JAKARTA, DISWAY.ID-- Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap/MIT). Jika rupiah terus tertekan, target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 berisiko sulit diwujudkan.
Pakar ekonomi internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Kiki Verico, mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga langsung memukul sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku dan mesin impor.
BACA JUGA:Kapolri Sambangi Kejagung, ST Burhanuddin: Kami Bukan Rival!
“Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat karena pembelian bahan baku menggunakan dolar AS, sementara penjualan dilakukan dalam rupiah. Kondisi ini memicu imported inflation dan menekan daya beli masyarakat,” ujar Kiki, di Depok, Senin 13 Juli 2026.
Ia mengungkapkan, hasil penelitiannya menunjukkan sekitar 48 persen industri manufaktur skala menengah dan besar di Indonesia masih mengandalkan komponen impor.
Sementara itu, sebagian besar produknya justru dipasarkan di dalam negeri. Akibatnya, fluktuasi kurs membuat margin industri semakin tertekan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA:Kapolri dan Jaksa Agung Mesra Salam Komando, Tegaskan Tak Ada Konflik
Menurut Kiki, Indonesia harus mampu keluar dari kategori negara berpendapatan menengah agar target pendapatan per kapita 15.000–30.000 dolar AS pada 2045 dapat tercapai.
Untuk itu, pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga inflasi, mengendalikan jumlah penduduk, dan mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Selain menjaga rupiah, Kiki mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, meningkatkan efisiensi investasi dengan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sehingga setiap investasi menghasilkan output ekonomi yang lebih besar.
BACA JUGA:14 Daftar Kosmetik Berbahaya Ditemukan BPOM, Bisa Picu Kanker hingga Gagal Ginjal
Kedua, memperkuat keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok manufaktur global agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor, melainkan juga pusat produksi kawasan.
Ketiga, memperkuat daya saing ekspor melalui pengembangan produk unggulan yang mampu bersaing di Global Value Chains (GVC).
Ia menegaskan, ketiga strategi tersebut harus ditopang oleh kepastian hukum, regulasi yang berkualitas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan kombinasi tersebut, Indonesia memiliki peluang lebih besar keluar dari middle income trap dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.