Indonesia Dimulai dari Langkah Kecil 'Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama'

Indonesia Dimulai dari Langkah Kecil 'Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama'

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Ada sebuah kebiasaan yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan kita akhir-akhir ini: terlalu cepat kecewa, terlalu mudah curiga, dan terlalu rajin membesarkan kegaduhan.

Seolah-olah negeri ini sedang berdiri di tepi jurang, padahal matahari masih setiap pagi menyinari sawah, laut tetap mengirim ikan kepada nelayan, dan anak-anak masih berlari di jalan-jalan desa mengejar layang-layang yang putus.

Barangkali yang mulai hilang bukan harapan, melainkan kesabaran.

BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption

Kesabaran untuk melihat bahwa sebuah bangsa tidak pernah dibangun dalam semalam.

Ia tidak lahir dari ledakan pidato, melainkan dari ketekunan yang nyaris tidak terdengar. Sebatang padi tidak menjadi bulir karena tepuk tangan.

Pohon beringin tidak menjadi rindang hanya karena dipuji. Semua memerlukan waktu. Semua memerlukan kesetiaan kepada proses.

Dalam suasana seperti itulah pidato Presiden Prabowo Subianto pada Hari Koperasi Nasional 2026 terasa menarik untuk direnungkan. Yang disampaikan bukan semata-mata program ekonomi.

Lebih dari itu, ia sedang berbicara mengenai watak sebuah bangsa.

BACA JUGA:Selfie Dulu, Tuhan Nanti

Ada kalimat sederhana yang mungkin lewat begitu saja di telinga sebagian orang, tetapi menyimpan makna yang panjang. Beliau menceritakan bahwa dirinya telah lima kali mengikuti pemilihan presiden dan empat kali mengalami kekalahan.

Namun kekalahan itu tidak dijadikan alasan untuk memelihara dendam.

Ia hadir pada pelantikan lawan politiknya. Menghormati pilihan rakyat. Menerima kenyataan sebagai bagian dari perjalanan demokrasi.

Di situlah demokrasi menemukan martabatnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait