Indonesia Dimulai dari Langkah Kecil 'Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama'
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Apakah kita ingin menjadi penonton yang paling pandai berkomentar, atau menjadi pelaku yang diam-diam bekerja?
Barangkali sejarah tidak pernah benar-benar mengingat siapa yang paling keras berteriak.
Sejarah lebih lama mengingat siapa yang menanam pohon, membangun jembatan, mendirikan sekolah, menghidupkan koperasi, dan menjaga persaudaraan ketika banyak orang memilih bertengkar.
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar.
Yang selalu kita rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang yang rela bekerja tanpa memelihara kebencian.
Lebih banyak orang yang percaya bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.
Lebih banyak orang yang memahami bahwa cinta kepada tanah air bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari kesediaan memikul beban bersama.
BACA JUGA:Bangkit Bersama untuk Indonesia Kuat
Mungkin benar, perjalanan ribuan kilometer dimulai dari satu langkah.
Namun ada satu hal yang lebih penting daripada langkah itu sendiri.
Yaitu arah ke mana langkah itu ditujukan.
Selama langkah-langkah kecil itu menuju persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial, kita boleh berharap bahwa Indonesia tidak sedang berjalan menuju masa depan yang gelap.
Ia sedang pulang kepada jati dirinya.
Menurut saya, justru pada bagian penutup, gaya Mohamad Sobary masih bisa diperdalam lagi dengan ending yang tidak menggurui, tetapi meninggalkan gema perenungan.
BACA JUGA:Saat Lidah Melampaui Akal
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: