Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak

Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak

Ahmad Sihabudin: Di sebuah republik yang gemar merawat ingatan sekaligus mudah lupa, hiduplah satu tipe tokoh yang sulit benar-benar pergi, mantan orang nomor dua yang merasa sejarah belum selesai menuliskan dirinya.--

JAKARTA, DISWAY.ID - Di sebuah republik yang gemar merawat ingatan sekaligus mudah lupa, hiduplah satu tipe tokoh yang sulit benar-benar pergi: mantan orang nomor dua yang merasa sejarah belum selesai menuliskan dirinya.

Ia telah turun dari panggung, tetapi tidak dari cerita. Bahkan, belakangan ini, ia tampak berusaha menjadi penulis tunggal dari kisah yang seharusnya ditulis bersama.

Dalam versinya, sejarah adalah garis lurus yang ujung-ujungnya selalu menunjuk pada dirinya. Seorang pernah jadi gubernur ibu kota? Ia hadir sebagai tangan tak terlihat.

Ada yang melaju menjadi presiden? Ia mengaku pernah meniup angin di layar kapal itu. Demokrasi, yang semestinya riuh oleh banyak suara, dalam kisahnya terdengar seperti monolog panjang, dengan dirinya sebagai narator sekaligus pahlawan.

Di titik ini, kita teringat pada kegelisahan Friedrich Nietzsche tentang manusia yang terlalu mencintai dirinya sendiri hingga menciptakan versi kebenaran yang nyaman.

BACA JUGA:Prabowo Subianto Datang Jenguk Korban Kecelakaan KA di Bekasi

Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyindir kecenderungan manusia untuk menjadikan diri sebagai pusat makna. Dan sang mantan, entah sadar atau tidak, tampak sedang menulis “Zarathustra versi politik”, hanya saja tanpa kesunyian refleksi, melainkan dengan kebisingan klaim.

Padahal, publik tahu: kekuasaan itu kerja kolektif. Ia lebih mirip dapur umum daripada dapur pribadi. Banyak tangan mengaduk, banyak kepala memberi bumbu.

Namun sang mantan tampaknya lebih menyukai metafora dapur sepi, di mana ia berdiri sendiri sebagai koki utama, sementara yang lain hanya dianggap asisten yang lupa disebut.

Ini yang membuatnya semakin satir adalah pilihan panggungnya hari ini. Alih-alih berdiri sebagai penyejuk, ia justru sibuk dengan perkara-perkara kecil, dalam skala kenegaraan, terasa seperti memperdebatkan warna serbet di tengah kebakaran rumah.

Dokumen lama dibongkar, istilah diucapkan dengan penuh percaya diri, tetapi sering kali tersendat, termul-termul seperti kaset yang pita magnetiknya mulai aus.

Dalam momen klarifikasi, ia tampak ingin tegas, tetapi justru menghadirkan ambiguitas. Kata-katanya seperti ingin menjadi palu, tetapi jatuh sebagai kapas. Publik pun menonton dengan dua perasaan: antara ingin memahami, atau sekadar menikmati absurditasnya.

BACA JUGA:Update Tabrakan Kereta di Bekasi Timur: Evakuasi Berlanjut dengan 92 Korban, 7 Meninggal dan 85 Selamat

Di sini, bayangan filusuf Hannah Arendt terasa relevan. Ia pernah mengingatkan tentang “banalitas”, bagaimana sesuatu yang besar bisa tereduksi menjadi hal remeh ketika kehilangan kedalaman berpikir.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: