Jejak Kaki di Kepala Kerbau
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
BACA JUGA:Politik Simbol Kepala Kerbau
Karena itu, memahami ritual adat Lampung harus dimulai dari cara pandang masyarakat Lampung sendiri, bukan dari imajinasi politik media sosial.
Kerbau dalam Kebudayaan Nusantara
Menariknya, kerbau memang memiliki posisi yang sangat istimewa hampir di seluruh Nusantara. Di Toraja, kerbau bahkan menjadi simbol status sosial, kehormatan keluarga, sekaligus kendaraan spiritual menuju alam leluhur.
Semakin tinggi derajat seseorang, semakin banyak kerbau yang dikurbankan.
Kerbau belang (tedong bonga) bahkan memiliki nilai ekonomi yang luar biasa karena diyakini memiliki kedudukan simbolik yang tinggi.
BACA JUGA:SBN Masih Layak Dikoleksi di Tengah Gejolak Pasar Modal Global
Dalam tradisi Jawa, kerbau Kiai Slamet di lingkungan Keraton Surakarta dimuliakan setiap malam 1 Suro. Ribuan orang mengikuti kirabnya karena dipercaya membawa berkah.
Di Minangkabau, bentuk tanduk kerbau menjadi identitas budaya yang melekat pada rumah gadang. Di sebagian wilayah Banten saat Idul Adha cenderung masyarakat Serang Banten menyemblih hewan kerbau tidak sapi.
Menurut tokoh masyarakat Banten, itu merupakan bentuk toleransi Sultan Banten pada masyarakat yang belum memeluk Islam.
Di berbagai daerah agraris Indonesia, kerbau adalah simbol kerja keras, kesabaran, kekuatan, sekaligus kemakmuran.
Artinya, kerbau hampir selalu diposisikan sebagai hewan yang dihormati. Namun penghormatan terhadap kerbau tidak selalu diwujudkan dalam bentuk yang sama. Justru di sinilah letak kekayaan budaya Nusantara.
BACA JUGA:Homo Debatus
Mengapa Kepala Kerbau Diinjak?
Pertanyaan publik sebenarnya sederhana. Jika kerbau dihormati, mengapa kepalanya diinjak? Pertanyaan ini masuk akal. Namun antropologi mengajarkan bahwa simbol tidak bekerja secara harfiah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: