Optimalisasi Kampus sebagai Hub Dunia Global, Dunia Usaha, dan Dunia Industri
Lulusan perguruan tinggi membanjiri career expo. -Dokumentasi UB-
PERATURAN Presiden nomor 12 tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029 menjabarkan visi presiden dalam mencapai tujuan pembangunan nasional menuju visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Tujuan besar kita menjadi negara maju yang diakui secara global. Untuk menuju hal tersebut tantangan yang dihadapi sangat besar. Salah satu kunci menjawab tantangan tersebut adalah tersedianya sumber daya manusia unggul. Dalam hal ini, perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tinggi berperan penting
Kompleksitas Pendidikan tinggi saat ini antara lain dengan keberadaan sekitar 2840 perguruan tinggi di Indonesia terdiri dari 127 PTN dan 2713 PTS belum ditambah sekitar 31 pendidikan kedinasan dari 11 kementerian/lembaga. Banyaknya perguruan tinggi tersebut hanya ditopang oleh sekitar 303 ribu dosen (hanya 12 ribu yang berjabatan Profesor (4%) dan 25% bergelar Doktor) untuk melayani mahasiswa sebanyak kurang lebih 9,95 juta, yang tersebar di 38 provinsi, 515 daerah Tingkat 2 (kota dan kabupaten). Hal ini tentu menimbulkan masalah di berbagai sektor, salah satunya keterserapan lulusan dalam Dunia Usaha atau pun Dunia Industri (DUDI), yang masih didominasi dengan Usaha Menengah dan Usaha Kecil sebesar lebih dari 60-70 juta (kurang lebih 60%) sementara Usaha menengah dan besar hanya di angka 1,9 juta dan 40 ribu, dan Perusahaan multinasional hanya diangka 4-5 ribu saja.
ISU & PROGRAM STRATEGIS
Kondisi di atas memunculkan beberapa isu strategis sekaligus dampak dan program strategis sebagai solusi, antara lain sebagai berikut :
1. Fragmentasi Tata Kelola Pendidikan Tinggi, Riset, Inovasi, dan Data Nasional
Kondisi eksisting saat ini yakni, masih terdapatnya fragmentasi data secara nasional seperti; data dosen, data mahasiswa, data riset, data inovasi, angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, data industri, data hilirisasi, data potensi daerah, data pangan, data, data kemiskinan, data pertahanan dan keamanan.
Hal tersebut bisa menimbulkan kesalahan atau kurang presisi dalam mengambil Keputusan untuk menyelsaikan masalah, juga memunculkan kemungkinan besar adanya tumpang tindih data, sehingga akan mengakibatkan adanya duplikasi program, juga banyak platform yang berjalan secara parsial, seperti, PDDikti, BIMA, SISTER, Sistem BRIN, Sistem LPDP, Sistem ESDM, Sistem di PT, K/L.
Salah satu rekomendasi dari permasalahan ini bisa dibangun suata National Integrated Data System (NIDS) sebagai Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), dan adanya satu leading sector yang punya otoritas untuk mengelola secara transparan antara Kementrian/Lembaga.
BACA JUGA:Industri Budaya dan Kreatif sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Indonesia
BACA JUGA:Politik Simbol Kepala Kerbau
2. Transformasi Digital dan AI
Dunia saat ini berkembang sangat pesat dengan adanya teknologi AI yang dilahirkan dari bidang matematika algoritma. Dulu tidak terbayangkan akan adanya perkembangan AI yang nyaris bisa melakukan banyak hal yang dilakukan manusia. Negara kita termasuk yang ketinggalan dalam bidang AI dan implementasi digital pada berbagai sektor. Ketimpangan ini sudah kita rasakan terutama karena kita harus bersaing dengan dunia internasional yang telah lebih dulu mengembangan AI dan aplikasi digital. Dampak dari ketinggalan ini terlihat dengan tata Kelola kita kurang dalam hal kecepatan, ketepatan, dan keakuratan dalam memberikan Solusi atau suatu Keputusan, apalagi dengan kondisi data dan sistem yang parsial. Permasalahan diatas juga disebakan karena kurikulum kita yang belum familiar dengan AI dan sistem digital. Sehingga salah satu solusinya tata kelola atau sistem yang digunakan atau dikembangkan di negara kita, tidak luput juga di Kementrian/Lembaga pemerintahan baik pusat maupun daerah. Dampak tersebut bisa diminimalisisr dengan dirancangnya kurikulum AI dan transfromasi digital dalam platform-platform yang saat ini dijalankan secra parsial. Juga bisa dengan menerapkan AI dalam transformasi digital agar bisa meningkatan kecepatan, ketepatan, dan kekuratan penyelesaian suatu masalah yang berbasis data. Melengkapi NIDS dengan penerapan AI dan new era digital system.
3. Ketimpangan Mutu antar Perguruan Tinggi
Kondisi eksisting adanya perbedaan status perguruan tinggi (Satker, BLU, dan PTNBH) serta perbandingan antara PTN dan PTS yang sangat tidak berimbang, ditambah distribusi yang tidak merata sangat nyata. Hampir 60% perguruan tinggi yang berkualitas ada di Pulau Jawa. Kualitas PT tersebut dipengaruhi oleh sumber daya manusia terutama Dosen, Dimana dari sekitar 303 ribu dosen hanya 12 ribu Profesor, dimana notabene keberadaan Profeosr mencerminkan kualitas dari ekosistem riset dan inovasi serta kualitas Pendidikan di PT. Dampaknya jelas pada produktivitas riset dan inovasi, daya saing global, dan bisa juga pada pertumbuhan ekonomi akibat rendahnya hilirisasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: