Bahan pangan tepung terigu yang merupakan produk antara karena tidak untuk dikonsumsi langsung, justru akhirnya melahirkan jutaan UMKM di sektor pangan yang juga berarti penciptaan lapangan pekerjaan.
Terbukti, hampir 70 persen pelanggan Bogasari adalah UMKM, papar Franky dalam diskusi.
Lebih jauh Kepala Divisi Bogasari ini menjelaskan, keunikan dari bahan pangan tepung terigu adalah sangat mudah dan fleksibel untuk dicampur atau disubstitusi dengan bahan pangan lokal berbasis kedaerahan.
Hal ini dibuktikan oleh para UKM mitra Bogasari, seperti Cake Salakkilo dari Balikpapan yang mencampur terigu dengan buah salak, UKM Nustsafir dari Lombok yang menyerap berbagai komoditas biji-bijian seperti kacang merah, kacang mente, biji kopi, kacang tanah dengan terigu menjadi aneka kue kering.
Ada juga buah durian yang dicampur dengan terigu sehingga menghasilkan roti durian, buah naga dengan adonan mie menjadi mie merah, atau wortel sehingga menjadi mie orange, tepung bagelen (singkong) dengan terigu di Bandung menjadi Roti Bagelen, dan masih banyak lagi.
“Melalui tepung terigu, maka nilai ekonomi produk pertanian lokal Indonesia makin bertambah. Dan potensi keanekaragaman pangan dengan kearifan lokal inilah yang juga terus digali dan dikembangkan oleh Bogasari melalui unit pelatihan bernama Bogasari Baking Center (BBC) yang kemudian dilatih kepada UKM dan masyarakat yang ingin memulai usaha makanan jadi berbasis terigu. Perhatian dan kepedulian kepada UKM menjadi bagian dari strategi manajemen pemasaran Bogasari dalam menunumbuhkembangkan usaha para UKM, jelas Franky.
Banyak hal yang dipaparkan dan didiskusikan selama kurang lebih 3 jam, mulai dari seputar bahan pangan, manajemen pengolahan, dan manajemen pemasaran.
Termasuk tanya jawab yang berlangsung saat para mahasiswa doktoral dan profesor kunjungan lapangan ke laboratorium, area produksi Mill AB dan dermaga Bogasari.
Selama presentasi dan diskusi hingga kunjungan lapangan, baik dosen pendamping maupun mahasiswa tampak menyimak serius serta aktif bertanya, mulai dari tata kelola Bogasari, mulai dari pemasaran hingga komitmen SDGS (Sustainable Development Goals) atau tujuan pembangunan berkelanjutan termasuk yang digali dalam diskusi.
Di antaranya penggunaan energi terbarukan PLTS, rain harvesting, budidaya tanaman dan pohon manggrove, pengolahan sampah, dan aspek lainnya.
Di akhir acara, Profesor Jono selaku dosen pendamping tujuh mahasiswa doktoral mengakui banyak hal baru dan bermanfaat secara teori dan penerapan keilmuan yang diperoleh dari kunjungan akademik ini.
Pengamatan langsung dan diskusi sesuai program doktoral manajemen yang dipelajari menjadi hal menarik untuk digali di dunia industri.
Terima kasih kepada Bogasari atas kesempatan berharga melalui kunjungan akademik ini.