Isi Dompet

Isi Dompet

Bandara Vladivostok--

Tujuan utama saya ke Rusia adalah Moskow. Itu saya jadwalkan sebagai ''mampir''. Yakni dalam perjalanan pulang dari Amerika dan Kanada. Dari Moskow saya ingin ke St. Petersburg. Itu pun kalau dapat visa.

Manusia hanya bisa merencanakan. Amerika yang menentukan: tidak ada lagi penerbangan dari salah satu kota di Amerika ke Moskow. Pun dari Kanada. Ups. Tidak apa-apa. Saya bisa terbang ke salah satu negara Eropa bagian utara. Transit di situ untuk ke Moskow.

Semua itu nanti saja dipikir. Konsentrasi ke Piala Dunia dulu.

Setelah tim Amerika kalah Piala Dunia sudah selesai. Saya ke Kanada. Tim Kanada juga kalah. Piala Dunia pun sudah selesai di Kanada.

Saya mulai mikir ke Moskow: lewat mana. Paling enak lewat London. Tidak mungkin. Inggris bersikap lebih keras ke Rusia daripada Amerika. Tidak akan ada penerbangan London-Moskow.

Mungkin lewat Polandia saja –sebagai bekas anggota Uni Soviet, Rusia mestinya punya hubungan khusus. Ternyata juga tidak ada hubungan Warsawa-Moskow. Pun bila lewat kereta api antarnegara.

Lantas saya terpikir lewat Helsinki, Finlandia. Kalau toh tidak ada penerbangan Helsinki-Moskow kan bisa naik kereta api. Dari Helsinki ke St Petersburg lantas ke Moskow. Dekat sekali. Ibarat dari Purwokerto ke Bandung. Saya tahu ada jalur kereta api khusus yang secara rutin menghubungkan Helsinki-St Petersburg.

Ternyata sejak Amerika menjatuhkan sanksi ke Rusia, jalur kereta api ini pun ditutup. Buntu.

Ingin juga lewat Denmark –sekalian bisa mampir bertemu perusuh Disway di sana: Liang. Tapi itu juga tidak mungkin.

Satu-satunya jalan lewat Istanbul, Turkiye. Ada penerbangan langsung Istanbul-Moskow.

Turkiye telah bisa menjadi negara yang unik dalam hubungan internasional. Turkiye anggota NATO. Organisasi pertahanan Atlantik Utara itu sangat anti Rusia tapi Turkiye bisa punya hubungan baik dengan Russia.

Tapi kalau lewat Istanbul terlalu ke selatan, lalu harus balik ke utara. Mendingan lewat Beijing. Ada penerbangan langsung Beijing-Moskow.

Maka dari Montreal, Kanada, saya terbang ke Beijing –lewat Seoul. Di Quebec City, sebelum balik ke Montreal, saya putuskan: tetap ke Rusia, tapi ke Vladivostok saja. Hanya dua jam penerbangan dari Beijing. Yang penting saya jadi ke Rusia. Hemat waktu. Hemat biaya.

Anda sudah tahu: banyak penerbangan dari Beijing ke Vladivostok. China Air saja dua kali sehari. Ada lagi penerbangan swasta Rusia: Aurora. Saya pilih naik Aurora. Jadwalnya cocok: saya kan mendarat di Beijing pukul 20.00. Aurora terbang ke Vladivostok pukul 05.00. Hanya sayangnya harus pindah bandara: dari bandara Capital Beijing ke bandara Daxing yang lebih baru.

Tidak masalah. Saya bisa tidur seadanya di bandara. Toh saya sudah bukan siapa-siapa lagi. Sebenarnya Jannet menawarkan tidur di rumahnyi di Beijing tapi waktu akan habis di jalan.

Persoalan besar muncul: saya tidak punya rubel. Padahal berbagai macam kartu bank tidak berlaku di sana. Pun uang digital.

Sistem digital perbankan internasional diputus –tidak bisa dipakai di Rusia. Berarti saya harus bayar apa pun di sana pakai uang kontan. Dompet saya sudah tipis –hanya diisi kartu-kartu.

Saya harus cari utangan. Renminbi. Untuk ditukar rubel di bandara Beijing.

Betapa banyak rubel yang harus saya bawa. Setidaknya harus cukup untuk membayar hotel yang tidak murah. Bayar hotel harus dengan uang cash. Seperti balik ke zaman batu.

Hotelnya sendiri tidak mengharuskan pakai uang cash. Bisa pakai kartu. Tapi kartu Rusia. Rupanya Rusia sudah punya sistem pembayaran digitalnya sendiri. Isolasi Barat memang menyusahkan saya, tapi tidak sampai menyusahkan warga negara di sana.

Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto. Saya ikut dalam rombongan presiden berkunjung ke Moskow dan St Petersburg. Lalu ke Tashkent di Uzbekistan –waktu itu masih bagian Uni Soviet. Dari Tashkent ke Bukhara di Samarkand --ke makam perawi hadis ulama besar Imam Bukhari.

Saat bermalam di Tashkent, kamar hotel saya diketuk tiga kali. Ketika saya buka pintu dua orang berjubah muslim memaksa masuk sambil memberi isyarat agar saya jangan bicara.

Pintu ditutup. Dikunci. Mereka mengajak bicara baik-baik. Mereka bilang bahwa saya pasti memerlukan rubel. Mereka menawarkan agar saya menukar dolar dengan rubel yang mereka bawa. Mereka bilang saya bisa membeli rubel jauh lebih murah dibanding di tempat penukaran resmi.

"Ini untuk biaya perjuangan kami di Afghanistan," kata mereka setengah berbisik.

Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika @100. Mereka memberi saya rubel satu kantong plastik. Saya tidak hitung berapa nilainya. Yang penting mereka cepat keluar kamar.

Waktu itu sistem komunis di Uni Soviet dalam proses keruntuhannya. Saya sempat ke toko-toko di Moskow tapi tidak ada barang. Toko-toko nyaris kosong. Toko baju hanya memajang satu dua baju. Saya pun tidak beli apa-apa. Tidak ada yang bisa dibeli.

Sebagai anggota rombongan presiden saya juga tidak bisa ke mana-mana. Jadwal amat padat. Sampai hari terakhir akan meninggalkan Uni Soviet, rubel itu utuh. Saya tinggalkan di kamar. Saya takut membawa pulang –menjaga kehormatan rombongan. Toh di Indonesia tidak laku. Rubel Soviet saat itu ibarat sampah.

Rubel yang sekarang adalah rubel Russia. Beda. Sudah bernilai tapi tidak laku di banyak negara.

Pukul 06.00 saya mendarat di Vladivostok: kali pertama. Pikiran pun mengarah ke petualangan baru: naik kereta Trans Siberia. Itulah jalur kereta api terpanjang di dunia.

Tidak. Tidak mungkin. Isi dompet saya terbatas sekali. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 17 Juli 2026: Cuci Uang

Warung Faiz

Ini cerita seperti serial "Breaking bed" di netflix...menceritakan bgmn seorang guru kimia biasa culunnya karena tekanan dan ambisi harus mengesampingkan moralnya,menjual sabu dan terlibat pencucian uang..Walter white sang guru tsb jadi hancur hidupnya..sekali bermain di circle mafia maka biasanya tdk bs keluar selamanya..membu$$h atau terbu$$h itulah pilihannya..hancur atau dihancurkan..atau ada satu jalan lg..kompromi antar mafia..

Sadewa 19

Ada orang yg bilang jika pejabat disogok 1 Trilyun, maka pengusaha/siapa pun yg nyogok itu, minimal akan dapat 100 Trilyun. Pendek kata uang sogokan itu dianggarkan 1% dari total benefit yg mereka dapat. Mantabs kan... Lebih sialnya lagi hukuman korupsi di negeri kita biasanya hanya sampai level pejabat. Hukum akan mandek jika sudah menyerempet ke pengusaha. Lihat saja sekelas Abah, "nggak berani" membahas peran pengusaha yg namanya semua sudah tahu di kasus ini. Apakah karena sesama pengusaha ? Harus saling melindungi ? Lalu yg dikoyak lemahnya hukum di negeri kita ? Yang di beritakan keburukan para pejabatnya ? Begitu banyak pejabat bahkan sampai level menteri yg sudah ditangkap karena korupsi. Namun pengusaha nya tetap senyum dan jalan jalan keluar negeri.

Mada Suradi

Bagi para perusuh yg pernah menjadi penyogok... Anda semua juga BAJINGAN.. karena korupsi terjadi karena kedua pihak... Saya doakan kalian semua mendapat azab yg pedih di dunia akherat...

Jokosp Sp

Standard Operation Procedure di negara ini sudah banyak, tapi para petinggi negaranya tidak mau pakai. Malah hobinya menafsirkan menurut wudele dewe. Yang penting dewe kenyang dan sering sampai muntah-muntah, yang lain ora urus. Mereka tidak pernah sadar kalau gajinya dari pajak rakyat.

Lukman Nugroho

Saya tertegun, membaca komentar pilihan dari Siti Asiyah. Ia kagum dan malu. Kagum pada optimisme sebagian orang. Dan malu pada diri sendiri. Yang belum bisa punya sangka baik pada penyelenggara negara. Katanya, negara sama sekali belum berbenah. Mbak Siti Asiyah tidak sendiri. Ia mewakili jutaan perasaan orang dinegeri ini. Seperti suara bintang baru, pakar kebijakan publik UGM, Media Askar. Bicaranya di rapat dengan DPR kapan hari. Sangat rasional. Tetapi, hal yang baik belum tentu langsung bisa diterima. Sebab, bernegara ini tidak sederhana. Banyak hal yang harus di timbang. Tetapi, ada yang dulu sangat simple menjadi penyelenggara negara. Anda sudah tahu. Siapa dia. Dia punya kisah dua tangis dan ribuan tawa.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DOKTOR DAN DOKUMEN.. Gelar doktor memang membanggakan. Apalagi bidangnya pencucian uang. Tetapi di ruang penyidikan, yang paling dihormati bukan toga. Melainkan dokumen. Ilmu hukum mengajarkan satu hal sederhana: setiap klaim harus dapat dibuktikan. Jika uang itu milik perusahaan, tunjukkan asal modalnya. Jika berasal dari usaha, tunjukkan laporan keuangannya. Jika sah, hukum akan mengakuinya. Yang menarik, uang tidak pandai berbohong. Ia selalu meninggalkan sidik jari berupa jejak transaksi. Justru manusialah yang sering terlalu kreatif memberi nama pada jejak itu. Karena itu, perkara ini bukan adu gelar akademik. Bukan pula lomba merangkai istilah hukum. Ini soal konsistensi antara teori, praktik, dan bukti. Humornya ada di sini. Disertasi boleh setebal ratusan halaman. Namun satu lembar mutasi rekening yang valid kadang lebih fasih berbicara. Dalam ilmu forensik keuangan, angka sering lebih jujur daripada pidato.

Taufik Hidayat

Judul artikel kai ini Cuci Uang! Sebenarnya Sudah boşan membaca kasus ini. Sudah telanjang semua sesungguhnya. Tapi mau diapaan lagi? Buat apa pula kitaikut ikutan membahas, seperti mencuci uang. Bahasa Inggrisnya koq money laudring bukan Money washing? He he he . Menurut teori ada tiga langkah falan money laundering: placement: memasukan uang hasil kejahatan/korupsi dalam sistem keuangan, 2x layering, melakukan banya trabsaksi untuk menyamarkan asal usul uang. Terakhir integration: mengevakujan uang tersebut untuk diinestasikan dalam usaha yang kelihtan legal. Buka kafe misalnya ? He he

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

UANG, PT, DAN BAYANGAN.. Kalau benar uang itu milik perusahaan, perkara ini belum selesai. Justru baru mulai. Sebab pertanyaan berikutnya lebih menarik: perusahaan itu milik siapa, modalnya dari mana, dan aliran uangnya ke mana. Di sinilah ilmu pencucian uang diuji. Bukan oleh teori. Bukan oleh disertasi. Melainkan oleh fakta. Dokumen. Rekening. Jejak digital. Semua harus saling menyapa. Ironinya, istilah "bukan milik saya" bisa saja benar secara bahasa, tetapi belum tentu selesai secara hukum. Sebab hukum tidak hanya bertanya siapa yang memegang. Ia juga bertanya siapa yang mengendalikan dan siapa yang menikmati hasilnya. Publik kini menunggu adu kecerdasan. Bukan adu konferensi pers. Bukan pula adu pengacara. Yang ditunggu adalah adu pembuktian. Kalau akhirnya uang itu terbukti bersih, nama baik harus dipulihkan. Kalau terbukti kotor, jangan hanya uangnya yang dicuci. Perkaranya juga harus dibersihkan sampai ke akar. Sebab mesin cuci terbaik memang bisa membuat pakaian bersih. Tetapi tidak pernah bisa mencuci hati nurani.

Herry Isnurdono

@Wilwa, kasus Firli Mantan Ketua KPK merupakan hutang Polda Metro, kasus dikembalikan oleh Kejaksaan. Diharapkan kasus Firli masih bisa dilanjutkan ke Pengadilan, jika Polda Metro benar2 konsisten dgn penegakan hukum.

Eko Oke

Dulu saya kira nabung di bank sudah paling aman, ternyata paling aman simpan uang cash sendiri seperti Jaksa Agung itu, kenapa? 1. Bank sekarang ribet bukan main harus adu emosi dulu klw mau ambil uang sendiri yg jumlahnya agak besar mulai dr 50juta sampai 1 milyar, apalgi klw masi pagi alasanya banyak sekali teller2 itu! 2. Saya perhatikan tiap ada uang lumayan besar di bank nomor pribadi tahu tahu banyak yg telpon nawari ASUransilah, depositolah dll 3. Mau ambil duit di ATM saja ada limitnya,, mau ambil 10 juta saja berkali kali masukin kartu, itu saja sudah makan biaya admin berapa ribu 4. Bank sekarang tidak ada jaminan keamanan, banyak kasus duit hilang,, klw gk viral gk bakal balik itu duit, bank mah enak aja bilangnya, akun bapak kena hacklah,, akun bapak ada kesalahan adminlah dll 5. Orang pajak saya yakin akan intip itu rekening bank, lalu berpikir oh bapak punya penghasilan sekian sekian,, lah lah padahal blm tentu itu penghasilan.. Hasil orang bayar utang atau transaksi bisnis atau hibah dr sodara/kluarga bagi waris Yah seperti di film film memang benar uang itu lebih aman di bunker2 apalagi klw bunkernya di rumah orang kuat.. Dah itu saja yg sy mau koment, sy penasaran di bungker bapak Dahlan ada berapa triliun dollarnya wkwkkw

Akun Gi

di jakarta pejabat bisa mengumpulkan harta ratusan miliar semuda dan semudah itu. di sumatra untuk dapat BBM saja sulit, sampai harus absen kerja setengah hari. saya setuju dengan prabowo, indonesia sepertinya akan bubar. Seperti negara yang terlalu besar untuk diatur lainnya ( uni soviet, ottoman, roman empire, dll )

Lukman Nugroho

Mari merenung sejenak. Betapa baiknya Pak Bos pada kita. Menyediakan ruang untuk para perusuh berbuat semaunya. Ada yang ilmiah, ada yang nyambung. Dan boleh juga sembarang menulis, bahkan misuh. Coba bayangkan, jika kekesalan kita itu dilampiaskan ke sarana lain. Membanting pintu, menggebrak meja, atau membanting gelas dan piring. Malah akan menambah masalah baru. Dengan istri salah atau atasan. Sekali lagi mari kita berterimakasih. Sebab kolom kementar dibuka seluas-luasnya. Sebebas-bebasnya. Kita mau ilmiah boleh, mau nyambung boleh, mau misuh juga boleh. Meski, kita jadi misuh gara-gara tulisan Pak Bos akhir-akhir ini. Yang menambah ruwet, sebab harga-harga yang naik. Karena MBG sudah buka lagi pasca libur sekolah.

Gregorius Indiarto

"Rasanya; tidak mungkin itu uangnya Menteri Pertahanan Syafri Syamsuddin, seperti yang beredar di media sosial" Kalimat diatas. Kalau kata "rasa" diganti "pikir", kalimat lanjutannya masih sama kah? Karena "rasa" dan "pikir" bisa berbeda. Dan, bisa jadi, atau mungkin, media sosial berpikir dan Anda berasa. #komenrasa

hoki wjy

masyarakat banyak yg heran kenapa 2+10 ketika berpidato sama sekali td menyinggung hal hal yg sedang dialami negeri konoha seperti masalah ekonomi Defisit APBN atau melemahnya Rupiah atau kasus Brankas dia malah sibuk usir warga konoha dan sibuk mengumbar kata kata yg bagi seorang pimpinan tentu itu tdk baik diucapkan karena tentu ada juga anak2 yg melihatnya seperti Ndasmu! dan Bajing#an! apa tdk ada penasehat presiden yg memberinya saran?

Tivibox

Pemain Kamerun itu Roger Milla/ Di kota Venesia membeli piza/ Yang paham hukum sekarang menggila/ Hancurlah indonesia tiada tersisa/ Pulang ke Manyar lewat Besuki/ Jangan malu bertegur sapa/ Uang sekamar tak diakui/ Lalu itu punya siapa?/

Muh Nursalim

Ini cerita tentang Gus Dur. Ketika di tanya wartawan. Kora2 begini. "Kenapa kyai juga bernuat maksiat ?" Gus Dur jawab. "Kyai itu tahu bagaimana cara minta ampun kepda Allah sehingga dosanya diampuni"

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 25

  • Jo Neka
    Jo Neka
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Sugi
    Sugi
  • Yugi Porkdelicious
    Yugi Porkdelicious
  • Yugi Porkdelicious
    Yugi Porkdelicious
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • alasroban
    alasroban
  • alasroban
    alasroban
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • my Ando
    my Ando
  • rid kc
    rid kc
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi