Teori Harga
lustrasi tandan buah sawit yang berhadapan dengan simbol penegakan hukum, menggambarkan dinamika pembentukan harga di tengah ancaman sanksi terhadap pelaku industri.--
Tanpa bermaksud memuji dan menyetujui langkahnya, saya infokan dengan nada gembira bahwa harga pembelian sawit petani sudah baik (Lihat Disway 10 Juni 2026: Mulai Move-on). Saya pun menyalaminya. Dengan polos saya infokan bahwa para pengusaha sawit tampaknya sudah bisa menerima kebijakan ekspor satu pintu lewat Danantara Sumberdaya Indonesia.
Yang saya salami itu anak muda, gagah, tegap, dan berwajah serius. Bajunya putih, celana hitam. Di dadanya ada lambang yang menandakan ia anggota kabinet Presiden Prabowo. Namanya: Sudaryono. Jabatannya: wakil menteri pertanian. Maka Anda pun sudah tahu: ia adalah salah satu dari Hambalang Boys.
"Mereka memang saya ancam, Pak. Izin kebun sawit mereka akan kami cabut," ujar Sudaryono. "Kasihan petani sawit. Jumlah mereka 25 juta petani," tambahnya. "Kalau masih bandel akan saya laporkan ke polisi," kata Sudaryono.
Saya pun kecele. Saya pikir harga beli TBS sudah baik karena pengusaha sawit sudah melewati masa-masa marah dan penolakan mereka. Lalu mereka bisa menerima keadaan, pasrah dan move on. Ternyata bukan semua itu. Ternyata para pengusaha lebih takut oleh ancaman dari Kementerian Pertanian.

Dahlan Iskan berbincang dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.--
Setelah bertemu Sudaryono itu pun saya menghubungi jaringan yang ada di Riau dan Sangatta Kaltim. Salah satu petani di Kaltim itu punya kebun sawit 100 hektare. Ayahnyi dulu teman baik saya di kegiatan sosial di sana. Mereka ternyata membenarkan apa yang dikatakan Sudaryono. "Mereka takut semua," ujar petani di Kaltim itu.
Sejak Presiden Prabowo berpidato di DPR di hari Kebangkitan Nasional akhir Mei lalu harga buah sawit petani memang hancur. Dari semula Rp3.400 tinggal Rp2.100. "Lebih satu minggu petani menderita dengan harga jatuh itu," ujar petani muda itu.
Dari Riau saya dapat kiriman data ancaman itu. Sebanyak 22 PKS di sana dapat surat ancaman. (Singkatan PKS kini sama populernya dengan PKS –yang satu berarti Pabrik Kelapa Sawit yang satunya Anda sudah lama tahu). Saya baca satu per satu nama PKS di enam kabupaten di seluruh Riau yang akan ditindak itu.
Ternyata ancaman serupa tidak hanya di Riau: merata di seluruh Indonesia. Total ada 280 PKS yang diancam –kalau perlu dipidanakan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman ternyata sudah resmi kirim surat ke Kapolri. Isinya pengaduan untuk 280 PKS itu: agar mereka ditindak. Alasannya: pengusaha telah melakukan permainan harga.
"Dengan kurs dolar tinggi seperti sekarang ini seharusnya harga pembelian TBS justru naik," tulisnya di surat ke kapolri itu. Berdasar monitoring lapangan, harga tandan buah sawit justru turun drastis.
Para pengusaha sebenarnya tidak bermaksud memainkan harga. Mereka panik oleh perubahan kebijakan pemerintah yang mereka anggap tiba-tiba. Mereka takut punya stok berlebih. Mereka ingin tahu lebih dulu kejelasan dari peraturan itu.
Namun petani sawit memang sangat marah. Mereka lebih marah pada pemerintah dari pada ke PKS. Alasannya: itu tadi, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru tiba-tiba bahwa ekspor sawit harus lewat satu pintu BUMN. Kata ''BUMN'' sendiri sudah menimbulkan rasa kurangnya kepercayaan akan kelangsungan masa depan ekspor sawit.
Di seluruh Indonesia ada 1.200 PKS. Terbesar di Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kaltim, dan Kalteng. Jumlahnya terus bertambah. Sulawesi dan Papua pun kini sudah terwabah sawit.
Bahwa yang dilaporkan ke kapolri hanya 280 PKS. Dasarnya hanya dari sekitar itulah yang melaporkan jatuhnya harga. Tapi PKS yang belum dilaporkan pun sudah ikut takut.
Ke depan, mata kuliah di fakultas ekonomi rupanya harus dimasukkan teori baru ini: pembentukan harga tidak hanya ditentukan oleh ''hukum supply and demand'', tapi juga oleh ancaman pidana dari menteri pertanian.
Teori ini rupanya diyakini benar oleh sang menteri. Teori itu pernah ia pakai saat harga beras naik. Juga saat harga daging naik. Yang belum dipakai adalah saat harga diri turun. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 11 Juni 2026: Mati Lumbung
Edi Sampana
Perasaan saya diaduk aduk membaca tulisan Abah hari ini. karena saya yang lahir di kab HSU, prov Kal Sel tahun 60-an, melihat sendiri hampir setiap hari kayu gelondongan (diameter sampai 1 meter, panjang 5 meter) dihanyutkan di sungai Martapura (lebar sekitar 40 meter). Yang hasil penebangan di hulu sungai. Waktu itu, sebagai anak-anak miskin (makan 2 kali yaitu pagi dan sore) belum berfikir bahwa itu kayu ditebang untuk diekspor, bahwa kayu itu menghasilkan uang untuk negara. Tahunya bahwa yg punya kayu adalah PT Yayang, penebangan kayu itu berakibat warna air sungai berwarna keruh/coklat.
Jokosp Sp
Penilaian tidak bisa sepihak dari sisi pengusaha yang katanya nakal. Di pemerintahan sendiri hampir tidak disentuh. Siapa sebenarnya awal pembuat sulit perijinan terbitnya iup dan ijin puluhan lainnya?. Siapa yang mempersulit proses pajak?. Siapa yang mempersulit proses laporan hasil tambang per triwulan dan tahunannya?. Pengusaha itu terpaksa mengikuti arus, jika tidak maka usaha akan tersendat dan selalu dipersulit. Belum lagi mereka yang mengaku sebagai pengawas dan mereka yang berseragam, yang memunculkan pajak-pajak tidak resmi yang nilainya sangat besar. Sistem korupsinya tidak pernah dihilangkan dengan berani dan tegas, apalagi hukuman mati ke pejabatnya. Omon omon saja, apalagi sekarang cuma kelompoknya yang dijadikan pejabatnya. Dan sudah terbukti ikut main juga jadi koruptor. Apa sulitnya copi paste sistem komunis untuk menghabisi para koruptor itu?. Malunya sudah tidak ada ternyata. Tetapi ktp nya semua beragama.
riansyah harun
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Atau lebih baik telat daripada nanti nanti lagi.... Rakyat di negeri ini, rasanya sudah kenyang akan ber bagai cobaan. Termasuk harga BBM Pertamax yang sudah mulai meroket dari harga kemarin kemarinnya. Sampai sampai para petani dan nelayan yang mesinnya harus bekerja untuk menanam dan menangkap ikan, menjadi ter sendat sendat. Yang berakhir di masyarakat dengan harga yang mulai mencekik. Sebentar lagi tidak sampai hitung sekian tahun, akan ada Pemilihan Presiden, dan jika Presiden saat ini masih akan terpilih kelak, maka masyarakat masih bisa berharap walaupun tidak banyak dari segi "lebih baik telat daripada tidak sama sekali". Sehingga PT DSI yang diharapkan untuk bisa menjaga pasal 33, masih tetap bisa diandalkan. Upsss.., asalkan wewenangnya yang begitu besar tadi, harus dibersihkan dari sistim yang ada celah bolongnya. Sehingga sindiran dari 10 pengusaha, ada 15 yang nakal, bisa dikurangi menjadi 1 saja yang nakal. Karena takut pada PT DSI yang bersih itu.
Lekas Jaya
Abah memotret dengan tajam ironi klasik tata kelola SDA kita: privatisasi keuntungan, sosialisasi kerugian. Dari kacamata ketahanan energi nasional, manuver pengusaha batu bara yang mengabaikan DMO (Domestic Market Obligation) bukan sekadar kenakalan administratif, melainkan ancaman sistemik terhadap stabilitas ekonomi riil—terbukti dari bayang-bayang defisit listrik Jawa-Bali. Langkah radikal sentralisasi ekspor via PT DSI memang sebuah shock therapy yang esensial. Ini adalah instrumen pamungkas untuk mendekonstruksi praktik rent-seeking, under invoicing, dan pelarian devisa. Namun, tantangannya kini bergeser ke tubuh Danantara sendiri. Monopoli ekspor ini menuntut Good Corporate Governance tingkat tinggi agar tidak melahirkan inefisiensi birokrasi atau celah korupsi baru. Ketegasan mencabut izin pengekspor nakal adalah harga mati, agar tragedi 'ayam mati di lumbung' peninggalan era emas hijau benar-benar terkubur di era emas hitam ini.
Tiga Pelita Berlian
Pak Agus .. Cerita Bapak ttg sabun Cap Tangan, mengingatkan saya akan masa kecil duluu di Jember, th 80-an. Mandi & cuci pakai sabun warna hijau tsb.. dan para orangtua gosok gigi pake bata merah . Apakah Abah Dis pernah mengalami jg? Hehe Seklangkong
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Lagarrenze 1301.. DIADAPTASI DARI IKLAN SABUN LUX.. Saat saya masih anak-anak, saya sering baca iklan sabun Lux: 1) "9 dari 10 bintang film menggunakan sabun Lux." 2) "Sabun kecantikan para bintang film." Saya sendiri kalau mandi pakai sabun cuci batangsn "cap tangan". Soalnya, belinya sekalian untuk nyuci pakaian. Itupun belinya boleh separo. Dipotong pakai pisau. ## Untuk kasus tambang, mungkin begini guyonannya.. "Dari 10 pengusaha tambang, 9 nakal." "Lalu yang satu?" "Masih magang. Belum lulus sertifikasi." ## Atau Anda juga bisa milih yang ini: "Dari 10 pengusaha tambang, 9 nakal." "Yang satu baik?" "Gak tahu. Karena belum ketahuan."
Lagarenze 1301
Satire yang sama pernah saya dengar. + Dari 10 pengusaha tambang, yang nakal ada 9. - Syukurlah, masih ada satu pengusaha yang baik. + Tidak. Yang satu itu sedang dalam proses menjadi nakal.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BATU BARA, DAN CINTA YANG SALAH ALAMAT.. Batu bara Indonesia itu unik. Tinggal di Indonesia, lahir di Indonesia, digali di Indonesia, tetapi lebih suka pergi ke luar negeri. Mirip kisah cinta yang tidak direstui logika. Negara bilang: sisakan sedikit untuk kebutuhan dalam negeri. Pengusaha menjawab: Iya. Lalu matanya melirik harga ekspor. Seperti mahasiswa yang berjanji belajar setelah Lebaran. Niatnya ada. Pelaksanaannya menunggu musim berikutnya. PLN pun kadang bernasib seperti suami sah yang kalah perhatian dari tetangga sebelah. Padahal listrik rakyat bergantung padanya. Untung PLN tidak bisa ngambek lalu update status di media sosial. Kini pemerintah membuat aturan baru. Ekspor satu pintu. Pengusaha protes. Itu juga wajar. 1) Dalam ilmu ekonomi ada biaya transaksi. 2) Dalam ilmu kehidupan ada biaya kehilangan kenyamanan. Yang menarik, batu bara sebenarnya benda paling jujur di republik ini. Sejak lahir warnanya hitam. Tidak pernah mengaku putih. Tidak pernah pencitraan. Justru manusianya yang kadang kreatif. Batu baranya diam di perut bumi jutaan tahun. Begitu keluar, mendadak banyak orang merasa itu hasil kerja keras pribadi. Mungkin batu bara hanya ingin berkata: "Saya ini milik negara. Jangan diperebutkan seperti warisan dari mertua yang masih sehat."
Ahmad Zuhri
Nah lho, berarti benar apa yg dilakukan pemerintah.. tinggal pengelolaan nya yg betul2 transparan dan profesional. Heran sama negara kecil sebelah itu.. tidak punya tambang minyak, batu bara, nikel, sawit tapi kok bisa2 nya ekspor itu. Ini mereka yg pintar, atau kita yg dibodohi bertahun-tahun. Kl lihat data2 yg dibeberkan oleh Prof Gema Suryadi (Astronaci) , kita mmg sedang di kepung dan serang dari segala penjuru.. terutama oleh negara kecil sebelah itu. Kl pemimpin2 kita cerdik, energi ini bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan jiwa patriot untuk kedaulatan nasional. Ini perang asimetris, harus konsolidasi dan memakai strategi yg cerdas.. Hanya ada satu kata.. LAWAN !!
Lilik Harnadi
Kalimat di alinea akhir cukup menggelitik : "Sangat telat melaksanakan aturan ini. Tapi kita sudah biasa mengatakan lebih baik telat daripada nanti-nanti lagi." Itu mirip yang dikatakan Mbah dulu : "Lebih baik lambat asal selamat" . Tapi anak-anak sekarang bilang : "Lebih baik cepat asal selamat" atau "Lebih baik ngebut asal gak benjut.:
djokoLodang
-o-- ... Kemarin, misalnya, saya dapat info listrik Jawa-Bali mulai defisit. ... *) Benar Abah. Lingkungan rumah saya di kawasan Bandung Utara mendadak "oglangan" l.k 2 jam, sekitar pukul 11-13. Tanpa pemberitahuan dari PLN. Belakangan, saat buka group WA teman-teman cerita mereka mengalami hal yang sama, tetapi dalam kurun waktu berbeda-beda. Ada yang dari pukul 15. Ada yang pukul 17-19. Adik saya di Bandung Barat pukul 18-20. --0-
Eyang Sabar56
Akhirnya gundah gulana Abah yang dipendam selama ini keluar juga. Setuju 1000%. Rakyat, pengusaha adalah anggota keluarga yang dipimpin oleh kepala rumah tangga yang namanya pemerintah. Bagaimana anggota keluarga tidak nakal kalau orang tuanya sangat nakal. Mutlak benahi dulu tata kelola pemerintahan, baru mengubah perilaku pengusaha. Selama ini yang disalahkan hanya pengusaha. #GURU KENCING BERDIRI, MURID KENCING BERLARI#
Liam Then
Harga telur yang naik, ini sebenarnya kontradiksi dengan misalnya program MBG pemerintah. Pemerintah mati-matian, keluar duit banyak, agar anak didik di sekolah, bisa makan gratis setidaknya sekali , telor nya direbus full penuh, tak boleh didadar kata Pak Prabowo. Telor ayam harga ditentukan tinggi oleh pemerintah. Hasilnya? @Bang Laraganze disini contohnya, langsung curhat, misuh meskipun tetap bayar. Tapi berapa juta populasi , berapa juta keluarga yang konsumsi telurnya jadi turun karena kenaikan harga? Telur itu sumber protein paling mudah dijangkau karena murah. Ketika harga tambah mahal, bukankah jadinya asupan protein dari telur ada potensi berkurang karena kenaikan harga? Pemerintah capek-capek, mau naikan gizi anak-anak. Ini berjuta keluarga terpapar resiko asupan protein berkurang karena harga yang naik. Jadi solusinya bagaimana? Kalo itu kita harus tanyakan kepada @Ko Johanes Kitono sebagai produsen telor Omega. Beliau lebih berkompetensi untuk bahas hal ini. Bapak -bapak kayak Bang Laraganze dan saya ,juga butuh gizi yang murah dan terjangkau. Telur ini, apalagi yang setengah mateng, kalo tambah mahal ... bahaya ini.....
Irary Sadar
Nah, Abah harus baca yang ini. Bukan pengusahanya saja yang nakal, pejabat juga banyak yang nakal. 10 pejabat 20 yang nakal barangkali, wkwkwk...
Liam Then
Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia. Tapi ada sesuatu yang menurut saya agak aneh. Ketika harga CPO dunia naik, harga minyak goreng di dalam negeri ikut naik. Ketika permintaan dunia melemah, harga TBS petani ikut jatuh. Kalau begitu, sebenarnya siapa yang mengendalikan pasar sawit Indonesia? Indonesia atau pasar internasional? Padahal Indonesia adalah produsen terbesar dunia. Yang menarik, selama ini solusi yang sering dibahas biasanya soal subsidi atau pembatasan ekspor. Padahal mungkin ada pendekatan lain. Misalnya negara ikut masuk sebagai pelaku pasar. Bukan untuk mengambil alih industri. Bukan juga untuk mematikan swasta. Tetapi menjadi penyeimbang. Negara menyerap sebagian TBS petani. Mengolahnya menjadi minyak goreng. Lalu menjualnya dengan margin setipis mungkin. Tujuannya bukan mencari keuntungan. Tujuannya menjaga keseimbangan. Petani memiliki pembeli saat harga jatuh. Masyarakat memiliki akses minyak goreng yang stabil saat harga dunia melonjak. Kalau dipikir-pikir, Indonesia sebenarnya memiliki satu keunggulan yang jarang dimiliki negara lain. Pasar domestik yang besar. Jika harga minyak goreng lebih terjangkau, konsumsi dalam negeri akan meningkat. Artinya lebih banyak sawit diserap oleh pasar nasional. Lebih sedikit yang masuk pasar ekspor. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru bisa membantu menjaga harga CPO dunia tetap kuat. Jadi Indonesia tidak hanya menjadi penerima harga, tetapi mulai ikut mempengaruhi keseimbangan pasar global.
Irary Sadar
Selamat Pagi Semua... Abah sedang curhat di CHDI. Kegelisahaan -sedikit ditambah jengkel- yang begitu terasa di catatan hari ini. Seorang Abah bisa sekesal ini. apatah lagi kami-kami yang rakyat jelantah ini. Membaca ini membuat jadi emosi dengan pengusaha yang tidak tau diri. 10 pengusaha 15nya 'bajingan'..? Luarbiasa... Saya -jujur- tidak begitu open sama si Wowo. Tapi membaca CHDI hari ini, saya berdoa semoga saja DSI bisa 'menghajar' para pengusaha batubara yang nakal tersebut. Semoga...
Johannes Kitono
Ini komentar dari teman di Bogor. Dasar Negara Indonesia, Pancasila. Pedoman pembuat UU, PP dan segala peraturan adalah UUD. Namun, Indonesia itu masih "primitif", masih berpedoman "hukum rimba", "ini dadaku, mana dadamu". Yg berkuasa itu, org Italy blg "mafiaso", kita sebut "preman". Seakan akan, Dasar Negara kita itu "Premanisme", UUD kita itu "Hukum Rimba". Pemimpin kita, apakah dia seorg "Superman, Spiderman, Batman atau Wonder Woman" tak akan berdaya melawan "Preman, The Invisible Man". Stay Healthy, Blessed Thursday. Berkah Dalem. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia
Wilwa
Belanda adalah pelopor Kapitalisme modern. Ketika negara-negara di Eropa sedang mabuk agama maka Belanda adalah tempat pengungsian cendekiawan dan craftman Eropa yang tertindas. Belanda bangkit sebagai pembuat kapal yang didanai publik melalui penjualan saham. Untuk pertama kalinya, homo sapiens yang bukan keturunan bangsawan feodal bisa menjadi orang kaya dengan membeli saham VOC. VOC memproduksi begitu banyak kapal yang dipersenjatai meriam untuk ekspedisi dagang ke Asia dan Amerika. Belanda meniru cara yang dilakukan Spanyol sebelumnya. Namun dengan cara yang kreatif. Melibatkan swasta (baca: VOC) untuk “ekspedisi” dagang. Bagi hasil antara pemerintah dan swasta. VOC bisa mencetak mata uangnya sendiri dan punya tentaranya sendiri. Cara ini kemudian juga ditiru Inggris Melayu East India Company. Bahkan akhirnya Inggris lebih berhasil dibandingkan Belanda. Dengan menjajah begitu banyak negara/bangsa. Sehingga English menjadi bahasa perdagangan internasional. Melebihi bahasa Perancis apalagi bahasa Belanda. Itu cara saya memandang sejarah dunia dari sudut pandang yang lain. Ketika VOC bangkrut karena korupsi maka pemerintah Belanda jelas mengambilalih. Ibarat Boeing semasa covid terancam bangkrut maka pemerintah Amerika membantu dengan USD. Itulah kapitalismeyang dipelopori kaum “Sudra” dan “Waisya”. Pengganti feodalisme kaum ningrat atau kasta “Satria” dan kasta “Brahmana”. Dalam skala global. Kaum Sudra hanya bicara Cuan. Moralitas hanya topeng belaka. Hmmmm
Er Gham 2
Kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas tertentu itu telah lama dipraktekkan oleh beberapa negara, seperti China, Rusia, Saudi, Qatar, dan Malaysia. Jadi bukan barang baru. Kok, dikritik masif media tetangga. Apakah mereka pernah juga kritik praktek serupa di negara lain. Gak rela mungkin kalo hasil kekayaan alam bisa dinikmati banyak rakyat di negeri ini.
Bahtiar HS
Membaca CHD hari ini, saya spt sedang melihat Abah membuka "kenakalan" pengusaha batu bara di tanah air. Tapi ini "kenakalan yg dipelihara". Anda sudah tahu. Padahal menurut psikologi, katanya, kenakalan seyogyanya tidak pernah "dipelihara" kecuali sbg bagian dari tumbuh kembang yg dinamis--khususnya bagi anak2. Kalau kenakalan itu msh dlm batas wajar, bisa dimaklumi dan tdk perlu direspon dg hukuman ekstrem. Di antaranya: (1) msh dlm batas eksplorasi wajar krn usia muda, misalnya coret2 tembok, bongkar mainan, gak mau berbagi. (2) Tidak melanggar hukum. Masih ditoleransi. Misal hanya melanggar sopan-santun. (3) Tdk mencelakai diri dan orang lain, "usil", tdk ada dampak pd orang lain--msh dimaafkan. Lha kenakalan pengusaha tambang batu-bara dlm bentuk under invoicing atau transfer pricing itu sama sekali tdk masuk alasan2 utk dimaafkan di atas. Praktik itu bukan sekadar "kenakalan", melainkan pelanggaran hukum serius yg sangat merugikan negara. Ia "dipelihara" krn lemahnya integrasi data antarlembaga, kompleknya hukum internasional shg menyisakan celah utk dilanggar, risiko besar jika tindakan hukum diberlakukan--misal ngambek semua gak mau nambang lagi, adanya perlindungan politik thd sosok penambang batu-bara tertentu, dll. Jadi ingat kata Nabi SAW. Bahwa yg membinasakan kaum terdahulu adalah ketika orang yg terpandang/kuat/berkuasa di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya (tdk dihukum). Tp kalau org yg lemah (rakyat jelantah) yg mencuri, mereka tegakkan hukum.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Abah DI Pasti Tahu..... Apa itu "Dutch disease" dan juga "Norway's Sovereign Wealth Fund"..... (kalau belum/tidak tahu..... berarti "keluyurannya Abah masih kurang jauh"..... wkwkwkwkwk.....) Mungkin ada baiknya Pemerintah Indonesia "belajar banyak" dari Kegagalan Belanda dalam hal pengelolaan dana hasil tambang yang sangat besar namun tidak komprehensif, sehingga memicu krisis ekonomi Belanda pada tahun 1960an..... yang kemudian dikenal dengan sebutan "Dutch disease". Juga, akan lebih baik "belajar banyak" dari Kesuksesan Norwegia dalam hal pengelolaan dana hasil tambang yang sangat besar, untuk mendanai pendidikan dan kesehatan rakyat Norwegia secara gratis, bahkan masih memungkinkan memberi pensiun kepada warga Norwegia..... yang dikenal dengan sebutan Norway's Sovereign Wealth Fund.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
INTERPRESTASI ATAS FOTO ILUSTRASI CHDI HARI INI: "MATI LUMBUNG".. Foto itu sederhana. Hanya gudang kayu. Isinya batu bara. Di atasnya satu lampu yang masih menyala. Lumbung biasanya tempat menyimpan padi. Simbol kehidupan. Simbol cadangan saat musim sulit. Tapi kali ini yang ditimbun bukan beras. Batu bara. Energi masa lalu. Energi yang pernah membuat ekonomi berlari kencang. Lampu yang menggantung seperti sedang memberi pesan terakhir: “Saya masih menyala karena batu bara di bawah saya.” Namun cahaya itu redup. Tidak gagah. Seolah sadar nasibnya sedang dihitung mundur. Judulnya: Mati Lumbung. Bukan mati batu bara. Yang mati adalah keyakinan bahwa batu bara akan selamanya menjadi lumbung kemakmuran. Ini relevan bagi Indonesia. Daerah tambang pernah menikmati panen raya. Pendapatan melimpah. Jalan ramai. Hotel penuh. Tapi setiap lumbung punya batas isi. Cepat atau lambat harus mencari benih baru untuk ditanam. Menariknya, selama ini batu bara dianggap “emas hitam”. Kini dunia mulai memperlakukannya seperti ponsel jadul. Masih berfungsi. Masih menghasilkan uang. Tapi anak-anak muda sudah melirik teknologi yang lain. Lampu masih menyala. Pertanyaannya, sampai kapan?
Kujang Amburadul
Tambah pilihan : # diracun # siram aer keras # miskinkan dan cabut semua fasilitas
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DATA KORUPTOR DIADILI, TAHUN PER TAHUN, TAHUN 2021–2023 Angka-angka ini menarik. 1) Tahun 2021 ada 1.173 tersangka korupsi. 2) Tahun 2022 naik menjadi 1.396 orang. 3) Tahun 2023 melonjak lagi menjadi 1.695 orang. Dalam tiga tahun, kenaikannya hampir 45 persen. ### Yang lebih penting bukan sekadar berapa orang ditangkap. Yang perlu ditanya: mengapa antrean koruptor tidak pernah habis? A) Setiap tahun ada operasi tangkap. B) Setiap tahun pula muncul pemain baru. Seperti liga sepak bola. Pemain pensiun, pemain muda langsung promosi. Artinya, persoalan korupsi bukan hanya penegakan hukum. Ini juga menyangkut: 1) soal sistem politik, 2) birokrasi, dan 3) budaya kekuasaan. Terlalu banyak jabatan yang masih dianggap kesempatan, bukan amanah. Kita patut menghargai aparat yang menangkap koruptor. Namun ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan jumlah yang ditangkap. Melainkan jumlah yang tidak sempat korup. Yang bisa dicegah. Sebab penjara yang penuh bukan tanda kemenangan. Bisa jadi itu tanda kebocoran yang belum berhasil ditutup. Kalau, lagi-lagi, mau mencontoh Tiongkok. Untuk memberantas korupsi secara efektif, hukuman untuk koruptor harusnya bukanlah penjara, tapi: Tembak Mati..!!
yea aina
Ayat 2 dan 3 UUD 45, mengamanatkan: Cabang produksi penting, bumi, air dan kekayaan alam HARUS "dikuasai negara". Sekarang oleh pemerintah, pengelola negara ini, penjualan ekspornya hendak "dikuasai". Tanpa susah payah melakukan kerja produktif, tinggal petik panen saja. Rasanya mirip tuan tanah yang menyewakan lahannya kepada petani penggarap. Tapi menjelang panen, berlaku aturan baru: hanya dia yang "berkuasa" menjual semua hasil panen. Penggarap dilarang protes. Bisa juga seoerti pungutan jatah "preman", atas layanan jasa "keamanan" di wilayah kekuasaannya. Pilih bayar bisa aman atau tidak bayar pasti kemalingan.
Udin Salemo
saya heran prestasinya apa sehingga walikota Bandung terpilih jadi Penggerak UMKM dan Ekonomi Kreatif Perkotaan ala Disway National Network (DNN). untuk mendapat penghargaan yang diberikan DNN kayaknya pejabat yang dipilih suka-suka saja. prestasi jauh panggang dari api. itulah pendapat inyong pribadi. wong darjo dan penguasa bawah tol pocan pasti agree 1000% dengan pendapat inyong, wkwkwk... ancor pesena telor.
Er Gham 2
Nonton tv sore ini. Ternyata lagi banyak demo mahasiswa. Mereka menuntut adanya perbaikan ekonomi. Tapi kok ada salah satu spanduk yang mereka bawa bertuliskan 'Turunkan Harga BBM'. Bukankah pertalite tidak ikut naik. Dan wong cilik mayoritas pakai pertalite. Jika banyak mahasiswa pakai motor pcx atau nmax mungkin masuk akal. Karena kedua jenis motor itu direkomendasikan pakai bensin oktan 92 ke atas. Ya kalo begitu, perbaiki tulisan spanduk nya. Sehingga bertuliskan, "Turunkan harga pertamax. Karena jenis motor kami ---yang cicilannya dibayar orang tua--- tidak bisa minum pertalite".
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 25
Silahkan login untuk berkomentar