Sutrimo Winda

Sutrimo Winda

Kematian Winda dan Sutrimo terus menjadi polemik karena disangkutkan dengan penanganan kasus korupsi.-Dibuat dengan AI-

Winda Lorenza Gowasa tewas ditembak di kamar mandi di rumah bekas mertua di Medan.

Sutrimo, penjaga rumah Febrie Adriansyah, juga meninggal dunia secara mencurigakan di Jakarta.

Tragedi Winda bisa saja kriminal murni. Bunuh diri. Kematian Sutrimo bisa saja akibat sakit mendadak. Tapi jagat medsos heboh: menghubungkannya dengan korupsi tingkat tinggi.

Sutrimo dikaitkan dengan ditemukannya uang Rp 460 miliar dan emas 74 kg di rumah (saat itu) pejabat tertinggi di pusat komando pemberantasan korupsi Kejaksaan Agung: Febrie Adriansyah.

Winda dihubungkan dengan kasus korupsi besar di Ditjen Bea Cukai di mana dia jadi salah satu saksi yang sudah diperiksa KPK.

Soal bea cukai, sudah lima orang dinyatakan sebagai tersangka. Tiga-tiganya pejabat tinggi Ditjen Bea Cukai: Rizal, direktur penindakan dan penyidikan; Sisprian Subiaksono, kepala Subdirektorat Intelijen; dan Orlando Hamonangan, kepala seksi intelijen.

Dua orang lagi dari perusahaan impor/ekspor PT Blueray Cargo: John Field selaku pemilik, Andri yang bertanggung jawab atas dokumen importasi; dan Dedy Kurniawan, manajer operasional.

Di kalangan pengusaha cargo nama Blueray melejit setahun terakhir. Dulunya Blueray tergolong perusahaan cargo menengah kecil. Lalu naik daun. Itu karena Blueray bisa memberikan jasa impor ekspor lebih murah. Dan lagi bisa cepat lolos di bea cukai.

Anda sudah tahu: dari hasil pemeriksaan, miliaran uang mengalir dari Blueray ke para pejabat di Ditjen Bea Cukai. Setiap bulannya. Sejauh ini dirjennya sendiri, Letjen Djaka Budi Utama, masih aman. Namanya sudah sering disebut tapi belum ada pengumuman jadi tersangka.

Anda masih ingat: Presiden Prabowo sangat geram akan praktik penyelundupan. Pengangkatan Letjen Djaka diharapkan akan mampu ''membongkar habis'' praktik patgulipat di bea cukai. Karena itu yang ditunjuk sebagai pejabat baru sampai jendral berbintang tiga.

Awalnya masih dipertanyakan: apakah Winda yang tewas akibat tembakan itu sama dengan Winda yang jadi saksi di KPK dalam kaitan dengan Blueray. Bisa saja namanyi sama. KPK tidak segera memberikan klarifikasi. Maka spekulasi di medsos terus mengatakan yang tewas itu nama yang sama dengan yang jadi saksi di KPK.

Sebenarnya lebih rumit dari itu. Winda tewas di kamar mandi di rumah bekas mertua. Dikatakan ''bekas'' karena Winda sudah bercerai dengan suami: seorang polisi di Medan.

Tapi malam itu Winda tidur di rumah mertua. Mantan suami juga masih ada di rumah itu. Menurut sumber tepercaya Disway, keduanya masih tidur satu kamar. Anak mereka pun masih tinggal di rumah itu.

Dilihat dari lokasi rumah mertua ini, tampak mertua Winda orang berada. Kompleks perumahan ini tergolong perumahan cukup mahal di Medan: di Helvetia. Sedang Winda sendiri berasal dari daerah jauh di luar kota Medan.

Hasil lab menunjukkan bahwa Winda tewas akibat tembakan pistol revolver milik mantan suami. Si mantan memang seorang polisi yang punya wewenang untuk membawa pistol ke rumah. Semuanya sesuai prosedur. Masalahnya, lab mengatakan Winda tewas akibat tembakan tempel (ujung pistol menempel di kepala Winda). Pistol itu milik mantan.

Sang mantan kini sudah diamankan di Propam Polda Sumut. Pengakuannya: Winda tewas karena bunuh diri. Sumber itu menyebut Winda sebelum itu pun memang pernah berusaha bunuh diri.

Komisi III DPR sampai ke Medan untuk menjernihkan persoalan ini. Komisi III (bidang hukum) minta agar tewasnya Winda diungkap secara transparan. Termasuk bagaimana pistol sang mantan bisa dipakai untuk ''bunuh diri''.

Juga harus transparan: apa hubungan Winda dengan Blueray.

Yang jelas, di kalangan bisnis cargo, nama Blueray identik dengan harga murah. ''Harga lebih murah'' itulah yang menjadi awal ''iri hati'': pasti ada apa-apanya.

Anda sudah tahu: setiap produk bermerk asal luar negeri pasti sudah ada agen resminya di Indonesia. Bahkan ada agen tunggalnya. Sejak Blueray merajalela, para agen tunggal itu menjerit dalam bisik-bisik: kok barang yang diageninya beredar di pasar dengan harga jauh lebih murah. Termasuk I-Phone terbaru. Pun baju-baju bermerek.

Para agen itulah yang kemudian melacak: ada apa di balik itu. Mereka menemukan ada Blueray yang memasukkannya. Mereka pun lapor polisi. Dilakukanlah penggerebekan. Sampai ditemukan ribuan HP selundupan yang sudah bisa langsung dipakai tanpa mengurus IMEI yang mahal itu.

Pun di bidang ekspor. Sarang burung adalah komoditi yang ekspornya dibatasi. Dikenakan pula pajak ekspor. Lewat Blueray sarang burung Anda bisa diekspor dengan harga lebih baik.

Dan banyak lagi.

Lepas ada hubungan atau tidak tewasnya Winda telah ikut jadi bumbu perkara ini.

Pun meninggalnya Sutrimo. Orang Banyumas ini sudah diminta pulang ke kampungnya setelah dilakukan penggeledahan di rumah Febrie.

Tapi beberapa hari kemudian Sutrimo diminta balik ke Jakarta. Ketika ia beralasan tidak punya uang, pihak Jakarta kirim uang untuk beli tiket kereta. Bahkan kirim dua orang yang menemani Sutrimo kembali ke Jakarta.

Sayang Sutrimo kemudian meninggal dunia. Kita tidak bisa bertanya kepadanya: sebagai penjaga malam di rumah pejabat tinggi yang begitu penting mengapa ia meloloskan petugas penggeledah masuk ke rumah Febrie.

Anda bisa bantu menjawabnya seolah-olah Anda Sutrimo. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 12 Agustus 2026: Deleg Deleg

Denny Herbert

Belajar "Deleg" dari Amerika Membaca Disway pagi ini tentang Deleg Deleg, Abah mengingatkan kita betapa seringnya kita sibuk mengejar "uceng" dan bising oleh intrik politik, hingga lupa pada gagasan ekonomi besar—sang "deleg". Di tengah hiruk-pikuk itu, ada kabar menarik dari panggung politik Amerika Serikat. Abdul El-Sayed, dokter berusia 42 tahun keturunan imigran Mesir, baru saja memenangkan primary Partai Demokrat untuk calon Senator Michigan. Berbeda dengan imigran naturalisasi, Abdul lahir di AS. Artinya, ia punya syarat legal untuk bisa maju sebagai calon Presiden AS kelak. Abdul tidak sibuk berjualan jargon radikal atau sekadar tebar pesona politik. Sebagai lulusan Oxford dan Columbia, ia menawarkan haluan progresif yang pragmatis: tetap mendukung pasar/kapitalisme, namun yang teregulasi melalui pajak progresif demi mendanai jaminan sosial dan kesehatan rakyat. Ia paham cara menjaga agar sistem ekonomi tetap menghasilkan "deleg", bukan sekadar mengejar "uceng". Langkah Abdul membuktikan bahwa gagasan substansial dan keterbukaan sistem masih bisa bekerja di tengah bisingnya politik. Semoga kita di sini juga tak melupakan "deleg" demi riuk-rendah politics belaka.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

JANGAN BIKIN INVESTOR JADI JOMBLO.. Saya jadi membayangkan Twin Parks seperti dua orang yang sudah dijodohkan. Sudah sepakat. Sudah kenalan. Bahkan lokasi rumahnya sudah ditentukan. Tinggal akad. Masalahnya: Akadnya tertunda dua tahun. Sementara itu, masing-masing keluarga mulai gelisah. Kawasan industri di Batang tentu tidak bisa terus duduk manis menunggu pasangan dari Fujian. Tanah sudah dibeli. Infrastruktur sudah dibangun. Investor butuh kepastian. Mesin tidak bisa diberi makan dengan janji. Akhirnya.. Kawasan industri mencari pasangan lain. Apa boleh buat. Dalam bisnis, kesetiaan memang penting. Tetapi cash flow lebih penting. Padahal konsep Twin Parks justru seharusnya punya keunggulan: Industrial linkage. Produksi kedua negara bisa saling melengkapi. Bukan sekadar jual-beli barang, tetapi membangun rantai pasok bersama. Sayang kalau konsep sebagus itu kalah oleh administrasi yang panjang. Politik punya musim. Investasi punya jam. Kalau terlalu lama menunggu, investor tidak marah. Mereka cuma pergi. Dan biasanya tidak pamit. Tidak kembali..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SEBELUM PAK WILWA BANGUN.. Pak Dahlan rupanya minta tolong Pak Wilwa: Untuk menjelaskan "makna kata jangan sampai deleg-deleg". Masalahnya, jam segini Pak Wilwa mungkin belum bangun. Atau sudah sibuk “berangkat kerja”. Mengejar Jakarta. ### Maka, sebelum beliau sempat membaca tulisan Pak Dahlan, saya bantu menerjemahkan tiga istilah penting ini ke bahasa Mandarin. 1) Uceng: 小鱼 (xiǎo yú). Artinya ikan kecil. Dalam konteks tulisan ini, uceng menjadi lambang sesuatu yang kecil, tetapi jumlahnya banyak. 2) Deleg: 大鱼 (dà yú). Artinya ikan besar. Secara kiasan, sesuatu yang lebih besar, lebih penting, dan lebih strategis. 3) Sedangkan deleg-deleg? Kalau diterjemahkan secara makna, kira-kira: 因小失大 (yīn xiǎo shī dà). Artinya, karena mengejar yang kecil, kita kehilangan yang besar. Nah, ini yang penting. Pak Wilwa jangan sampai hanya sibuk mengejar uceng — 小鱼 — lalu deleg — 大鱼 — malah kabur. Sebab uceng boleh banyak. Deleg jangan hilang. Kalau sampai hilang, Pak Dahlan sudah mengingatkan: jangan deleg-deleg.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SIALNYA, DI BAHASA INDONESIA ADA UNGKAPAN: “TIDAK ADA ROTAN, AKAR PUN JADI” Dalam bahasa Jawa ada ungkapan: “Mburu uceng kelangan deleg.” Kadang diucapkan: “Ngoyak uceng kelangan deleg.” Artinya sederhana: mengejar sesuatu yang kecil, malah kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar. Pesannya bagus. Jangan sampai terlalu sibuk mengejar yang belum tentu didapat, lalu yang sudah ada di tangan malah lepas. Tetapi sialnya, bahasa Indonesia kita, punya ungkapan lain: “Tidak ada rotan, akar pun jadi.” Nah, ini bisa berbahaya. Karena kalau sejak awal kita sudah merasa: “Tidak dapat rotan, akar juga lumayan,” semangat mengejar rotan bisa turun. Padahal dalam pembangunan ekonomi, ada bedanya antara adaptif dan cepat puas. Adaptif itu: Rotan belum ada, pakai akar dulu sambil tetap mencari rotan. Cepat puas itu: baru dapat akar, lalu berkata, “Untuk apa capek-capek mencari rotan?” Jangan sampai mburu uceng kelangan deleg. Tetapi jangan pula karena punya akar, kita berhenti mencari rotan. Sebab negara maju biasanya bukan karena puas dengan “yang ada”. Mereka terus bertanya: “Yang lebih baik, kapan bisa kita dapat?” ### Padahal bahasa Tionghoa, dan pak Wilwa, tetap mengejar rotan. Maupun akar.. Dan dapat dua-duanya.. Rotan dan akar. Kita, bshasa Indonesia, hanya dapat akar...

DeniK

Kalau nonton sidang the bottlenecking semakin faham betapa berlapis dan saling kapling kekuasaan ketika kita mau usaha di negeri ini . Itu yang legal yang ilegal lebih banyak lagi . Ormas , LSM , serikat kerja , warlok dll. dll. Nonton nya saja bikin puyeng apalagi yang menjalani.

Edi Sampana

Akhirnya APBN menanggung penuh kerugian proyek kereta cepat Jakarta Bandung. Bagaimana perasaan Jepang, yang proposalnya ditolak rezim Jokowi karena mensyaratkan jaminan pemerintah. Sepengetahuan saya, 2 tokoh yang menkritik keras proyek ini adalah Faisal basri (almarhum) dan Agus Pambagio. Bagaimana ya kira-kira komentar pak Jokowi. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana komentar pak Pambagio dan Faisal Basri (kalau beliau masih hidup). Abah rasanya belum pernah membahas kereta cepat Jakarta Bandung ini. Pada Catatan Dahlan Iskan edisi 24 Sep 2023, Abah cuma menulis kereta cepat di USA. Ayo Abah tulis lagi...

Ahmed Nurjubaedi

Embah saya dulu sering menggunakan istilah 'sak deleg' yang merujuk ke ukuran satu gulung tembakau yang sudah diranjang dan ditata. Tentu saja, 'sak deleg' antara satu orang dan yang lain tidak persis sama jika dikonversi dengan timbang. Ada toleransi, kurang lebih. Sedangkan 'deleg-deleg' bisa berarti termenung karena kaget, shock, sehingga otak seperti berhenti berpikir sejenak untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi, atau apa yang harus dilakukan. Contoh penggunaannya: Seluruh rakyat Indonesia deleg-deleg mendengar pidato Kepala Suku yang menyatakan bahwa yang membuat seseorang pintar bukan sekolah. Kepala suku menyebut pembantunya yang waktu jaman sekolah dulu begitu tidak pintar, tapi hampir saja mendapat gelar doktor. Rakyat Indonesia semakin deleg-deleg.

Leong Putu

Cak. Ketua Partai tugasnya membesarkan partai, Presiden tugasnya memajukan Negara. Nah jika ketua/petugas partai jadi presiden itu jadinya dia membesarkan partai melalui (kuangan) negara.

Jokosp Sp

Kab. Batang adalah bagian masa kecil di kampung simbah buyut, simbah rayi sampai ibu dulu. Tinggal di bagian dari lembah Gunung Perahu yang sudah tidak aktif. Di kanan kirinya ada dua sungai besar yang hulunya memang dari gunung itu. Sungai besar yang jernih dengan bebatuan besar, yang mengalir sampai jauh ke laut di daerah Weleri yang jadi perbatasan Kab.Batang dan Kab.Kendal. Kehidupan masa kecil adalah hal yang biasa main ke sungai untuk berenang dan cari ikan setelah pulang sekolah atau libur hari minggu. Ada wader, uceng, lele juga deleg. Uceng sendiri bentuknya halus, licin sekitar 5-10cm. Bentuknya seperti ikan teri dan belut, ada belang-belang gelap di sekujur tubuhnya. Sementara kalau deleg ada yang menyebut ikan gabus atau kutuk. Di Kalimantan beda lagi sebutannya, jadi "Iwak Haruan". Nah Galuh Banjar pasti pintar banar bamasak "haruan masak habang" babumbu santan kantal, cabai ganal karing, bawang, tarasi, kayu manis wan gula habang. Atau "iwak haruan babanam" nang dibakar (batanam), nang disajikan lawan bumbu khas Banjar basantan kantal. Ada jua "haruan bakecap manis" wan "haruan batanak" nang dimasak mirip opor tetapi dengan tambahan bumbu khas Banjar. Kadang dipadu dengan mandai (kulit cempedak yang difermentasi). Abah DI nang mana nang paling katuju dari ampat masakan Galuh Banjar itu?. Ulun dari kadak katuju iwak haruan, gagara babinik galuh Banjar jua jadi katuju makan iwak haruan babanam. Apalagi pakai sambal balimau kuit atau pakai irisan mangga hanom......

Ahmed Nurjubaedi

Suratku hari ini untukku di masa depan (2045). MATI ATAU MERDEKA-- Hai, orang tua, kabarmu baik, kan?/ Aku ingin curhat sebab begitu gelisah/ Negara kita saat ini sungguh absurd/ Kamu masih ingat waktu kita masih SMP/ Dan menjadi sekretaris OSIS?/ Kita dan teman-teman pengurus hanya pelaksana program/ Tidak mengerti nomor 1 atau 13/ Cukup kita bergaya saja// Pemimpin kita bilang/ Sekolah tak membuat pintar/ Sebab itu dihamburkannya uang negara/ Untuk hal-hal yang membuat para cendikia kaget dan termenung/ Sebab itu diabaikannya mutu dan gaji guru/ Sampai seorang netizen Malaysia bilang/ Di akhirat nanti, ia akan berbaris dibelakang Abu Lahab// Ah, orang tua/ Kabarkan untukku yang belum 30 tahun ini/ Apakah di jamanmu/ Masih ada Harvard, NUS, ANU, Oxford/ atau Universitas Beijing?/ Atau jangan-jangan pemimpinku sekarang yang benar?// Orang tua, segera balas suratku ya... / Sekaligus kabarkan, apakah Disway masih ada?/ Apakah Bli Putu masih jadi Sekjen ISTI?/ Apakah Cak Mul sudah jadi juragan besar?/ Echa Yeni masih amburadul kalau menulis?/ App Disway sudah ada gegara teror Bung Hasyim?// Orang tua, semoga dirimu selalu sehat, ya... //

Turrachman Rachman

Uceng, wader, deleg selalu enak kalau sudah digoreng. Apalagi ada sambal terasi dan nasi yang fua fua. Kalau sudah menikmatinya maka dijamin tidak deleg deleg

Forsandy Kurniawan David

deleg -deleg dalam pengertian jawa. apa sama dengan lenger lenger artinya mung iso pasrah. sambil hirup nafas sedalam dalamnya

Murid SD Inpres

"mengejar yang kecil, KEHILANGAN YANG BUESAR" ! NHA INI.... ! INI... ! pas betul, dari kemarin saya mau ngomong ini. perhatikan. betapa para perusuh CHD di sini begitu konsisten request / minta lungsuran Redmi, request sepatu ukuran 42, dan satu lagi minta dibikinkan app....... itu semua buat saya remeh-temeh ! terlalu mengejar hal-hal yang kuecil ! sudah mengejar yg kuecil, mintanya malu-malu kucing pula ! ada yg pakai pantun, sajak, puisi, sampai gojekan dan poyokan. halah, kelamaan ! nih, lihat..... bagaimana cara meminta sesuatu, YANG BUESAR . ekhm.... *ambil microphone... ABAH DAHLAN ISKAN !! SAYA MINTA LUNGSURAN EMAS 74 KILO !!

Captain Bejo

uceng mosok abah gak tahu ? bentuknya lonjong kecil-kecil dan suka bergerombol. mirip iwak kuthuk tapi dalam bentuk mini

Datuk Diraja Dimyani

Deleg-deleg itu sifatnya lesu, pasrah, gak habis pikir, ada penyesalan, kamitenggengen (opo eneh iki). Contoh deleg-deleg barusan kena tipu jutaan rupiah di depan mata dan baru sadar sudah ketipu. Kalo girab-girab itu ada sifat ketakutan, pingin lari menjauh, ada kekhawatiran, kadang sambil teriak-teriak. Contoh ketemu hantu. Sekian penjelasan nya terimagajih

Wilwa

Ikan deleg (Jawa) = ikan gabus (Indonesia) = snakehead (English) = channa [genus] striata [species] (Latin) = Lǐ 鱧 ☕️

pak tani

Bukan meritokrasi, tapi dinasti. Bukan revolusi, tapi degradasi. Bukan koprasi, tapi korupsi. Bukan prestasi, tapi kolusi. Bukan gizi, hanya sekedar ilusi.

Datuk Diraja Dimyani

Saya tau mana uceng ketika di warung ada keripik goreng uceng atau uceng crispy yaitu ikan kecil2 yang digoreng di kasih tepung berbumbu. Tau deleg juga diwarung yang menjual bothok atau pepes, dibungkusan daun nya ada tulisan wader, itu pun kalau betul informasi abah ikan deleg adalah ikan wader. Ikan wader banyak duri lembutnya dan memang ukuran lebih besar dari ikan uceng. Sekian informasinya terimagajih

Tivibox

Saya telusuri arti deleg-deleg, akhirnya ketemu. Artinya kurang lebih : duduk diam dengan tatapan kosong karena bingung, melamun atau stress (seperti orang yang kebingungan memikirkan masalah berat atau sedang kecewa). Apakah situasi sekarang ini bisa membuat kebanyakan orang deleg-deleg ? Jawabannya bisa beragam. Tergantung yang jawab jujur atau tidak.

yea aina

Pak@AS3, rasanya ada kemubadziran ongkos retreat (orientasi kepemimpinan) di lembah Tidar, belum lama ini. Kemendagri mebiayai 13 ember, untuk kegiatan itu selama 8 hari. Tiap kepala daerah (KDH) masih harus "mencomot" APBD masing-masing untuk ongkos akomodasi dan transportasi PP. (@ 22 jt++). Hasilnya, Anda sudah tabu. Seperti yang dipaparkan Pak @AS3.

Irary Sadar

Anehnya semua pejabat, dari menteri hingga kepala desa menyetujuinya. Tidak ada yang menolak. Apa pola pikir mereka sama dengan atasannya yang -diduga- NRP dan Demensia..?

yea aina

Melanjutkan "umpan lambung" Bli @LP: Di sini jabatan ketum atau "petugas" partai bisa rangkap jabatan sebagai kepala pemerintahan. Hal itu berpotensi besar, terjadi penyalahgunaan wewenang. Keuangan negara dialihfungsingkan sebagai modal pemenangan pemilu partainya. Membesarkan partai (melalui) keuangan negara. Kepentingan kelompok (partai) lebih utama, daripada kepentingan orang banyak (rakyat). Menjadi tanda tanya besar, kalau yang merangkap jabatan itu seorang "petugas" partai. Alih-alih membesarkan partai yang menugaskannya, ups.... ia malah scale up dinasti keluarganya. "Mewariskan" jabatan penting kepada anak-anak dan menantunya. Pun masih menyisakan pertanyaan selanjutnya: adakah "ceceran" keuangan negara yang sempat "nyasar" ke kantong dinastinya? Mbuhlah... YNTKTS.

Wilwa

@AgusS3. Believe it or not, menurut arkeolog Tiongkok, dahulu kulit kerang atau 贝/貝 digunakan sebagai alat tukar alias uang sebelum kemudian diganti logam seperti emas 金 atau perak 银/銀. Belajar aksara Mandarin memang sebaiknya jugaw belajar dari pakar arkeolog. Bisa ditelusuri di internet. Lalu 亏. Arkeolog sendiri tak tahu pasti ini gambar apa, atau ide apa, sehingga terbuka bagi tafsir yang luas. Ada kemungkinan berkaitan dengan 号. Tapi kita tahu ada alternatif penulisan 污 yaitu 汙. Apakah ide 亏 = 于? Satu lagi alternatif penulisan 污 adalah 汚. Hmmm. Shuowenjiezi 說文解字 mengatakan 亏 = 一 + 丂 atau satu hembusan nafas/ exhale. Namun di masa kini 亏 artinya loss, deficit, harm, hurt, lose, lack of, short of, deficient. Hmmm. “Obok-obok” yang saya “create” itu terilhami oleh pepatah 人不亏地,地不亏人. Manusia 人tidak 不“obok-obok” 亏bumi 地, bumi 地tidak 不 “obok-obok” 亏 manusia 人. :)

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KULIAH AKSARA PAK WILWA: SULIT, TAPI MENGHIBUR.. Pak Wilwa, saya mencoba memahami kuliah Bapak kemarin. Saya amati satu per satu. Kesimpulan saya: sulit banget. 1) Mulai dari 贪. 今 + 贝. “Uang sekarang” lalu menjadi serakah. Menarik. Tetapi saya curiga itu lebih cocok disebut jurus menghafal daripada rumus penciptaan aksara Mandarin. 2) Lalu 污. Ada 氵 yang memang berkaitan dengan air. Tetapi “air diobok-obok jadi keruh” itu sudah masuk wilayah kreativitas dosen. 亏 sendiri bukan berarti “diobok-obok”. 3) Kemudian 贿. 贝 memang punya hubungan historis dengan harta. 有 berarti punya. Tetapi 贿 bukan berarti “sejahtera karena punya duit”. Makna modernnya justru suap. 4) Terakhir 赂. 贝 + 各. “Semua urusan mesti uang.” Ini paling menghibur. Secara kamus memang berkaitan dengan suap. Tetapi tafsir “semua urusan pakai duit” jelas bonus humor Pak Wilwa. Jadi saya simpulkan: aksaranya benar, maknanya ada dasarnya, tetapi tafsirnya jangan semuanya dibawa ke ruang sidang etimologi. Pak Wilwa mengajar Mandarin. Saya belajar sambil ketawa. Kuliah gratis begini mestinya memang tidak boleh terlalu serius.

Kujang Amburadul

Anda masih ingat nama dokter Mun'im Idris Alm. Dokter di RS Polri (maaf kalau saya salah). Beliaulah yg akan jd pusat berita kalau ada peristiwa pembunuhan yg sedang disidik polisi. Beliau dokter forensik yg bertugas mengekhumasi mayat untuk menentukan penyebab kematiannya. Dan yg menarik adalah keprofesionalannya. Dia buka ke media hasil otopsinya tanpa rekayasa dan bahkan fihak kepolisian nampaknya tak "berani intervensi" Padahal saat itu sosmed dan istilah viral belum marak. Ngeri kali ya? Seolah kalo coba membantahnya, beliau akan bilang :"berani Lo maksa gua, gua sayat2 Lo pake piso bedah, mau?" Soalnya kalo beliau sedang cerita, seolah mengotopsi mayat itu kayak lagi motong2 ayam saja. Kalau saja beliau masih hidup, pasti mayat Sutrimo ini beliau yg akan otopsi. Nah. Pada kasus kematian Sutrimo muncul lagi nama Febrio Adiano yg nampaknya banyak tahu tentang Sutrimo, juga diakui Anang Jubir Kejakgung bahwa ia benar pegawai kejaksaan tetapi bukan jaksa. Nah, sekarang si Febrio ini yg mungkin berikutnya bisa jadi terancam (bukan tersangka). Yg berpeluang di "Sutrimo-kan"? Maka nanti akan jadi kerjaan ekhumasi lagi. Dan nambah lagi pekerjaan Pak Mun'im Begitu kira2. Ah, tapi ini hanya khayalan saya saja.

Murid SD Inpres

deleg deleg itu apakah sinonim dengan facepalm dalam bahasa inggris? atau speechless dalam bahasa brebes? kalok iya, ilustrasi berikut apa cocok sebagai contoh? udin: "pak ustat, apa hukum ikut merayakan imlek bagi umat islam?" pak ustat: "haram!" udin: "kalok angpao nya?" pak ustat: "e? mubah kalok itu, alias boleh, saya titip minta 1, ya?" #deleg deleg

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 45

  • Ulil Abshor
    Ulil Abshor
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • alasroban
    alasroban
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • DeniK
    DeniK
  • Edyanto
    Edyanto
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • DeniK
    DeniK
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • alasroban
    alasroban
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Zakaria Chen fu
    Zakaria Chen fu
    • siti asiyah
      siti asiyah
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
  • Sugi
    Sugi
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Lilik Harnadi
      Lilik Harnadi
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • nur cahyono
      nur cahyono
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul