SBN Masih Layak Dikoleksi di Tengah Gejolak Pasar Modal Global

SBN Masih Layak Dikoleksi di Tengah Gejolak Pasar Modal Global

Dalam dua minggu terakhir, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik dan menembus level 7%, ditutup pada 7,24% per 24 Juni 2026.-dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam dua minggu terakhir, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik dan menembus level 7%, ditutup pada 7,24% per 24 Juni 2026.

Kenaikan ini dipicu kombinasi tekanan dari sisi global dan domestik. Akan tetapi, secara historis, posisi yield 10 tahun pada rentang 6,8 sampai 7,3% cenderung menjadi titik masuk (entry point) yang atraktif.

Tinjauan ini menguraikan faktor pendorong kenaikan yield serta argumen mengapa level saat ini berpotensi membuka peluang akumulasi yang menarik bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang.

Tekanan Global: Konflik di Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak

Sumber tekanan utama berasal dari eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah rangkaian serangan udara terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz pada awal Maret 2026 dan mengancam akan menyerang kapal yang melintas.

Karena selat tersebut menjadi jalur bagi sekitar seperempat perdagangan minyak mentah global, akibat penutupan selat tsb harga minyak mentah melonjak. Harga acuan Brent sempat melampaui USD100/bbl pada 8 Maret 2026 dan secara kumulatif naik lebih dari 50% selama puncak konflik.

Bagi Indonesia yang berstatus importir neto minyak (net importer), lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi impor dan tertekannya daya beli masyarakat.

Kombinasi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global, khususnya untuk negara pasar berkembang (Emerging Market) yang sensitif terhadap harga energi, serta kekhawatiran inflasi domestik, mendorong yield SBN naik ke level yang secara historis tergolong tinggi.

BACA JUGA:Investasi Imbal Hasil Kompetitif, bank bjb Tawarkan SBN Ritel SR024

Tekanan Domestik: Disiplin Fiskal dan Defisit APBN

Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada disiplin fiskal dan prospek defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Beban subsidi energi yang meningkat di tengah konflik, serta kekhawatiran atas rencana belanja pemerintah, menambah sentimen kehati-hatian terhadap risiko fiskal. Tekanan diperberat oleh pelemahan rupiah yang berulang kali menyentuh level terlemah, disertai arus keluar dana asing dari aset domestik, yang sempat menekan kepemilikan asing pada obligasi domestik mendekati level terendah dalam hampir dua dekade.

Responnya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menopang nilai tukar rupiah, sementara pemerintah meluncurkan dana stabilisasi obligasi (Bond Stabilization Fund) guna meredam volatilitas pasar surat utang.

Valuasi: Real Yield Indonesia Terdepan di Kawasan

Meski kenaikan yield mencerminkan naiknya persepsi risiko, level imbal hasil saat ini sekaligus menawarkan kompensasi yang relatif menarik. Indikator yang relevan adalah imbal hasil riil (real yield), yaitu yield nominal dikurangi laju inflasi tahunan.

Dengan yield 10 tahun sebesar 7,24% dan inflasi tahunan sebesar 3,08% per 24 Juni 2026, real yield Indonesia mencapai 4,16%, posisi tertinggi di antara negara sekawasan.

Angka tersebut berada jauh di atas India (2,87%), Malaysia (1,63%), dan Filipina (0,23%), sementara Thailand dan Vietnam justru mencatat real yield negatif (Grafik 1).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: