Homo Debatus

Homo Debatus

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Ada zaman ketika manusia berburu rusa. Ada zaman ketika manusia berburu rempah-rempah. Kini kita memasuki zaman yang lebih maju dan lebih mengagumkan: zaman berburu komentar.

Setiap hari, jutaan manusia bangun tidur dengan semangat luar biasa, bukan untuk mencangkul sawah, memperbaiki jalan rusak, atau mengobati orang sakit.

Tidak. Mereka bangun dengan tekad suci untuk mengomentari segala sesuatu yang bergerak, yang diam, bahkan yang belum terjadi.

BACA JUGA:Apakah Emas Sudah Murah?

Maka lahirlah spesies baru yang mungkin belum sempat dicatat para ahli biologi: Homo Debatus. Ciri khasnya sangat unik. Mulutnya selalu siap siaga dua puluh empat jam. Telinganya masih ada, tetapi hanya sebagai aksesori wajah.

Fungsinya tidak lagi untuk mendengar, melainkan untuk menopang gagang kacamata.

Spesies ini tersebar di mana-mana. Mereka bisa ditemukan di televisi, podcast, grup WhatsApp keluarga, kolom komentar media sosial, warung kopi, bahkan di acara hajatan.

Topik yang dibahas pun sangat luas. Pagi menjadi pakar ekonomi. Siang berubah menjadi ahli geopolitik. Sore menjelma menjadi pakar kesehatan. Malam hari mendadak menjadi ahli agama, filsafat, psikologi, tata kota, tata surya, dan mungkin tata rias.

BACA JUGA:Dapur yang Paling Membutuhkan

Hebatnya lagi, mereka mampu berbicara dengan keyakinan penuh, walaupun pengetahuan yang dimiliki sering kali hanya sebesar judul berita yang belum selesai dibaca.

Yang lebih menarik, para pengamat modern memiliki kemampuan istimewa yang menakjubkan. Mereka dapat berdebat selama tiga jam tanpa satu pun pihak yang berubah pikiran. Sebuah prestasi yang layak diusulkan masuk museum.

Tujuan debat zaman sekarang memang bukan lagi mencari kebenaran. Kebenaran itu terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah mencari kemenangan.

Kalau perlu, kemenangan poin. Kalau tidak bisa menang dengan data, menanglah dengan volume suara. Jika volume suara masih kalah, gunakan jurus pamungkas: nyinyir.

BACA JUGA:Presiden dan Para Pengolok

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: