Zhu Rongji
Ilustrasi Catatan Dahlan Iskan tentang kematian mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhu Rongji.-Dibuat dengan AI-Dibuat dengan AI
Hanya sekali saya bertemu Zhu Rongji. Di Nanjing, Jiangshu. Sudah lama sekali. Itu pun bukan pertemuan khusus. Tepatnya: saya hanya melihat beliau. Menghadiri pidatonya. Tidak lebih dari itu.
Setelah tidak menjabat perdana menteri Zhu Rongji seperti hilang dari bumi. Dari orang yang amat populer menjadi tidak sekali pun muncul di media.
Selama 23 tahun orang tidak tahu lagi di mana Zhu Rongji. Orang juga tidak tahu apa saja yang dilakukannya setelah tidak jadi perdana menteri.
Itulah budaya politik di Tiongkok: yang sudah pensiun tidak pernah mau tampil di publik. Mereka konsisten menjadi pertapa. Pun orang yang menjadi presiden di saat Zhu Rongji jadi perdana menteri: Jiang Zemin.
Presiden Jiang tidak pernah muncul di permukaan. Padahal kurang hebat apa Presiden Jiang. Ia adalah presiden yang mengubah Partai Komunis Tiongkok dari partai berkaki dua --buruh dan tani-- menjadi partai berkaki tiga: buruh, tani, pengusaha.
Pasti Jiang adalah orang yang sangat kuat: bagaimana bisa membuat pengusaha menjadi soko guru partai komunis. Bukankah komunis lahir sebagai alat perjuangan kelas melawan kapitalisme? Bagaimana bisa kapitalis (pengusaha) justru jadi soko guru komunis di Tiongkok?
Orang sekelas Presiden Jiang Zemin pun tidak diketahui di mana keberadaannya dan melakukan apa. Setelah tidak jadi presiden namanya hilang sehilang-hilangnya. Begitu juga Zhu Rongji. Tiba-tiba saja ada berita di media, kemarin, Zhu Rongji meninggal dunia: 12 Agustus 2026. Di usia 97 tahun.
Kalau pun nama Zhu Rongji sering muncul di media, itu media di luar negeri. Seperti media di Indonesia. Nama Zhu Rongji sering disebut sebagai contoh ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Anda sudah hafal kata-kata Zhu Rongji ini: "sediakan 100 peti mati. Yang 99 untuk koruptor. Yang satu untuk saya".
Artinya: ia sudah siap mati dibunuh oleh orang-orangnya koruptor sebagai bentuk balas dendam mereka atas ketegasan Zhu dalam memberantas korupsi di Tiongkok.
Kata-kata Zhu Rongji itu sudah seperti mantera di mana-mana. Rasanya kata-kata itu hanya kalah populer dengan apa yang dipidatokan Presiden Prabowo: "Akan saya kejar koruptor sampai ke Antartika".
Tentu meninggalnya Zhu Rongji tidak membuat istilah '100 peti mati' ikut terkubur. Kata-kata itu akan terus hidup dan diucapkan oleh orang yang ingin korupsi diberantas sampai Antartika. Pun kata-kata Prabowo akan terus dikutip orang di Indonesia.
Meninggalnya Zhu Rongji juga tiba-tiba mengingatkan saya ke Nanjing. Itu tahun 2001. Tiga bulan sebelum Tiongkok masuk organisasi perdagangan dunia (WTO).
Waktu itu dunia Barat sedang merayu Tiongkok untuk mau masuk WTO. Maksudnya agar Tiongkok bisa 'didisiplinkan' lewat WTO. Tiongkok harus tunduk pada cara-cara dagang dunia.
Terasa sekali Tiongkok sedang meyakinkan rakyat mereka: masuk WTO itu baik. Kelihatan sekali pengusaha di sana takut kalau Tiongkok masuk WTO tidak bisa bebas lagi berdagang ke seluruh dunia. Sangkaan yang tentu saja salah.
Kota Nanjing sendiri --pernah jadi ibukota Tiongkok-- waktu itu masih kumuh. Masih di awal pembangunan menuju modernisasi. Jalan-jalan dalam kota baru dilebarkan. Masih berdebu. Pohon-pohon di pinggir jalan baru ditanam. Masih tampak baru tumbuh. Inilah kali pertama saya melihat: pohon yang baru ditanam tapi besarnya sudah sebesar tubuh orang Indonesia. Waktu itu di kita masih terbiasa menanam pohon itu menanam bibit pohon yang masih kecil.
Apa yang saya lihat di Nanjing itu terus hidup di benak saya. Kelak, setiap kali membangun gedung baru saya minta agar pohon yang ditanam di halamannya adalah pohon yang sudah besar. Saya ikut tidak sabar menunggu rindangnya pohon yang memakan waktu sampai lebih 10 tahun.
Di pertemuan besar di Nanjing itu delegasi dari Indonesia lebih 200 orang. Dari Surabaya saja 40 orang. Satu bus penuh. Meski itu pertemuan besar pengusaha Tionghoa sedunia --hua shang da hui/ 华商 大会-- saya bisa menjadi delegasi Indonesia.
Di tahun itu saya sudah dianggap keluarga Tionghoa --lima tahun sebelum menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok.
Sejak itu saya beberapa kali kembali ke Nanjing. Setiap kali pula saya lihat perubahan yang amat besar. Pun di seluruh Tiongkok. Dua tahun kemudian saya ikut sekali lagi 华商大会: di Kuala Lumpur.
Zhu Rongji adalah salah satu pemimpin besar Tiongkok modern. Semua pemimpin Tiongkok tidak lagi ikut cawe-cawe di urusan negara setelahnya. Tidak ada misalnya mantan presiden yang bikin partai politik untuk anaknya.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Agustus 2026: Sutrimo Winda
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KALAU SAYA SUTRIMO, INI JAWABANNYA.. Kalau saya Sutrimo, mungkin saya akan menjawab sederhana: saya penjaga rumah, bukan penjaga rahasia negara. Ketika petugas datang membawa surat tugas dan hendak menggeledah, masa saya harus bertanya, “Boleh masuk, atau tunggu atasan saya pulang?” Tapi justru di situlah letak persoalannya. Mengapa setelah rumah digeledah saya diminta pulang ke Banyumas? Lalu beberapa hari kemudian diminta kembali ke Jakarta. Tiket dibelikan. Bahkan dua orang dikirim untuk menemani. Ini bukan lagi soal tiket kereta. Ini soal mengapa saya dianggap begitu penting untuk kembali ke Jakarta. Sayangnya, saya keburu meninggal. Maka semua pertanyaan berubah menjadi dugaan. Dan dugaan, kalau dibiarkan, biasanya tumbuh lebih cepat daripada fakta. Karena itu saya setuju dengan satu pesan utama tulisan Dahlan: jangan biarkan kematian menjadi titik. Jadikan ia koma, sampai seluruh pertanyaan terjawab. Sebab dalam perkara sebesar ini, yang dibutuhkan bukan sekadar “percaya”. Yang dibutuhkan adalah bukti. Transparansi. Dan keberanian membuka semuanya.
Ima Lawaru
Sekarang saya insaf, mengapa Abah tidak pernah menulis tentang kasus-kasus penembakan di luar negeri, drama politik di luar negeri? Karena di rumah Abah sendiri, di tanah tumpah darah kita sendiri, semua itu terjadi dengan begitu telanjangnya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KALAU SEMUA KEBETULAN, KEBETULANNYA KEBANYAKAN.. Ada Winda. Ada Sutrimo. Ada uang Rp460 miliar. Ada emas 74 kilogram. Ada Blueray. Ada Bea Cukai. Ada penggeledahan. Ada pistol. Ada kematian. Lalu ada pula pertanyaan yang belum selesai. Kalau semua itu tidak saling berhubungan, ya tidak masalah. Tetapi publik memang punya satu penyakit: kalau melihat dua titik, langsung menggambar garis. Apalagi kalau titiknya banyak. Bisa-bisa jadi peta. Masalahnya, dalam perkara hukum, peta buatan publik tidak boleh menggantikan peta penyidik. Saya jadi teringat rumus sederhana: Semakin banyak variabel, semakin sulit menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Dalam bahasa warung kopi: Kalau bahan masakannya 15 macam, jangan buru-buru menyalahkan garam. Karena itu yang paling penting bukan membantah semua dugaan. Bukan pula membenarkan semua kecurigaan. Tetapi menjawab satu per satu. 1) Siapa Winda? 2) Mengapa ia tewas? 3) Mengapa Sutrimo dipanggil kembali? 4) Mengapa kemudian meninggal? Kalau jawabannya memang kebetulan, silakan. Tapi tolong kebetulannya dibuktikan.
Denny Herbert
Abah menutup tulisannya dengan teka-teki Sutrimo yang tidak bisa kita tanyai lagi karena sudah meninggal. Sutrimo adalah saksi kunci penjaga rumah Sentul yang bolak-balik dipanggil lalu meninggal secara mencurigakan. Sementara pengacara Febri Diansyah justru sibuk mempraperadilkan keabsahan penggeledahan rumah Sentul tersebut karena dianggap melanggar prosedur. Secara hukum acara, pengacara memang berhak menguji cacat prosedur. Tapi bagi masyarakat umum, benang merahnya terasa janggal: ketika saksi kunci sudah tidak ada, penggeledahan lokasi dipermasalahkan secara hukum, maka fakta sebenarnya makin sulit terungkap. Ujung-ujungnya, kasus besar ini berpotensi lolos bukan karena tidak ada korupsi, melainkan karena kalah main silat prosedur. Kasihan rakyat yang cuma bisa menebak-nebak jawaban Sutrimo.
Sugi
Kalo Pak Sutrimo, mestinya secara prosedur, kalo sudah ditunjukkan surat penggeledahan, mestinya langsung bisa membukakan pintu. Apalagi jika Tuan rumah tidak memberikan jawaban pasti saat dihubungi. Posisi beliau pasti dilema dan kalah takut dengan pasukan kepolisian yang siap menggeledah dengan menenteng senjata. Atau perwakilan tentara yang sudah berusaha melindungi rumah bosnya juga tidak bisa berbuat banyak. Maju kena, mundur kena, diam apalagi. Tapi Pak Sutrimo sepertinya sudah siap resiko. Beliau sudah tahu pemilik rumah yang dijaganya adalah orang besar di negeri ini. Setiap saat pasti ada kemungkinan kejadian seperti ini. Kalu beliau bertahan terus sampai malam kejadian itu, berarti beliau siap menanggung konsekuensinya, secara jiwa dan raga. Nasib yang sudah dipilihnya sendiri. Andai beliau gugur di tengah jalan, itu sudah masuk dalam skenario hidup beliau. Sebuah harga yang harus diterima atas segala privilese selama ini. Seperti pepatah Saham: High risk, high return. Bukankah begitu, Bah? Maaf jadi melantur.
Denny Herbert
Kunci dari riuhnya kasus kematian Winda sederhana: dia adalah saksi kunci kasus korupsi besar di Bea Cukai. Begitu seorang saksi kunci tewas tertembak—menggunakan pistol polisi milik mantan suaminya—label "bunuh diri" yang dikeluarkan kepolisian otomatis sulit diterima akal sehat publik. Terlalu kebetulan, terlalu rapi. Desakan evaluasi Kapolrestabes Medan hingga pemanggilan oleh Komisi III DPR adalah dampak wajar dari krisis kepercayaan itu. Ketika saksi kunci tewas, status hukumnya bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa, melainkan ancaman bagi pembongkaran kasus korupsi yang jauh lebih besar. Publik tidak butuh narasi manis. Yang dibutuhkan adalah pembuktian forensik dan balistik yang transparan. Jangan sampai pola lama terulang: saksi kunci meninggal, lalu kasus korupsinya ikut terkubur.
siti asiyah
???????????????????????????????????????? ???????????????????????? ???????????? ???????????????????????? ???????????????????????????????? ???????????????? ???????????????????? ???????????? ???????????????????????????????????????????????????????????? ???????????????????????? ???????????????? - ???????????????? ???????????????????? ????????????????????????????
Kujang Amburadul
Sutrimo ini jabatannya Kepala Rumah Tangga (Karumga). Apakah namanya masuk di KK? Alias Kartu Keluarga? Tentu tidak. Ia bukan keluarganya Febrie. Sebab kalau Kepala Keluarganya tentu masih Febrie, belum diganti. Dan Sutrimo harus nrimo dan legowo dng statusnya sekarang.
Kujang Amburadul
Nah, kalau kita tiba2 dihadapkan dlm situasi terpaksa harus tahu padahal tidak ikut melakukan dan ikut menikmati hasil korupsinya? Dan tidak memiliki mens rea juga. Apa daripada kita didahului "dilenyapkan" seperti dugaan yg dilakukan thdp Sutrimo, lebih baik kita duluan bunuh saja pelaku korupsi itu. Tokh hasilnya sama juga, ditembak atau dipenjara. Mau minta perlindungan LPSK juga msh harus lwt prosedur yg blm tentu disetujui.
alasroban
Di Semarang ada kasus kematian Iwan Budi. Yg juga seorang saksi kunci tipikor. Sampe sekarang tak terbongkar. Anda sudah tahu kira-kira kelanjutan 2 kasus yg di tulis pak DI pagi ini.
Bahtiar HS
Tgl 8 Juli rumah FA digeledah pihak polisi. Ditemukan milyaran uang dan emas 74kg. Sutrimo menyaksikan itu semua. Dan FA mengaku itu bukan miliknya. Tgl 9 Juli tiba2 Sutrimo diminta pulang kampung. Mengapa? Sutradara akan me-reka ulang cerita. Mungkin ada yg request. Tp mungkin jg tidak. Ketika cerita versi baru sdh fix akan dimainkan, dipanggillah pemain kunci cerita ini. Sutrimo pertengahan Juli diminta kembali ke TKP. Keliatannya perlu waktu agar Sutrimo bs mempelajari skenario cerita yg baru. Sepanjang itu mungkin dia nggak mau mengikuti alur ceritanya. Sebab dia tahu asal muasal brg itu. Dan dia tdk mau menanggung risiko yg ditimpakan pd dirinya. Setelah sepekan lbh tdk berhasil menekan Sutrimo, mk sutradara menulis skenario baru. Dan demikianlah. Sutrimo "dikeluarkan" dari skenario, agar tdk mengacaukan jalannya cerita happy ending. Sutrimo pun berubah jadi Ratrimo. Semoga segera ditemukan tulisan terakhirnya sebelum meninggal. Mungkin ditulis di atas serbet, yang kelak mengubah dunia persilatan. #cerita pagi
Jo Neka
Komentar paling bernas dari seorang Leong Putu.Sejak CHDI terbit..Bahkan sebelum ada istilah "perusuh".Mungkin banyak dari mereka meremehkan perusuh.Tetapi maaf kami jua sekolah.Bahkan S3..Contohnya pak Agus.Hanya kami memang tak punya kuasa.Kalau paguyuban perusuh punya kuasa.Pasti semua mafia dilindas lumat.Dan yang "bundir"mungkin koruptor.Mau coba..Angkatlah bos disway menjadi presiden.Pasti si FA dan cecunguk²nya..Kabuuur.Ini hanya ilusioner.
Leong Putu
"Adagium "tidak ada kejahatan yang sempurna" (there is no such thing as a perfect crime) adalah prinsip dasar dalam dunia kriminologi dan investigasi yang menyatakan bahwa setiap tindakan melanggar hukum pasti akan selalu menyisakan jejak, sekecil apa pun" Kata internet. Kecuali jejak kecil itu sengaja tidak dilihat atau bahkan disembunyikan. Ironis.
Ciga Sama
Jangan terlalu lama tinggal di dalam lingkaran setan. Kalau masih sempat keluar, keluarlah. Jangan merasa aman hanya karena rahasia masih dianggap rahasia. Dalam lingkaran semacam itu, yang paling cepat berubah bukan rahasianya, melainkan nasib orang yang memegangnya. Kalau pintu keluar sudah dikunci dari dalam, setidaknya jangan pergi dengan tangan kosong. Simpan kartu AS. Catat, rekam, amankan, dan tinggalkan bukti di tempat yang tidak mudah ikut “mati”. Sebab kalau suatu hari pemegang rahasia mendadak menjadi almarhum, jangan sampai kematiannya sekaligus menjadi jalan paling nyaman untuk mengubur perkara. Kita semua memang akan mati. Tetapi ada kematian yang menyisakan doa, dan ada kematian yang justru membuat setan dunia buru-buru menghela napas lega. Yang terakhir itu, kalau boleh memilih, jangan sampai terjadi. Jangan sampai jasadmu yang ditemukan, sementara kebenaran ikut dikuburkan bersamanya.
Kujang Amburadul
Sutrimo Winda Jurist Tan Ah itu tiga nama tapi empat kata Pak @Agus S3. Kalau tiga kata berarti harusnya Sutrimo Winda Jurist. Judul yang sudah terkenal beratus jilid itu adalah Tukang Bubur Naik Haji. Kalau dipaksakan dua kata hanya Naik Haji, lha subyeknya gak ada. Kalau tiga kata, Bubur Naik Haji, lha yang naik haji bukan orang dong. Sudah betul itu TBNH, makanya bisa sampai ratusan jilid (episode). Kalau di "kasus judul" hari ini boleh empat kata : Trio - Sutrimo - Winda - Jurist. Nah ini bisa ribuan jilid nih atau sekalian plot twice menjadi SP3 saja hehe.. Demikian bahasan saya yang tidak guna.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SEANDAINYA JUDUL BOLEH TERDIRI DARI 4 KATA.. Sayangnya Pak Dahlan sudah punya komitmen. Judul CHDI hanya boleh terdiri dari 2 (dua) kata. Komitmen itu sebenarnya bukan undang-undang. Tidak ada pasalnya. Tidak ada lembaran negaranya. Tidak ada Mahkamah Komitmen. Tetapi bagi orang yang benar-benar komit dan konsisten, komitmen bisa terasa seperti undang-undang. Bahkan kadang lebih keras. Sebab yang mengawasi bukan polisi, melainkan diri sendiri. Maka CHDI hari ini diberi judul: “Sutrimo Winda”. Padahal, kalau tidak terikat aturan dua kata itu, judul yang lebih lengkap mungkin: "Sutrimo Winda Jurist Tan”. Tiga nama. Tiga pintu masuk. Tiga pertanyaan. Sutrimo membawa kita ke rumah Febrie. Winda membawa kita ke perkara Blueray. Jurist Tan membawa kita ke "rumah" Nadiem. Tetapi Pak Dahlan memilih dua kata. Mungkin karena dua kata lebih sederhana. Atau jangan-jangan, kalau empat kata, pembaca malah merasa sedang membaca judul sinetron investigasi. Bagaimanapun, dua kata cukup untuk membuka cerita. Sisanya? Biarkan fakta yang menambah "kata"..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BUDAYA KORUPSI: ITU BAWAAN VOC, ATAU VOC BELAJAR DARI INDONESIA..? Pertanyaan ini menarik karena sejarah sering dipakai untuk mencari kambing hitam. VOC datang ke Nusantara membawa kepentingan dagang. Monopoli, suap, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan memang menjadi bagian dari praktik kolonial. Tetapi apakah korupsi itu “dibawa” VOC? ### Belum tentu. Karena praktik penyalahgunaan kekuasaan sudah dikenal dalam banyak kerajaan Nusantara sebelum VOC berdiri. Upeti, patronase, perdagangan pengaruh, dan pemanfaatan jabatan untuk kepentingan pribadi bukan temuan abad ke-17. Jadi mungkin pertanyaannya harus dibalik: Apakah VOC membawa budaya korupsi, atau VOC menemukan lingkungan institusional yang sudah memungkinkan korupsi berkembang? Secara ilmu politik, korupsi tumbuh subur ketika tiga unsur bertemu: 1) Jekuasaan besar, 2) Diskresi tinggi, dan 3) Pengawasan lemah, atau "dikondisikan lemah". Adanya hanya untuk bukti "formalitas" tentang "adanya" good governance. Identitas bangsa bukan faktor penentu. Karena itu, menyalahkan VOC terlalu sederhana. Menganggap korupsi sebagai “watak bawaan bangsa” juga sama berbahayanya. Yang lebih ilmiah adalah melihat institusinya. Sebab manusia bisa berubah ketika sistemnya berubah. Dan sistem yang buruk bisa membuat manusia yang awalnya "baik", kemudian "belajar" untuk menjadi "buruk". ### Dan "busuk"..
Murid SD Inpres
seram kali bah topik chd hari ini...... saya sudah siapkan belasan komentar lucu lucu untuk chd hari ini, eh topik nya malah pembunuhan, eh, bunuh diri, eh... ah ntah lah.... jadi masygul hati ini
Macca Madinah
Siapakah "pihak jakarta' yang meminta alm S untuk kembali ke Jakarta, termasuk mengirimkan tiket? Sebetulnya kalau mau ditelusuri, pasti ada fakta-fakta baru yang bisa didapat. Sebagai pemirsa serial Law & Order, sayah sungguh terkesima, bagaimana polisi sebagai pihak penyidik dan pengumpul bukti, bekerja sama erat dengan pihak penuntut atawa jaksa-nya, selalu konsultasi apakah bukti yang mereka miliki sudah bisa menyeret tersangka menjadi terdakwa ke pengadilan. Mereka selalu membahas hukum2 apa yang bisa digunakan. Kadang2 memang ada bukti2 yang dipaksakan, namun karena penyidik yakin, penuntut jalan terus. Jadi tidak habis pikir, kenyataannya (khususnya di endonesah), kok bisa si penyidik malah gontok2an dengan penuntut. Apa yang kita bisa harapkan, misalnya penyidik sengaja memberikan bukti yang sembarangan, dan penuntut juga mengiyakan saja, hasilnya terdakwa LOLOS. Mungkin itu kali yang dimau para penguasa "rimba" endonesah.
Andrea X
"Burung Anda bisa di export BlueRay dengan harga lebih baik", waduh masing masing yang punya burung akan tersengat ini. Burung saya, burung anda, burung kita kita .......................
Tivibox
Winda tidur di rumah mantan mertua. Mantan suami--seorang polisi-- juga masih ada di rumah itu, bahkan sumber terpercaya Disway mengatakan mereka tidur dalam satu kamar. Kalau itu pembunuhan pasti yang harus di cek pertama adalah CCTV. Rasanya, di rumah seorang polisi, apalagi rumah di perumahan yang cukup mahal pasti ada CCTV nya. Hanya saja, yang bikin khawatir, jika CCTV nya seperti di rumah sambo dulu. Ada kameranya tapi tak ada rekamannya.
heru santoso
Saya seolah Sutrimo: Beberapa hari setelah penggeledahan itu, saya tetap menjalankan tugas seperti biasa. Setiap ada orang keluar-masuk rumah, saya catat dulu di secarik kertas yang selalu saya slempitkan di peci. Nanti malam baru saya tulis ulang di buku tamu yang sudah lusuh, cover-nya robek, isinya penuh coretan tangan saya sendiri. Buku itu tak berguna, tak pernah ada yg baca, tapi saya tetap isi setiap hari. Suatu sore, ada orang datang menanyakan buku itu. “Pak, buku tamunya mana? Yang lusuh itu.” Saya bingung. Saya cek di laci, di bawah meja, di tempat biasa saya simpan. Tidak ada. “Hilang, Pak… saya tidak tahu kapan.” Orang itu menatap serius. “Buku itu penting. Sangat penting. Cari lagi sampai ketemu. Besok serahkan ke saya.” Dada saya langsung sesak. Saya telah dua kali berturut-turut gagal: gagal mencegah penggeledahan dan gagal mencegah hilangnya buku lusuh dengan banyak nama itu. Saya takut. Malam itu juga saya beres-beres sedikit, lalu pulang kampung. Hingga akhirnya dibelikan tiket untuk dipulangkan ke kampung abadi sekarang ini.
alasroban
Di China anda sudah tahu orang takut korupsi karena ancaman hukuman mati. Di selatan sana, negeri tujuan para perantau China. Orang-orang tidak takut korupsi. Yang takut adalah mereka yang tanpa sengaja mengetahui kosupri itu. Karena teancam di mati-kan. Iwan Budi, Sutrimo, Winda... :(
heru santoso
Beberapa hari setelah meninggal, arwah saya masih penasaran. Buku tamu lusuh itu terus terbayang. Saya bergentayangan mencari, menyusuri lorong-lorong yang tak kasat mata, sampai akhirnya menemukan tempat rahasia itu. Sebuah bungker dengan tujuh lapis pintu. Di dalamnya, beberapa ahli sedang bekerja serius di bawah cahaya putih dingin. Buku lusuh yang dulu saya isi setiap malam itu tergeletak di meja, sedang di-scan halaman demi halaman. Tulisan tangan saya yang buruk dan tergesa-gesa diubah menjadi kode-script digital. Baris demi baris muncul di layar besar. Kode-kode itu kemudian dikelompokkan dengan tanda khusus: - pengusaha, - politisi, - LSM, - pejabat, - dan masih banyak lagi. Di kolom tersendiri, berkumpul nama-nama populer yang sering disebut di koran. Saya tertegun. Lalu mata saya menangkap satu nama… mirip sekali dengan bosnya bos komandan yang dulu membuat surat penggeledahan itu. Buah simalakama. Di sudut ruangan, terdengar bisikan salah satu ahli: “Buku lusuh dengan tulisan tangan daftar tamu ini… harganya bisa lebih mahal dari emas 74 kilogram.” Arwah saya hanya bisa menatap. Mestinya, sebelum pulang kampung dulu, saya titipkan buku itu ke Bu Connie. Supaya dibawa ke Rusia, seperti catatan Hasto itu. Tapi sudah terlambat.
Jo Neka
Om Lagarenze. Anda ke mana.Dapur SPPG anda belum beroperasi..Cuma tanya.Jangan tersinggung..Hihihii
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 136
Silahkan login untuk berkomentar