Sembelih Anjing

Sembelih Anjing

Ilustrasi dua sisi penegak hukum yang "Memberantas Korupsi Sambil Korupsi".-Dibuat dengan AI.-

"Cita-cita Indonesia Emas 2045 kelihatannya pasti tercapai. Masih di tahun 2026 saja sudah ditemukan emas 74 kg".

Itulah meme lucu yang amat cerdas kemarin. Puncak marah pada korupsi justru mewujud dalam humor. Humor getir: bagaimana bisa mencapai Indonesia Emas kalau korupsi kian parah seperti baru saja dibongkar oleh Mabes Polri bagian pemberantasan korupsi.

Lalu bacalah judul buku yang segera terbit di Jakarta: "Memberantas Korupsi Sambil Korupsi". Penulisnya Ronald Loblobly, koordinator Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (Kosmak).

Anda sudah bisa menebak apa isi buku itu: bagaimana seorang jaksa agung muda bidang pemberantasan korupsi melakukan korupsi sambil memberantas korupsi: Febrie Adriansyah.

Di buku itu Loblobly mengungkap bagaimana Febrie telah menjalankan apa yang ia sebut teori "sembelih anjing di depan monyet". Sangat menarik.

Perumpamaan itu khas Indonesia --tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris. Mungkin saja diadopsi dari budaya politik zaman kerajaan di Tiongkok: 殺雞儆猴, bunuh ayam untuk peringatkan monyet.

Anjing adalah binatang piaraan. Kesayangan. Lambang kesetiaan. Bayangkan: anjing saja dibunuh --apalagi engkau para monyet! Itulah pesan yang disampaikan kepada para pengusaha besar ketika Febrie menersangkakan satu-dua dari mereka.

Dipaparkan oleh Loblobly (tentang siapa tokoh ini baca Disway 15 Juli 2026: Febrie Loblobly ) alasan yang dipakai Febrie untuk "menyembelih anjing" itu sangat mulia: memberantas korupsi yang dilakukan "si anjing".

"Penyembelihan" itu dilakukan di depan umum. Disiarkan secara luas. Disiapkan pula secara khusus media apa saja yang secara masif bisa menyiarkan "penyembelihan" itu sekaligus membangun citra positif pribadi Febrie.

"Diterbitkan Kompas Gramedia," ujar Loblobly tentang buku yang disiapkan Kosmak itu.

Saya agak ngeri baca ringkasan Korupsi Sambil Memberantas Korupsi ini. Kesan saya memberantas korupsi itu ternyata hanya sambilan --yang utama adalah korupsinya.

Tentang Febrienya sendiri Anda sudah tahu: Jumat lalu ia memenuhi panggilan Kejaksaan Agung sebagai saksi. Ia tidak hadir di panggilan pertama dengan alasan sakit --alasan yang sering ia temukan dari orang yang akan ia tetapkan sebagai tersangka.

Jaksa melayangkan panggilan kedua disertai "ancaman" dari Jaksa Agung Muda bidang pengawasan Rudi Margono: kalau tidak hadir di panggilan kedua Kejaksaan Agung akan melakukan pemaksaan: ditangkap. Kalau lari dikejar.

Selesai jam salat Jumat, Febrie Adriansyah datang ke Kejaksaan Agung disertai Febri Diansyah. Nama terakhir itu adalah pengacara barunya --pengganti Hotman Paris yang mengundurkan diri karena sakit syaraf belakang.

Febri Diansyah Anda sudah kenal: juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sangat populer di masa silam. Lalu Febri jadi pengacara --akan membela siapa pun yang menjadi kliennya, termasuk bila klien itu tersangka kasus korupsi sekali pun.

Sampai saat ini tinggal dua pengacara yang tetap tidak mau menjadi pengacara tersangka korupsi. Yang satu Boyamin Saiman si warok Ponorogo yang ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Satunya lagi saya lupa --tolong Anda ingatkan.

Saya belum tahu sampai jam berapa Febrie diperiksa sebagai saksi. Dugaan saya sampai sebelum waktu salat Isya. Sambil jeda salat Isya disimpulkan Febrie memenuhi syarat dijadikan tersangka. Lalu disiapkanlah surat penetapan sebagai tersangka. Lalu diberikan ke Febrie untuk ditandatangani. Atau surat penetapan itu sebenarnya sudah disiapkan sejak masih diperiksa sebagai saksi. Hanya karena prosedur penetapan tersangka harus lewat pemeriksaan sebagai saksi maka surat penetapan itu baru diserahkan kemudian.

Pemerikaaan Febrie sebagai tersangka berlangsung sampai menjelang tengah malam. Lalu dibuatlah surat penetapan Febrie ditahan. Surat itu diserahkan ke Febrie untuk ditandatangani: pertanda siap menjalani masa penahanan selama 20 hari --mungkin diperpanjang 20 hari lagi mungkin jug tidak.

Anda juga sudah tahu: Febrie akhirnya ditahan di rumah tahanan KPK di Gedung Merah Putih. Tanpa dikenakan pakai rompi tahanan warna oranye. Ini langsung jadi gorengan medsos: ada perlakuan istimewa untuk Febrie. Alasan Kejagung "karena buru-buru" juga tidak bisa diterima logika umum. Minyak gorengnya tambah mendidih.

Memang sebenarnya tidak ada aturan hukum seorang tersangka harus mengenakan rompi oranye. "Itu hanya untuk tanda, agar kalau lari segera ketahuan. Karena itu warnanya pun dibuat menyolok," jawab Boyamin saat saya tanya soal itu.

Boyamin juga tergelitik soal mengapa tahanan Kejaksaan Agung ini dititipkan ke KPK. Lalu muncullah selera humornya: "Agar tidak digebuki sesama tahanan korupsi di kejaksaan agung," selorohnya.

Mengapa tidak dititipkan di rumah tahanan polisi? "Di sana bisa tambah babak belur," gurau Boyamin.

"Kenal pribadi Febrie?"

"Kenal," jawab Boyamin.

"Masih sering kontak?"

"Saya tidak mau lagi berhubungan dengannya sejak 2023. Yakni sejak ia mencoba memberi uang ke saya".

Tentu ada alasan kuat untuk menahan Febrie di rumah tahanan KPK. Di tahanan Kejagung ada saksi kunci perkara ini: Don Ritto. Itu bisa menyulitkan kejaksaan kalau Don Ritto sampai bisa komunikasi dengan Febrie.

Atau karena Febrie tidak kunjung ditahan komunikasi itu sudah selesai berhari-hari lalu. Yang jelas sampai ia digiring ke ruang tahanan di KPK tidak terlihat Febrie melawan. Sama sekali jauh dari apa yang pernah ia katakan: akan melawan!

Kalimat yang keluar dari mulut Febrie menjelang masuk tahanan adalah "saya dikriminalisasi".

Kini roh "anjing" yang disembelih itu gentayangan. Para "monyet" pun saling tersenyum lalu tertawa. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 25 Juli 2026: Satpam MBG

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SATPAM, DAPUR, DAN CERMIN SISTEM.. Masalah terbesar MBG ternyata bukan nasi, lauk, atau jumlah dapur. Masalahnya ada di sistem yang membuat semua merasa benar, tetapi tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab. 1) Kepala dapur bisa menjadi "raja". 2) Yayasan merasa paling berkorban. 3) Investor dikejar cicilan. 4) Birokrasi sibuk membuat laporan. Akhirnya, yang kenyang justru konflik. Tulisan CHDI hari ini mengingatkan bahwa program sebesar apa pun tidak bisa hanya mengandalkan juknis. Sistem harus dirancang agar orang baik tetap bisa bekerja baik, dan orang yang tergoda menyimpang tidak mendapat celah. Itulah inti tata kelola. Usul melibatkan tokoh pembenah sistem juga menarik. Sebab, membangun dapur lebih mudah daripada membangun budaya kerja. 1) Yang satu selesai dengan semen. 2) Yang lain selesai dengan keteladanan. Kalau "satpam" "Letkol" Edi Susanto saja sudah melihat retaknya fondasi, semoga para arsitek kebijakan tidak terus sibuk mengecat dinding. Karena cat memang bisa menutupi retak. Tetapi tidak pernah memperkuat bangunan.

hanya yotup

Membaca DIS pagi ini, saya jadi teringat idiom klasik: Sebenarnya semua rakyat kita tuh koruptor, hanya belum dapat kesempatan jabatan. Saya sudah melihat banyak sekali, anak² muda yang pintar, cerdas dan kritis hanya saat menjadi mahasiswa. Demo berjilid², makian kepada pejabat negara, komenntar sinis dan yang senada dengan itu, bahkan seolah sudah menjadi rutinitas harian mereka saat menyandang jaket almamater. Tapi itu dulu. Saat kenyataan dunia nyata belum menyentuh isi kantong. Dulu makan Indomie 3x sehari yang penting tugas kuliah beres, aman² saja. Hidup easy going. Keadaan otomatis berubah saat ijazah sudah diterima, dan gelar sudah didapat. Keinginan tiba² untuk menjadi cepat "terlihat berhasil" menguasai pikiran. Alhasil, hilang sudah sikap kritis. Apalagi yang kebetulan di posisi pekerjaan dia/ia ini menjadi "pimpinan". Sok² an nya muncul. Arogansinya tampak. Dia/ia lupa, bahwa sikap buruk itulah yang dulu pernah diperjuangkan untuk dihapuskan. Maka, terjadilah yang harus terjadi. Korupsi lagi dan lagi. Tiada habisnya. Entahlah, akan pada siapa kami yang idealis ini berharap untuk kemajuan bangsa ini?

Waris Muljono

Kesan yg sy tangkap, nama Sudaryono harum selama menjabat wamentan. Setidaknya di kalangan petani yg sy lihat. Dikampung saya 30 km sebelah timur kampungnya Pak Dar, sodara dan tetangga sy yg bertani sedikit bisa senyum. Dan nama pejabat yg keluar dr mulutnya adl pak Dar, bukan pak Amran. Sy ga tau apakah ini karena faktor Pak Dar masih satu kabupaten atau karena menyebut nama Pak Daryono lebih mudah drpd pak Amran. Dikalangan petani milenial di medsos juga pak Dar lebih populer. Jika mereka ada unek-unek yg di mention pak Dar. Ini mungkin krn pak Dar jg aktif di medsos. Kl di kementan pak Dar adl orang nomor 2. Di BGN ini adl pak Dar orang nomor 1. Di BGN inilah pembuktian sesungguhnya, apakah nama harumnya kemarin didapat krn kecipratan hasil kerja atasannya di kementan, atau memang krn kompetensi pribadinya. Meski kementan dan bgn punya tantangan berbeda, tapi menurut kredo yg dipegang anaknya pak Iskan bahwa orang yg berprestasi disatu tempat, dia akan tetap berprestasi ditempat lain. Kl namanya tetap harum selama di BGN, maka dr hambalang boys Sudaryonolah kandidat penerus Pak Prabowo. Penampilan fisiknya ok, suaranya mantap, populer di medsos, komunikasinya ok, hampir ngga ada celah utk di bully oleh netizen.

Tiga Pelita Berlian

Serahkan manajemen MBG ke mas GIBRAN .. pasti meroket . Seklangkong

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SATPAM MBG, "LETKOL" EDI SUSANTO.. (2) Selain menjalankan bisnisnya, menjadi editor buku hingga menerbitkannya, serta menjadi "Satpam MBG", Pak Edi Susanto juga pernah mendampingi Prof. Reinier Starink. Prof Reinier adalah konsultan transformasi dan perubahan organisasi berpengalaman lebih dari 25 tahun, bekerja di sekitar 40 negara. Pernah memegang peran penting di Shell, ABB Group Swiss, dan "Pemandu" Malaysia. Kini menjadi Partner Cerah Associates serta mengajar sebagai Adjunct Professor di sejumlah perguruan tinggi. Pak Edi mengajak Prof. Reinier berkeliling dari kampus ke kampus. Di Universitas Negeri Malang, misalnya, mereka berdiskusi dalam FGD, memberi kuliah umum, hingga memfasilitasi penandatanganan kerja sama akademik. Bahkan, Pak Edi juga mencoba mempertemukan Prof. Reinier dengan saya. ### Diam-diam, jaringan Pak Edi ternyata panjang. Dari ruang redaksi buku, ruang rapat bisnis, sampai ruang kuliah. Maka, kalau sekarang beliau dijuluki "Satpam MBG", jangan bayangkan hanya menjaga pintu. Kadang, yang dijaganya justru pintu ilmu, kolaborasi, dan perubahan. Itu jauh lebih sulit daripada sekadar menjaga gerbang.

 

Jokosp Sp

Pertanyaan ini tolong di jawab: 1.Anak didik miskin Indonesia yang benar itu 7.000.000 anak atau 83.000.000 anak ?. Kalau data pemerintah menyatakan 7.000.000 anak, maka pertanyaan ke: 2.Kenapa dipaksakan program embege ini ditujukan ke 83.000.000 anak didik. Bahkan ke Ibu hamil, anak SMP dan SMA ?. Ini jelas penyelewengan uang negara hanya untuk janji kampanye. Pertanyaan berikutnya: 3.Setelah anak didik ke 83.000.000 anak diberi makan embege, apakah ada data anak didik tersebut IQ nya jadi lebih meningkat?. Dan seteleh program embege ini dijalankan: 4.Benarkah ekonomi rakyat Indonesia bergerak lebih baik?. Satu lagi pertanyaannya: 5.Apakah kehidupan rakyat miskin dan yang turun dari klas menengah jadi miskin bisa berubah jadi meningkat?. Kenapa mereka tidak pernah mau membuat pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dengan data. Hanya satu yang mereka anut: "Pokoknya embege ini program terbaik untuk memberi makan anak didik miskin". Begitulah para buzzer yang dibayar berbicara. Sepertinya tidak ada solusi lain, dan pikirannya ya hanya "satu komando" dan "ini peluang korupsi". Itulah kenapa tidak bisa maju negeri ini. Apalagi menerrima usulan masyarakat, bahkan mereka yang menentang kalau bisa dibayar untuk menyumbat mulut dan tulisan tangannya. Sama saja setelah 10 tahun pemerintahan lurah lama dan ganti ke pemerintahan baru. Amsiong.

Kujang Amburadul

Ini nampaknya URI mau menyaingi UI. Mungkin nanti akan ada Universitas Kerajaan Padjadjaran yang menyaingi Universitas Padjadjaran (Unkepad >< Unpad) Atau Universitas Pangeran Diponegoro >< Universitas Diponegoro (Unpadip >< Undip). Hayoo aja bikin yang enggak2, sementara negara makin boncos, sistem pendidikan amburadul. Tapi bukan saya....

Way aja

Tahu nggak, masalah utama dari MBG? Yaitu Pemerintah pinjam duit miliaran per dapur, dari mitra. Pemilik uang merasa berkuasa dan ingin secepatnya balik modal, apalagi banyak yg utang bank. Maka segala aturan diterobos, korupsi bahan terbiasa. Solusinya sangat masuk akal. Ubah total model bisnis ya, jangan lagi utang ke mitra utk bangun dapur. Langsung aja libatkan kantin dan warung sekitar sekolah utk memasok MBG. Kasih kupon ke siswa miskin terdaftar saja, tak usah semua. Maka negara tak perlu pinjem duit ke mitra, krn tiap kantin/warung audah punya dapur, YANG TERBUKTI TIDAK PERNAH KERACUNAN. Tiap minggu, warung mitra tinggal tukar kupon. Maka semua senang, MBG tidak mematikan usaha warung sekitar, anak dapet makanan enak dan tidak keracunan, sekolah tidak repot urusin ompreng, dan negara jauh lebih efisien. Semoga pak Dahlan bisa meneruskan ide masuk akal ini ke pihak berwenang

djokoLodang

-o-- SatPam Jakarta *) Omon-omon tentang satpam, lagi viral di medsos tentang Satpam yang menjalankan tugasnya di Bundaran HI kemarin. Saat traffic light meyala merah, Stapam tadi mengawal serombongan pejalan kaki di zebra-cross, eh, ada Toyota Alphard yang nyelonong. Dengan gerak refleks, sang Satpam menepuk dinding mobil untuk menegur si pengemudi. Mobil Alpahard berhenti, dan berloncatan turun para pengawal berbaju berbacu batik, langsung menggelandang si Satpam. Dipaksa meminta maaf, serta diancam dipecat dari pekerjaanya. Alphard itu berpelat D -Bandung. Cerita selanjutnya, Anda sudah tahu. Wagub DKI sampai turun tangan: mengeluarkan pernyataan, menjamin SatPam itu tidak akan dipecat. --0-

Irary Sadar

Pak Jonan...? Tidak akan terjadi. Si Wowo tidak bisa lepas dari teman dekatnya ataupun mantan ajudannya untuk proyek strategis. Banyak proyek strategis siapa yang jadi kepalanya? Anda sudah tahu. Embegeh ini sangat strategis. Salah satu pendulang di 2029. Apalagi penerimanya yang anak SMA itu, sebagian nanti akan ikutan di 2029. Konsennya harus kesana. Jika tidak untuk 2029, sudah barang tentu EMBEGEH mereka hapus dari program ini... Program cacat dari bayi, terpaksa jalan terus untuk mendulang di 2029. Ini menurut dugaan dan perkiraan saya....

djokoLodang

-o-- Profesi koki *) Pada tahun 2014, orang paling berkuasa di dunia ditolak oleh seorang koki sushi di ruang bawah tanah Tokyo. Pemerintah Jepang menghubungi Sukiyabashi Jiro untuk memesan makan siang bagi Presiden Obama dan Perdana Menteri Abe. Master Jiro Ono menolak mereka — 10 kursinya sudah terisi. Sang koki tidak bergeming, dan kedua orang paling berkuasa di Pasifik itu setuju untuk datang kemudian. Jiro yang saat itu berusia 88 tahun menyajikan kepada Obama pilihan 20 potong sushi yang sama persis seperti yang ia sajikan kepada setiap tamu — tanpa menu khusus, tanpa pengecualian. Obama menyebutnya sushi terbaik dalam hidupnya. Dan bagi orang biasa, itu bahkan lebih sulit: Anda membutuhkan petugas hotel bintang 5, pemesanan sebulan sebelumnya, dan keberuntungan — meja biasanya sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Saat ini masyarakat umum sama sekali tidak dapat memesan. Tidak ada saluran telepon umum, tidak ada situs web, tidak ada kunjungan langsung — hanya pelanggan tetap dan segelintir petugas concierge hotel mewah yang dapat membantu Anda masuk. Jiro berulang tahun ke-100 Oktober lalu dan masih datang kapan pun ia bisa. Rencananya: terus bekerja sekitar lima tahun lagi. (dikutip dari akun fb "Japan Inside" 24 Juli 2026) -0--

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Hari ini tulisan Abah sedikit sekali. Lebih banyak tulisan sahabat Disway-nya. Rubriknya perlu ganti nama: Catatan Harian Sahabat Dahlan Iskan.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Sejak kampanye Pilpres dulu, saya nggak pernah setuju dengan program makan gratis yang sekarang bernama MBG itu. Bagi saya semua program bagi-bagi uang atau makanan itu nggak mendidik. Apalagi ternyata MBG ini diberikan ke semua pelajar. Jelas tidak tepat sasaran. Anak yang selama ini nggak punya masalah dengan makan siang pun dapat MBG. Ngapain buang-buang duit begitu? Memberi ke pihak yang tidak memerlukan. Memang beberapa sekolah menolak MBG –termasuk sekolah anak saya– tapi tetap saja mayoritas penerima MBG itu salah sasaran. Celakanya lagi, Dapur MBG (SPPG) sudah dibuka di mana-mana. Akibatnya pemerintah bakal kesulitan andai mereka "sadar" dan ingin mengalihkan MBG hanya khusus di daerah miskin saja. Bangunan SPPG yang sudah terbangun kan tidak bisa dipindah. Jika mau mengurangi beban APBN tanpa harus menghentikan total program MBG, tolong segera didata ulang: sekolah mana saja dan muridnya yang mana saja yang diberi MBG. Saya yakin nggak semua siswa berharap ada MBG. Dan kita harusnya pastikan bahwa yang dibayar negara adalah jumlah porsi yang dimakan. SPPG harusnya milik mitra sepenuhnya. Termasuk tanggung jawab gaji manajer dan pegawainya. Prinsipnya: negara keluar uang hanya berdasarkan jumlah porsi yang disajikan ke siswa yaitu Rp 15.000/porsi. Jadi, seharusnya waktu libur, negara tidak keluar uang. Dan itu akan jadi penghematan yang luar biasa.

Liáng - βιολί ζήτα

kepalang basah..... Kita Sudah Tahu..... RI-1 yang sekarang ini - yang berlatar belakang militer, ada kecenderungan mempercayakan berbagai tugas kenegaraan kepada tokoh-tokoh berlatar belakang militer juga..... Apa tidak sebaiknya tugas yang terkait dengan MBG (kalau bersikeras tetap mesti dijalankan dan tidak mau mencontoh program serupa di negara-negara lain yang sangat berhasil) - ya sudah saja, kepala Badan Gizi Nasional (BGN) nya diserahkan kepada TNI juga..... mungkin hasilnya akan lebih baik..... Kalau tidak salah, TNI memiliki satu badan yang menangani perbekalan termasuk ransum untuk para prajurit, yaitu : Badan Logistik (Balog) TNI, yang kini dipimpin oleh Mayjen TNI Lin Nofrianto. Dalam sejarah TNI, sepertinya tidak pernah ada kejadian keracunan makanan ataupun kekurangan kualitas untuk ransumnya para prajurit..... Saya pribadi malahan ragu jikalau tokoh-tokoh seperti Ibu Susi, Pak Jonan, ataupun Abah DI - seandainya memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), akan dapat bekerja maksimal di "medan pertempuran yang berat dengan begitu banyak ranjau".....

HONDA CBR150R

dan berintegritas penuh, seperti Bu Susi, Pak Jonan, atau Anak Telur (semoga bisa membenahi MBG) atau 达赫兰·伊斯坎.

Irary Sadar

BM dan BA selalu bergatian datang. Jika ada rombongan motor dari luar kota, lewat didepan kami, biasanya kami yang sedang nongkrong main gitar dipinggr jalan akan nyeletuk, "Woi ada anak BA lewat. Bagak nyo, Dang." Hahaha...

Em Ha

Siang sabtu ini kami MBETG (Makan Bergizi Enak Tidak Gratis) di RM Terang Bulan. Setelah menulusuri Kelok 9. Jalan berkelok kelok yang sangat indah. Dari bumi BM (Banyak Minyak) ke bumi BA (Banyak Anak). Orang Minang ada dimana mana. Mungkin alamnya mendukung. Dingin dan cantik. Sudah saatnya orang yang memimpin program semacam MBG orang BA. Banyak Akal.

Johannes Kitono

PEDULI. Siang ini duduk di Kafe Swedia. Sambil tunggu hopeng Kim yang sedang gelisah. Lututnya sudah diterapi dr Orthopedi tak kunjung sembuh. Kotak sampah didepan meja terngangah kepenuhan. Sampai ada sampai terjatuh di lantai. Pelanggan lalu lalang tidak peduli. Tiba tiba datang petugas kebersihan. Tutup kotak dibereskan dan sampah tercecer dipungut. Lantainya yang basah dibersihkan. Ini pekerjaan memang sederhana tapi hanya beliau yang peduli. Secara spontan rogoh dompet mau kasih tip 5 a 10 ribu. Ternyata hanya ada selembar 2 ribu dan puluhan 50 ribu. Mas Peduli dipanggil dan kaget ketika terima tip 50 ribu. Terima kasih dan semoga panjang umur, doanya. Kali ini yang beruntung justru beta. Dengan uang 50 rb dapat doa panjang usia. Saat ini Sikap Tidak Peduli sedang melanda APH kita. Eks Jampidsus yang ditahan KPK tidak usah pakai jaket Jingga. Apakah Koruptor yang pernah berjasa bongkar korupsi harus dapat perlakuan istimewa. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Ibnu Shonnan

Hari-hari ini, sebenarnya yang diinginkan rakyat kecil seperti saya ini mendapatkan bacaan atau berita yang menumbuhkan harapan akan masa depan Indonesiah. Apakah berita baik dinegara ini sangat mahal. Atau memang keadaan negara ini sudah parah. Hingga mantan pejabat tinggi yang menangani korupsi, setelah ditetapkan menjadi tersangka dan digiring menuju tahanan saja diperlakukan beda, tanpa memakai rompi tersangka. Indonesia oh...Indonesia. Nasibmu saat ini telah dikuasai oleh grandong-grandong bertopeng dewa.

Sando Rian

Di SPPG tempat saya bekerja pun kendala masih banyak terutama di peralatan yang belum lengkap, bahkan cetakan telur pun sampai sekarang belum punya sampai harus meminjam ke relawan yang punya, bahkan kompor gas kecil Pekerjaan pun juga ga beda sama kuli bangunan, malah lebih berat Karena jam kerja untuk beberapa divisi seperti divisi persiapan dan cuci ompreng pun bisa sampai 10 jam, sementara divisi pengolahan dan pemorsian rata2 dibawah 8 jam sudah selesai dimana bayaran sama Belum lagi tempat kerja pun untuk divisi cuci ompreng juga sempit banget, tempat untuk menata ompreng pun sangat minim bahkan meja bersusun cuma 2 biji Dengan Penerima Manfaat hampir 1800, jumlah relawan terbilang masih kurang ditambah kurangnya peralatan yang menambah beban kerja bertambah berat Sampai baru 3 bulan beroperasi udah banyak yang keluar dan digantikan dengan relawan2 yang punya koneksi dengan staf management seperti kepala SPPG atau admin2, disaat banyak warga setempat yang melamar kerja tapi ga pernah dipanggil Belum lagi masih banyak masalah internal lain yang sering menambah beban fisik dan psikologis para relawan khususnya relawan2 dari warga setempat seperti saya dan tetangga2 yang bekerja Seolah-olah relawan yang dari warga setempat serasa dipojokkan agar keluar dan digantikan orang luar agar pemilik bisa semakin leluasa melakukan penyelewengan atau korupsi tanpa ada relawan yang berani melaporkan ke pihak yang berwenang

Liam Then

Anda ingat bagaimana "Roy Grazie" meroket jadi langsung jadi kandidat serius presiden Indonesia ke-7 dulu? Apakah beliau selesaikan semua masalah pasar Tradisional di seantero Indonesia? Atau bikin semua sekolah STM di seluruh Indonesia jadi pandai merakit mobil minivan bernama ESEMKA? Atau beliau ada masuk gorong-gorong, bersihkan danau kota di seluruh Indonesia? Atau bangun MRT di seluruh ibukota Provinsi? Ini adalah contoh, kerja 10% dapat dukungan politik multiplier. Jadi kalau tim di belakangnya Pak Prabowo memang bermaksud, MBG mau dijadikan alat senjata di pemilu 2029 nanti. Kayaknya eksekusinya sudah dari awal keliru besar. Kalau saya yang ada di posisi Pak Prabowo, tim pemegang dashboard dan penasehat politik pasti saya kumpulin, dan saya tanya kok jadi begini? Solusinya bagaimana?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 21

  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Fendik Irwansyah
    Fendik Irwansyah
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
    • Maman Lagi
      Maman Lagi