Indonesia Dimulai dari Langkah Kecil 'Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama'

Indonesia Dimulai dari Langkah Kecil 'Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama'

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

Demokrasi bukanlah kemampuan memenangkan pemilu. Demokrasi adalah kemampuan menerima kekalahan tanpa kehilangan cinta kepada tanah air.

Sebab sesungguhnya yang kalah dalam pemilu bukan Indonesia. Yang menang juga bukan hanya satu orang. Yang tetap harus hidup berdampingan sesudah semua baliho diturunkan adalah kita semua.

BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Barangkali negeri ini terlalu sering dipaksa mengingat siapa yang berbeda pilihan, tetapi terlalu jarang diajak mengingat bahwa kita meminum air hujan dari langit yang sama.

Karena itu, ajakan agar bangsa ini tidak terjebak dalam narasi kebencian sesungguhnya bukan sekadar pesan politik. Ia adalah ajakan untuk kembali menjadi bangsa yang waras.

Kebencian memang mudah dipelihara. Ia murah, cepat menyebar, dan selalu menemukan rumah di dalam media sosial. Tetapi kebencian tidak pernah menanam padi.

Ia tidak membangun jembatan. Ia tidak membuka lapangan kerja. Ia hanya pandai membuat suara, tetapi miskin karya.

Sebaliknya, harapan selalu bekerja dalam diam.

Ia tumbuh seperti akar. Tidak terlihat, tetapi menyangga seluruh pohon.

BACA JUGA:Homo Debatus

Mungkin itulah sebabnya Presiden berulang kali mengajak bangsa ini untuk optimistis.

Optimisme sering disalahpahami sebagai sikap yang menutup mata terhadap kenyataan. Padahal optimisme justru keberanian menatap kenyataan tanpa kehilangan keyakinan.

Bangsa yang pesimis melihat batu sebagai penghalang.

Bangsa yang optimistis menjadikannya pijakan.

Tidak ada perjalanan panjang yang tidak dimulai dari langkah kecil. Tidak ada sungai besar yang lahir selain dari mata-mata air yang sederhana.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait