Mati Lumbung
--
Dari 10 pengusaha batu bara, yang nakal ada 15. Begitulah sindiran yang sudah lama ditujukan untuk kalangan bisnis emas hitam itu. Saya pun ikut terpengaruh. Kalau ada teman pengusaha dari Tiongkok yang perlu batu bara saya ingatkan untuk hati-hati. Lalu saya ceritakan humor penuh sindiran itu.
Jenis kenakalannya tidak terhingga. Inilah jenis komoditas berwarna hitam yang melibatkan segala jenis kejahatan yang pernah ada di dunia hitam. Korbannya tidak hanya pembeli di luar negeri. Juga pembeli dalam negeri. Bahkan pemerintah sendiri: under invoicing, transfer pricing, sampai menyembunyikan hasil dolarnya di luar negeri.
Bahkan meski izin tambang itu hanya disebut kuasa tambang –pengusaha hanyalah pemegang kuasa dari pemilik tambang sebenarnya, yakni negara– tapi berani "ngakali" si pemberi kuasa. Misalnya soal kewajiban menyediakan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri: dengan mudah mereka mengabaikan. Begitu harga ekspor tinggi, penerima kuasa lebih berkuasa dari pemilik kuasa.
Pembangkit-pembangkit listrik milik negara sendiri bisa kelabakan kekurangan batu bara. Apalagi swasta. Negara begitu mudah diremehkan oleh pemegang surat kuasanya. Ironi yang luar biasa.
Kemarin, misalnya, saya dapat info listrik Jawa-Bali mulai defisit. Dugaan saya banyak pembangkit di Jawa yang mengurangi produksi karena takut stok batu bara habis sebelum batu bara yang baru tiba di gudang. Mereka menghemat batu bara yang penting PLTU tidak mati. Begitu mati karena kehabisan batu bara perlu waktu panjang untuk start lagi.
Pemerintah pernah mengenakan denda atas pelanggaran DMO –domestic market obligation– itu. Tapi dendanya kecil sekali. Mereka pilih bayar dendanya sambil tetap mengabaikan kebutuhan dalam negeri. Mereka tega "membunuh" negaranya demi "saya dapat apa".
Baru di pemerintahan Presiden Prabowo, dijatuhkanlah hukuman lebih berat: tahun ini izin produksi batu bara mereka dikurangi. Ada yang dikurangi sedikit, ada yang drastis: tergantung rapor mereka.
Ternyata hukuman jenis itu masih juga belum mempan. Kebutuhan batu bara dalam negeri masih diabaikan. Hanya tambang milik kelompok usaha Sinar Mas yang punya komitmen tinggi untuk penyediaan kebutuhan dalam negeri itu.
Para pengusaha tambang tampaknya sudah lupa bahwa batu bara itu bukan milik mereka. Mereka tidak pernah melakukan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan batu bara. Tiba-tiba saja mereka memanennya –hanya karena punya izin kuasa menambangnya. Lalu mengabaikan kewajibannya pada negara.
Ketika kini pemerintah mewajibkan ekspor batu bara lewat satu pintu –lewat perusahaan negara– mereka marah bukan main. Sampai mengembangkan isu di luar negeri "betapa buruknya kebijakan ekonomi Indonesia".
Tentu negara yang selama ini jadi tempat parkir dolar mereka ikut jadi kompor.
Dulu di zaman "emas hijau" kejadiannya juga seperti ini. Hutan dibabat. Yang tidak pernah menanam pohon tiba-tiba memanen kayu gelondongannya. Sampai semua hutan jadi gundul. Bermiliar ton kayu gelondongan diangkut ke luar negeri. Uangnya mengalir ke orang tertentu dan negara tertentu. Wilayah pemilik hutan tetap saja miskin. Dolarnya disembunyikan di luar negeri.
Tapi, di zaman emas hijau itu, tidak sampai ada istilah "ayam mati di lumbung". Orang-orang desa di sana tidak makan kayu. Hanya hutan mereka habis. Ladang mereka diserbu monyet dan babi hutan. Tanaman seperti singkong dan umbi-umbian ludes. Karena kampung mereka gundul, mereka pun cari makan sampai ke kampung manusia. Ikan dan udang di sepanjang sungai-sungai besar menurun drastis.
Ketika peristiwa itu kini berulang di batu bara, PLN sampai terancam seperti ayam yang akan mati di lumbung. Swasta Indonesia lebih parah: sudah ada yang mati.
MBG memang harus diperbaiki. Koperasi desa merah putih harus kerja lebih rapi. Tapi ekspor batu bara satu pintu harus sukses. Dan memang pemerintah tidak mundur. Menteri Perdagangan sudah menerbitkan Permendag –saya dapatkan copy-nya kemarin.
Di situ disebutkan, izin ekspor mereka yang baru mati tahun depan dan tahun depannya lagi dipaksa berakhir tanggal 31 Desember tahun ini. Bagi yang mati sebelum itu tidak akan diperpanjang.
Misalnya ada yang mati bulan Agustus depan, mulai bulan itu pula ekspor batu baranya langsung dilaksanakan oleh Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Demikian juga yang berakhir September, Oktober, dan November. Di bulan-bulan itu ekspornya langsung diambil alih DSI.
Sangat telat melaksanakan aturan keras ini. Tapi kita sudah biasa mengatakan lebih baik telat daripada nanti-nanti lagi. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 10 Juni 2026: Mulai Move-on
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
YANG HARGANYA NAIK BUKAN HANYA BBM: KEDELAI, TAHU DAN TEMPE JUGA MINTA PERHATIAN KITA.. 1) Harga kedelai kembali naik. Awal tahun masih di kisaran Rp10.000–Rp11.000 per kg. Kini mendekati Rp13.700 per kg. Kenaikannya memang hanya beberapa ribu rupiah. Tetapi bagi perajin tahu dan tempe, selisih itu bisa menentukan untung atau buntung. 2) Masalah yang lebih besar ada di belakang angka tersebut. Indonesia membutuhkan sekitar 3 juta ton kedelai per tahun. Produksi dalam negeri masih jauh dari cukup. Lebih dari 80 persen kebutuhan nasional harus dipenuhi dari impor. Akibatnya, tahu dan tempe kita bukan hanya bergantung pada cuaca dan panen, tetapi juga pada "kurs dolar" dan harga kedelai dunia. 3) Yang menarik, selama puluhan tahun kita lebih sibuk membahas impor daripada membangun alternatifnya. Padahal negeri ini memiliki banyak lembaga riset dan perguruan tinggi hebat. Seharusnya ada program besar pengembangan varietas kedelai lokal yang produktivitasnya tinggi, ukuran bijinya besar, kandungan proteinnya baik, dan kualitasnya setara kedelai impor. Di sinilah peran BRIN, IPB, serta berbagai universitas pertanian menjadi penting. Jangan hanya menghasilkan jurnal yang dikutip sesama peneliti. Hasil riset harus sampai ke sawah dan dapur rakyat. Sebab kalau kedelai lokal bisa menyaingi kedelai impor, yang tersenyum juga seluruh bangsa.. ## Kita memang hobby makan tempe. Tapi kita bukan bangsa tempe..
Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
Pernahkah anda baca Al Qur'an surah Ar rum ayat 39? saya sebagai tukang ojek, saya pikir sebentar ayat itu sangat menarik kalau dihubungkan kasus nilai tukar mata uang. Contoh nilai tukar mata uang dinegara kesatuan Republik wakanda yg kita cintai. Bunyi terjemahan Ar rum 39, ' Riba yg kamu berikan agar berkembang pada harta orang lain, tidak berkembang dalam pandangan Allah.... Sebagai tukang ojek, saya punya data yg kontras sekali.tahun 1986, jika anda punya Rp 10.000 itu senilai 8,5 dollar. Kurs rata rata Rp 1160. Jika tahun 1986, anda di negara perang kacau balau Afghanistan maka 10.000 afghani senilai 180 dollar. Kurs 1 dollar sama 55 afghani. Apa yg terjadi 20 tahun kemudian? Tahun 2006 jika anda punya Rp 10.000 senilai1,1 dollar. Kurs sekitar Rp 9.000. jika tahun 2006 anda di Afghanistan, sepuluh ribu afghani senilai 200 dollar. Kurs 1 dollar 55 afghani. Itu data dari historical US treasury. Kesimpulan, bagaimana mungkin di negara kacau balau, nilai uang yg dipegang bisa naik 10 persen jika dibandingkan US dollar. Sementara di wakanda yg stabil ,kaya sumber daya alam, nilai uang justru turun 80 persen lebih. Jawabannya Ar rum 39, riba dalam pandangan Allah tidak berkembang. Praktek bagaimana? Semua negara di dunia sama. Jika bank bank menempatkan dananya di bank central maka akan dapat bunga, kayak BI rate. Maka bank central mencetak uang untuk membayar bunganya. Jadi uang beredar tambah banyak. Otomatis nilai turun. Itu pencurian nilai uang yg tidak bisa dihukum.
Alek Candra
Pemerintah mgk menerapkan spt Transfer Pricing Documentation pake Arm Length Principle. Biasanya gak jauh dr TNMM (net margin method) yg sdh disusun berdasar interquartile percentage. Tp analisa TP ini perlu special people Dan special training.
Muh Nursalim
Ingat sapi-sawit. Program menteri BUMN jaman pak SBY. Gara2 kurang riset. Salah asumsi salah data. Para peternak enggan berternak karena mahal pakan. Ini asumsi bukan hasil riset. Sawit afkir dan segala sampah sawit ternyata bisa jadi pakan alternatif. Maka kalau sebabnya itu masaslah teratasi. Ternyata tidak. Pakan siap, kandang siap, penegelola siap. Setelah cari pedet (anakan sapi) di seluruh nusantara hanya dapet 20 ribu. Dari target 100 ribu. Kemana pedet2 itu ? ya ndak kemana-mana. Memang tidak ada. Karena pabrik pedet yaitu indukan pada disembelih. Sampai hari ini masih begitu. Coba liat di RPH2. Kebanyakan yang disembelih itu betina. Lebih murah. Prinsip ekonomi diutamakan dari kelestarian hewan. Ada undang2 nya yang melarang. Tapi saya belum pernah dengar ada orang dihukum gara2 menyembelih sapi betina. Sapi-Sawi gagal. Dus, swasembada daging pun gagal.
Bayung Lembayung
mulai hari ini pertama naik menjadi 16.250, pertamak green 17.000 pertamidek/Dexlite sudah lari duluan.... apakah sebentar lagi pertalite dan bio solar langka, cara kejam biar masyarakat beralih ke non subsidi....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Er Gham.. Lha mereka apa juga beli Pertalite pakai barcode? Kalau iya, kok bisa dapat ya barcode, kan sebenarnya, untuk dapat barcode/hak beli Pertalite harus ngurus barcode? Kalau mobil mewah kan harusnya ditolak?
Juve Zhang
Enam bulan dari sekarang kata Bos CHDI akan jadi penentu Goncangan Ekspor....justru enam Bulan ini akan ada reorganisasi dari pengusaha sawit....mereka mayoritas Akan jual ke pengusaha eskportir.... artinya yg ekspor akan makin mengerucut .... mayoritas memilih jual putus sama eksportir dan ini jelas memudahkan semuanya ....yg benar benar usaha ekspor akan fokus ke ekspor nya ...pengusaha ini gak perlu pusing riset .. pupuk....tanaman kena hama...atau mati ...dengan resiko gagal panen belum resiko bunga bank naik....jadi kedepan hanya akan menyisakan beberapa ekspor kelas Top saja yg membeli putus dari perusahaan sawit non eksportir....karena pengusaha non ekspor ingin fokus ke hasil panen yg bagus buahnya gemuk...riset dia serius tapi gak mau ribet ekspor ....dan sebaliknya eskportir gak mau ribet riset... pupuk...beli TBS ke petani....bunga bank yg naik....dll...kedepan akan jadi mengerucut perusahaan spesialis ekspor dan perusahaan spesialis produksi ...CPO ...UCO ....TAUCO....dlll anda tahu arti singkatan itu.....wkwk
Er Gham 2
Gak punya tambang batubara dan nikel sejengkal juga. Tapi tercatat sebagai negara pengekspor dua komoditas itu. Hebat. Pintar. Tidak bodoh.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
LABA WAJAR DAN PERTANYAAN BESARNYA.. CHDI hari ini menyentuh titik yang sangat penting: apa sebenarnya arti "laba wajar"? Dalam teori ekonomi manajemen, laba wajar bukan sekadar untung. Laba wajar adalah laba yang cukup untuk menutup biaya produksi, biaya modal, risiko usaha, inflasi, serta memberi insentif agar perusahaan tetap berinvestasi dan berkembang. Masalahnya, teori ekonomi berhenti di ruang kuliah. Dunia usaha hidup di lapangan. Pengusaha tidak hanya harus menghitung berapa laba yang wajar. Mereka juga harus berpikir: kalau salah menghitung, saya akan diapakan? Kalau laba terlalu kecil, investor marah. Bank bertanya-tanya. Kebun kurang terpelihara. Riset berkurang. Kalau laba terlalu besar, muncul pertanyaan lain: apakah dianggap tidak wajar? Apakah akan dipersoalkan regulator? Apakah aparat pajak punya tafsir berbeda? Apakah akan ada koreksi, pemeriksaan, atau pertanyaan lanjutan? Di sinilah inti persoalannya. Bukan sekadar angka laba. Melainkan kepastian definisi laba. Dalam akuntansi, angka yang sama bisa menghasilkan tafsir berbeda. Dalam birokrasi, tafsir berbeda kadang menghasilkan surat yang sama-sama resmi. Karena itu yang dibutuhkan dunia usaha bukan hanya kata "wajar". Melainkan rumus yang jelas, terukur, dan konsisten. Agar pengusaha sibuk mengurus sawit, bukan sibuk menebak isi kepala penafsir kata "wajar".
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ADAPTASI EKONOMI DAN HUKUM ALAM.. Dalam ilmu ekonomi perilaku, ada istilah yang menarik: Manusia cenderung menyesuaikan diri terhadap keadaan baru, seberat apa pun perubahan itu. Setelah fase penolakan berlalu, muncullah fase adaptasi. Tulisan ini menunjukkan gejala itu. Harga sawit memang penting. Namun yang lebih penting adalah kepastian. Dunia usaha sebenarnya lebih mudah menghadapi aturan yang berat daripada aturan yang tidak jelas. Investasi kebun sawit bukan investasi semusim. Siklusnya panjang. Bibit ditanam hari ini, hasilnya baru dinikmati bertahun-tahun kemudian. Karena itu variabel yang paling menentukan bukan hanya harga, melainkan prediktabilitas kebijakan. Secara ilmiah, ketidakpastian akan selalu dihitung sebagai biaya. Semakin besar ketidakpastian, semakin tinggi biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. Akibatnya efisiensi turun, investasi tertahan, dan produktivitas ikut terpengaruh. Karena itu pertanyaan utamanya bukan apakah laba akan berkurang. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah pelaku usaha masih dapat memperkirakan masa depannya dengan cukup akurat. Dalam ekonomi, keuntungan penting. Tetapi kepastian sering kali lebih berharga daripada keuntungan itu sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 11
Silahkan login untuk berkomentar