Politik Simbol Kepala Kerbau
Muhammad Iqbal Khatami (Founder Muda Bicara ID): Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo langsung membuat heboh jagat maya dan panggung politik nasional dengan menerima gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dari sejumlah kerajaan adat di Kedat-dok disway-
JAKARTA, DISWAY-ID - Presiden ke-7 RI Joko Widodo memulai safari politik pertamanya ke Provinsi Lampung.
Di momen ini, Jokowi langsung membuat heboh jagat maya dan panggung politik nasional dengan menerima gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dari sejumlah kerajaan adat di Kedatun Keagungan Lampung.
Di luar sakralnya gelar tersebut, satu momen visual yang menyita perhatian publik adalah prosesi di mana Jokowi menginjakkan kakinya di atas kepala kerbau yang telah disembelih.
Dalam adat setempat, prosesi ini merupakan tradisi luhur yang menyimbolkan kerendahan hati, dan membuang sifat buruk beserta ego.
Namun, di arena diskursus politik, peristiwa ini menjadi komoditas tafsir yang beraneka ragam. Banyak pihak yang mengaitkan anatomi kepala kerbau dengan banteng yang merupakan simbol PDI Perjuangan, dan menafsirkan hal tersebut sebagai simbol politik tertentu.
Simbol, Realitas, dan Ruang Tafsir
Dalam kacamata komunikasi politik, apa yang dilakukan oleh Jokowi merupakan manifestasi nyata dari apa yang disebut oleh Murray Edelman sebagai The Symbolic Uses of Politics (1964).
BACA JUGA:Safari Politik Jokowi Dinilai Berpotensi Geser Dukungan, Ini Kata Partai Golkar
Edelman menegaskan bahwa politik bagi sebagian besar masyarakat bukanlah rentetan fakta obyektif atau deretan kebijakan empiris, melainkan sebuah parade simbol yang terus-menerus ditafsirkan.
Tindakan politik tidak sekadar berfungsi instrumental, tetapi lebih banyak bersifat ekspresif yakni untuk mengelola persepsi audiens, membangkitkan emosi partisan, atau menunjukkan legitimasi kuasa.
Simbol yang dikomunikasikan, baik itu secara benda maupun tindakan, memang tidak memiliki makna yang melekat secara permanen. Makna tersebut dikonstruksi secara aktif oleh audiens berdasarkan konteks.
Jika kita membedah peristiwa ini menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes, kita akan menemukan pertarungan sengit antara makna denotatif dan konotatif.
Secara denotatif, yakni dari kacamata makna harfiah atau objektif, penyembelihan kerbau dalam adat Lampung melambangkan kemakmuran, pengorbanan, dan penanda sahnya kenaikan status sosial seseorang dalam hierarki masyarakat.
Beberapa tokoh budaya dalam rilis pemberitaan menegaskan bahwa makna peletakan kaki bukanlah tindakan "menginjak untuk menghina", melainkan simbolisasi pengukuhan bahwa kurban benar-benar telah ditunaikan sebagai wujud rasa syukur.
BACA JUGA:Jokowi Ritual Injak Kepala Kerbau Jadi Sorotan, Petinggi 'Partai Banteng' Tidak Tersinggung?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: