Jejak Kaki di Kepala Kerbau
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Manusia modern sering kali memiliki kecenderungan menghakimi sebuah simbol sebelum memahami kebudayaan yang melahirkannya.
Di era media sosial, sebuah foto mampu melahirkan ribuan tafsir hanya dalam hitungan menit. Sayangnya, kecepatan menyebarkan opini sering kali jauh melampaui kesabaran untuk memahami makna.
Demikian pula ketika Presiden RI ke-7, Joko Widodo, menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari masyarakat adat Lampung. Prosesi adat yang memperlihatkan Jokowi meletakkan kaki di atas kepala seekor kerbau segera menjadi viral.
BACA JUGA:Optimalisasi Kampus sebagai Hub Dunia Global, Dunia Usaha, dan Dunia Industri
Sebagian melihatnya sebagai penghormatan adat. Sebagian lagi mempertanyakannya. Bahkan tidak sedikit yang menariknya ke wilayah politik praktis, menghubungkannya dengan simbol banteng yang digunakan salah satu partai politik.
Di sinilah kita menyaksikan bagaimana satu simbol budaya berubah menjadi arena pertarungan tafsir.
Padahal, antropologi budaya sejak lama mengingatkan bahwa simbol tidak pernah memiliki makna tunggal. Makna selalu lahir dari kebudayaan yang melahirkannya.
Budaya Tidak Pernah Universal
Kesalahan paling umum dalam membaca sebuah ritual adat adalah menggunakan kacamata budaya sendiri untuk menilai budaya orang lain.
BACA JUGA:Industri Budaya dan Kreatif sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Indonesia
Dalam ilmu komunikasi lintas budaya, fenomena ini dikenal sebagai etnosentrisme, yakni kecenderungan menganggap cara pandang budaya sendiri sebagai ukuran bagi budaya lain.
Padahal setiap masyarakat memiliki sistem simbol yang berbeda. Seekor sapi, misalnya, adalah hewan biasa di sebagian besar negara dunia, tetapi menjadi simbol kesucian dalam tradisi Hindu.
Burung hantu dipandang sebagai lambang kebijaksanaan di Yunani, tetapi di sejumlah daerah Nusantara justru dianggap pertanda kematian.
Warna putih melambangkan kesucian di Barat, sementara di sebagian tradisi Asia Timur justru menjadi warna berkabung. Simbol hanya dapat dipahami dari dalam kebudayaan yang menciptakannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: