Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak
Ahmad Sihabudin: Di sebuah republik yang gemar merawat ingatan sekaligus mudah lupa, hiduplah satu tipe tokoh yang sulit benar-benar pergi, mantan orang nomor dua yang merasa sejarah belum selesai menuliskan dirinya.--
Politik, yang seharusnya menjadi ruang kebajikan publik, bisa berubah menjadi arena kecil ketika aktornya terjebak pada detail yang tak proporsional.
Sang mantan, dalam segala kebesarannya dahulu, kini seperti terperangkap dalam detail yang menggerus wibawa itu sendiri.
Lebih jauh lagi, kita juga bisa meminjam kacamata Jürgen Habermas tentang ruang publik. Ia membayangkan ruang diskursus sebagai tempat rasionalitas diuji, argumen dipertukarkan dengan itikad baik.
Namun apa yang terjadi ketika ruang itu diisi oleh klaim sepihak yang berulang? Ia berubah menjadi gema, bukan dialog. Suara dipantulkan, bukan dipertemukan.
Sang mantan, yang seharusnya menjadi teladan dalam etika komunikasi, kini justru tampak larut dalam performativitas: berbicara bukan untuk menjernihkan, tetapi untuk memastikan dirinya tetap terdengar.
Ia seperti seorang aktor yang lupa bahwa lakon telah selesai, tetapi masih terus melafalkan dialog di panggung yang lampunya sudah redup.
Padahal, dalam tradisi klasik, seorang negarawan diukur bukan dari seberapa lama ia berbicara, tetapi dari seberapa anggun ia berhenti.
Confucius pernah menekankan pentingnya li kepantasan dalam bertindak. Termasuk kepantasan untuk tahu kapan mundur, kapan memberi ruang. Sebab dalam mundur yang tepat, terdapat kehormatan yang tidak bisa dibeli oleh sorotan kamera.
BACA JUGA:13 Perjalanan KA Jarak Jauh Dibatalkan Imbas Tabrakan Argo Bromo dan KRL, KAI Refund Full Tiket
Namun mungkin, persoalannya bukan sekadar soal lupa mundur. Bisa jadi ini tentang kegelisahan yang lebih dalam: ketakutan untuk tidak lagi relevan. Dalam dunia yang bergerak cepat, dilupakan terasa lebih menakutkan daripada disalahpahami. Maka dipilihlah jalan yang paling mudah: tetap muncul, tetap bersuara, meski yang dibicarakan semakin jauh dari kebesaran yang dulu melekat.
Kita pun melihat paradoks yang menarik. Dulu, ia berada di pusat kekuasaan, tempat keputusan besar diambil. Kini, ia berada di pinggiran percakapan, tetapi dengan volume yang tetap tinggi. Seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa jarak dari pusat tidak mengurangi pentingnya suara, meski isi suaranya semakin tipis.
Dan di sinilah satire menemukan rumahnya. Sebab tidak ada yang lebih ironis daripada kebesaran yang mengecil oleh dirinya sendiri. Seorang yang pernah menjadi simbol stabilitas, kini tampak seperti komentator yang tak lelah mengomentari, bahkan hal-hal yang tak perlu dikomentari.
Barangkali, jika ia mau sedikit saja menengok ke dalam, ia akan menemukan bahwa warisan tidak dibangun dari klaim, melainkan dari ketenangan. Bahwa jasa tidak perlu diteriakkan agar diingat. Bahwa sejarah, seperti sungai, akan menemukan jalannya sendiri—tanpa perlu ditarik ke arah tertentu.
Namun hingga saat itu tiba, kita hanya bisa menyaksikan. Dengan senyum tipis, dengan sedikit geleng kepala. Sebab di negeri ini, bahkan gema pun bisa terasa seperti pidato, selama ia diucapkan dengan cukup yakin.
Dan sang mantan, tampaknya masih percaya: selama ia berbicara, sejarah belum selesai. Padahal mungkin, yang belum selesai bukan sejarah, melainkan perpisahannya dengan panggung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: