-banyak. Biasanya, kalau satu menu tidak enak, menu lainnya juga tidak akan enak. Pun sebaliknya.

Anda sudah tahu: enak dan tidak enak itu selera. Anda juga sudah tahu: enak itu belum tentu bergizi, bahkan, belum tentu tidak berbahaya bagi kesehatan.

Sering saya memuji satu masakan di awal: makanan ini enak sekali. Setengah jam setelah makan mulailah menyesal: tenggorokan terasa terganggu. Juga lidah. Tingkat terganggunya tidak seberapa tapi saya langsung merasa tidak perlu lagi ke restoran itu. Saya tidak tahu apa penyebab makanan enak yang berujung tidak enak itu. Mungkin karena terlalu banyak menggunakan vetsin?

Soal MBG enak-tidak-enak itu mungkin belum waktunya dibahas. Bukankah masih terlalu banyak persoalan internal BGN yang lebih prioritas untuk diselesaikan? Maka yang saya tulis hari ini jangan dibaca dulu. Simpan saja. Tidak terlalu penting. Bukan prioritas.

Tapi itu penting untuk kita pahami: tidak enak di satu MBG bukan berarti tidak enak semua. Mana yang lebih banyak? Yang enak atau yang tidak enak? 90:10 untuk menang yang enak? 70:30? Atau 30:70? 10:90?

Yang jelas tidak semua MBG tidak enak. Artinya tidak semua investor berhati busuk. Perkiraan saya, berdasar diskusi dengan para investor, yang busuk itu sekitar 10 persen. Sebenarnya tidak banyak. Tapi bukankah ada pepatah nila setitik rusak susu se Malinda? Maka soal busuk dan keracunan sebaiknya jangan pakai persentase.

Prinsip ”kalau satu menu enak, menu lainnya juga enak” bisa dipakai untuk mencarikan jalan keluar ketidakenakan rasa MBG. Caranya: kumpulkan keluhan ”tidak enak”. Lalu petakan per dapur MBG. Jangan-jangan keluhan tidak enak datang dari dapur MBG tertentu. Itu pun jangan langsung diberi sanksi. Adakan survei kecil-kecilan khusus untuk siswa yang dapat makanan dari dapur tersebut. Serahkan hasil survei ke kepala dapur. Barulah kepala dapur menentukan langkah berikutnya. Terserah mau diapakan.

Untuk melakukan tindakan tidak mudah. Kita sudah terbiasa tidak menganut prinsip meritokrasi.

Harusnya ”meritokrasi” pun perlu dilakukan di level dapur MGB. Kalau antara kepala dapur dan juru masak terjadi hubungan khusus, tentu sulit bagi kepala dapur untuk melakukan penggantian juru masak. Maka hasil survei itu perlu diserahkan ke atasan kepala dapur: agar dipertanyakan mengapa tidak ada tindakan.

Jangan-jangan lebih berat dari itu: masakan tidak enak lantaran bumbunya dikurangi. Bumbu adalah komponen paling mahal dibanding item lain.

Anda sudah tahu kenapa bumbu dikurangi: untuk menekan biaya. Kenapa biaya perlu ditekan pasti karena anggarannya kurang. Bukankah anggarannya cukup?

Cukup. Kalau tidak ada biaya-biaya lain.

Anda sudah tahu: ada kepala dapur yang ingin cari tambahan penghasilan. Caranya: minta uang tambahan ke pemilik dapur MBG. Permintaan itu bervariasi. Ada yang Rp5 juta/bulan. Sampai ada yang minta dibelikan sepeda motor.

Berarti belum tentu tidak enak itu karena kokinya kurang cocok. Kalau di satu area banyak keluhan MBG-nya tidak enak memang kokinya harus dievaluasi. Tapi kepala dapurnya juga perlu diganti.

Korupsi rupanya tidak hanya terjadi di pucuk BGN tapi juga di akarnya.

Kalau kerusakan akar seperti itu terus meluas nilainya bisa sama dengan 74 kg emas. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 4 Agustus 2026: Tanpa Utang

Linggar Baero

Hutang atau utang? Silakan cek di bawah ini: 1. Aku menghutangi Nina. 2. Aku mengutangi Nina.

Johannes Kitono

Ini komentar dari bro Usman LKT Bogor. "Disway Family Constitution Workshop" luar biasa baik pembicara, peserta dan materi workshop nya. Aku fwd liputan workshop tsb (e-paper Harian Disway) kpd dua teman baik, Immanuel Zakaria, owner PT Gandasari Ekasatya, teman sejak th 2000 dan Agus Rahman, owner PT Tiara Agung Pratama, teman sejak th 90an, skrg jadi bosku yg beri nafkah dan tempat tinggal. Tujuannya, kuharap mereka bisa persiapkan "estafet" yg sustainable perusahaan mereka kpd anak/keluarga nya. Itu "doaku" utk mereka. Stay Healthy, Blessed Tuesday. Berkah Dalem Semoga Semuanya Hidup Berbahagia

Warung Faiz

Salah satu dr mereka punya utang Rp140 milyar,seandainya saya yg punya hutang seperti itu dan sanggupnya cuman nyicil Rp.3jt per bulan,berapa kali reinkarnasi biar bisa lunasnya..hh..

Eyang Sabar56

Sudah tiga periode panen durian Montong saya gagal total, bersebab tidak ada dukungan modal/ utang. Sekarang sedang keluar bunga calon buah. Saya ada 115 pohon durian Montong umur 16 tahun. Hitung rata minimal per pohon 10 butir = 1150 butir. Satu butir hitung rata 3,5 kg × 1140 = 4025 kg × Rp.35.000,-/kg = Rp. 140.875.000,- Biaya perawatan s/d panen Rp.30.000.000,-. Keuntungan dibagi dua. Begitulah kurang lebih ringkasan proposal saya ke bank Himbara tempo hari, tapi ditolak. Adakah pengusaha yang siap bantu? Dengan catatan, jaminan tanah dan durian tersebut.

Warung Faiz

Profit is queen..cash flow is king..

Murid SD Inpres

omzet Rp1 miliar itu nett profit nya berapa, harus dibuka transparan. tetangga saya, pengusaha tahu, omzet Rp100 juta per bulan, ternyata margin bersih cuma Rp20 juta. lha kawan abang saya, modal wifi internet Rp200rb per bulan, kulakan di Shopee dan Tokopedia, setiap minggu bisa kantongi margin Rp20 jutaan. tiap pekan. monthly cost Rp200rb, tanpa stok produk tanpa beli mesin tanpa beban sewa kantor tanpa spending biaya karyawan, bersih Rp20 jutaan. terlihat siapa yg lebih sehat.

Warok Ponorogo

Berutang tambah beban tak berutang tak berkembang, kondisi yang sama keadaanya seperti maju kena mundur kena. Kalo sudah mendeklarasikan diri sebagai pengusaha dengan aliran MTR, masyarakat tanpa rimba ada masukan dan sekaligus solusi kondisi ini. Pakai saja, slogannya BPJS, "Dengan gotong royong semuanya tertolong". Wujud kongkritnya, bikin patungan modal dari sesama pengusaha yang sealiran ini, lha wong omzetnya minimal 1 M, maka 6 atau lebih sudah lebih anggota sudah terkumpul modal cukup untuk memulai dan konsisten dengan tanpa ribanya. Untuk pengelolaan dan syarat ketentuannya, pakai prinsip syariah. Dengan prinsip syariah ini, maka akan terhindar dengan riba, gharar (ketidakpastian) dan maisir atau judi. Untuk akadnya disepakati mudharabah (bagi hasil), murabahah (ditalangi dulu), Qardh (pinjaman murni) atau Ijarah (sewa menyewa barang kepemilikan bersama). Bentuknya seperti arisan diantara anggota MRT. Jadi, usaha berkembang dan dakwah juga jalan. Piye nek ngono, sekedar usulan solusi. #Salam Akal Waras#

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Selama utang untuk usaha dan produktif, maka utang tidak menambah beban. Utang justru menambah pemasukan. Itu sudah pasti.

Hasim Ashari

usaha tidak melulu utang ke Bank. banyak usaha yg istilahnya kerja sama(permodalan). contoh ritel indo/alfamaret. dia beli barang dagangan bayarnya ke produsen mundur(bisa 1 minggu-1bulan), sementara jualnya k konsumen cash. ini kan untung besar, belinya gak pakai modal, jualnya dapat cash. apakah produsen mau? banyak yg mau dijualkan barangnya. ini yg dilakukan sahabat Abd. bin auf. tanpa modal bisa jadi kaya raya. adalagi usaha pr order, kalo ada orderan bayar DP, pekerjaan baru dilaksanakan. ini kan juga menguntungkn. ada juga makelar,tanah, rumah. kadang hanya modal abab sudah bisa mempertmukan pnjual dan pmbeli, dapat feee

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Syed Taufik Hidayat.. Setuju. Dalam teori keuangan modern, utang bukan musuh. Bila dikelola secara optimal, utang dapat: 1) menurunkan biaya modal (WACC), 2) memberi manfaat tax shield, dan 3) meningkatkan ROE melalui financial leverage. Itulah sebabnya banyak perusahaan besar menggunakan kombinasi utang dan modal sendiri. Namun teori yang sama juga mengingatkan adanya batas. Utang yang melewati titik optimal justru meningkatkan risiko. Mulai dari beban bunga, gangguan arus kas, hingga potensi gagal bayar. Leverage ibarat pisau bermata dua. 1) Saat hasil usaha lebih tinggi dari bunga pinjaman, ia mempercepat pertumbuhan. 2) Sebaliknya, ketika laba turun, efeknya bisa berbalik menghantam perusahaan. Jadi menurut saya, perdebatan bukan lagi "berutang atau tidak berutang". Melainkan "berapa utang yang optimal". Utang adalah alat, bukan tujuan. Yang menentukan bukan besarnya utang, melainkan: 1) kemampuan mengelola risiko, 2) menjaga disiplin, dan 3) memastikan manfaatnya lebih besar daripada bebannya.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Sebelum masuk ke dalam kelompok anti-riba itu, Abah harus tanya ke ratusan anggotanya itu, berapa persen dari mereka yang status BI-checking-nya sudah kena blacklist? Kalau boleh saya menebak, itu di atas 75%.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Pak Dahlan Iskan diajak isi seminar anti-riba. Saya kuatir. Saya tidak setuju. Abah akan dipengaruhi bahwa pengusaha tak boleh utang bank. Abah pasti dipengaruhi bahwa riba dilarang di Quran. Ditakut-takuti. Bisa saja itu berhasil. Faktanya Abah setuju ikutan isi seminarnya. Makanya saya kuatir. Riba memang dilarang agama. Tapi definisi riba itu yang harusnya kita kaji ulang. Kenapa dulu sampai ada larangan riba? Ini adalah urusan hablumminannas. Pasti ada sebab akibatnya kenapa itu dilarang. Jadi harus kita gali "penambahan" nilai utang yang seperti apa di zaman dulu itu sehingga dilarang. Semoga Abah tidak sampai dijadikan maskot dari anti-riba tersebut sebelum benar-benar klir definisi riba yang dimaksud.

Murid SD Inpres

mohon maaf, saya perlu menggedor kesadaran. riba itu jangan disempitkan sebatas urusan utang kepada institusi perbankan. kita pakai uang fiat / uang kertas pun itu sudah riba! sadar tidak, anda? di dalam uang fiat / uang kertas, sudah terkandung riba nasiah dan riba fadhl ! dari segi intrinsik saja uang kertas itu sudah bermasalah, sedangkan aturan legal islam pertukaran itu harus setara. lha, uang Rp100rb itu nilai intrinsik aslinya apa benar-benar senilai Rp100rb? itu problem pertama. problem kedua, uang kertas itu sejak awal dianggap sebagai cek utang, atas kepemilikan aset emas di bank. itu ketika uang kertas masih menggunakan standar emas. sekarang, ketika uang kertas tidak di-backup emas, utang itu atas nama siapa kepada siapa? tidak jelas! jadi sebetulnya jika ada muslim yg bersuara anti riba, tapi masih menggunakan uang fiat / uang digital / uang kertas, maaf, yg bersangkutan masih amat sangat ignorant bahkan terhadap konsep riba paling dasar.

Taufik Hidayat

Waduh. Sebagai orang yang belajar dan pernah mengampu mata kuliah Manajemen Keuangan maka Tanpa Utang itu secara teori merupakan bisnis yang kurang efisien. Bagi yang pernah membaca tentang Teori MM (Modigliani-Miller) bisnis tanpa utang alias modal dengan 100 % ekuitas kurang efisien karena kehilangan kesempatan medapatkan tax shield. gampang ya beban bunga hutang dapat mengurangi laba kena pajak. EBIT lebih kecil dan tax lebih kecil. Tanpa hutang jugaaka menyebabka WACC lebih tinggi. WaCC itu walking average Cost of Capital adalah cerminan total biaya perusahaan yang haris ditanggung perusahaan dalam membiayai operasionalnua . Tanpa hutang jugamenyebabkan ROE (Return on Equity) menjadi tidak optimal .Hutang menjadi Financial Leverage sehingga ROE lebih tinggi selama tingkat pengembalian modal lebih tinggi dari bungan pinjaman. COntoh: : perusahaan perlu modal 100 juta untuk proyek yang menghasilkan laba 20 juta . Tanpa hutang : ROE : 20%. Kalau dengan hutang 50 juta dan bunga 10 % keuntungan jadi 15 juta (20-5 jt) ROE Jadi 15/50 Jadi 30%. Sisa modal 50 jt bisa untuk mengembagkan bisnis lain..

Jokosp Sp

Yang dilarang itu ribanya, bukan unsur hutangnya. Misal hutang 100 ke keluarga atau teman dan dikembalikan 100 sesuai perjanjian itu tidak ada unsur ribanya. Kecuali yang meminjami minta kembalian 120, karena ada unsur ribanya yang senilai 20 atau 20% itu. Di Surat Al-Baqarah ayat 275, juga di ayat 278-279 jelas sekali yang dilarang itu unsur ribanya. Bukan proses hutangnya. Sangat jelas dijelaskan di Surat Ali-Imran ayat 130, sama yang dilarang unsur ribanya. Diperjelas lagi di Hadis Muslim dan Ibnu Majah yang dilarang juga ribanya, bukan proses pinjamnya. Jadi misal saya pinjam ke Bah DI atau ke Bli Leong dipinjami 100 juta, dan sesuai perjanjian saya hanya mengembalikan 100 juta itu syah saja karena tidak ada unsur ribanya. Kecuali pinjamnya ke bank , ke rentenir atau ke perusahaan pembiayaan yang bunganya bisa sampai 14-20%.

MULIYANTO KRISTA

Pas lagi buka artikel tadi pagi, langsung fokus ke foto pertama, lihat tangga kayu di belakang bapak yang pakai baju biru dan berkacamata, kok familiar banget. Setelah tak zoom ternyata.... Pernah saya pakai naik turun berkali-kali pas menikmati suasana yang tenang dan syahdu waktu itu.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

"Utang itu ya ke Bank" Saya punya usaha yang saya bangun saat pandemi kemarin. Baru? Iya, soalnya usaha yang dulu-dulu sudah bangkrut. Alhamdulillah usaha baru saya ini berkembang dengan baik selama 5 tahun ini. Dan bagi pengusaha yang bukan pewaris seperti saya, tak ada jalan lain selain utang ke bank. Kalau mau usaha dan tidak kehilangan saudara atau teman, berutanglah ke bank. Jangan ke saudara atau teman, apalagi ke Abah DI. Kita malah bisa kehilangan saudara dan pertemanan. Utang itu ya ke bank. Jangan mimpi bisa utang untuk usaha tanpa ada bunga. Jangan mimpi. Bunga bank, selama bank resmi bukan koperasi atau rentenir, itu nilainya masih sangat wajar untuk usaha. Tentu saja tetap ada risiko jika bisnis tak berjalan. Tapi itu memang risiko usaha, bukan risiko utang di bank. Yang namanya ussha ya kadang berhasil kadang tidak. Justru dengan utang di bank, kita "hanya" kehilangan jaminan (properti), bukan kehilangan saudara atau teman yang kita berutang kepadanya. #islammasadepan #islamdenganlogika



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 205

  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • alasroban
      alasroban
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • yea aina
    yea aina
  • yea aina
    yea aina
    • yea aina
      yea aina
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • yea aina
      yea aina
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Pryadi
    Pryadi
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • yea aina
      yea aina
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Tivibox
      Tivibox
    • pak tani
      pak tani
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Em Ha
    Em Ha
  • pak tani
    pak tani
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • Asep Sumpena
    Asep Sumpena
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Akem SNJ
    Akem SNJ
  • pak tani
    pak tani
    • yea aina
      yea aina
  • pak tani
    pak tani
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • pak tani
    pak tani
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Tivibox
    Tivibox
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Tivibox
      Tivibox
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • pak tani
    pak tani
    • Runner
      Runner
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • pak tani
      pak tani
  • Runner
    Runner
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • En Faishal
    En Faishal
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Bayung Lembayung
    Bayung Lembayung
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Tivibox
      Tivibox
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Tivibox
    Tivibox
  • DeniK
    DeniK
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • xiaomi fiveplus
      xiaomi fiveplus
    • DeniK
      DeniK
  • Siswanto Elha
    Siswanto Elha
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Bayung Lembayung
      Bayung Lembayung
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • Wilwa
    Wilwa
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Jhel_ng
    Jhel_ng
    • Jhel_ng
      Jhel_ng
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
    • Bayung Lembayung
      Bayung Lembayung
  • Bayung Lembayung
    Bayung Lembayung
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Sadewa 19
    Sadewa 19
  • Way aja
    Way aja
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Wilwa
      Wilwa
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • incess 1212
    incess 1212
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • incess 1212
    incess 1212
  • incess 1212
    incess 1212
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Arumbi putri Pertiwi
    Arumbi putri Pertiwi
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • alasroban
    alasroban
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
    • Ahmed Nurjubaedi
      Ahmed Nurjubaedi
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • alasroban
    alasroban
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Wilwa
    Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Ahmed Nurjubaedi
      Ahmed Nurjubaedi
    • Wilwa
      Wilwa
  • Sugi
    Sugi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
    • Thamrin Dahlan YPTD
      Thamrin Dahlan YPTD
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • hikends
    hikends
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman