Homo Debatus

Homo Debatus

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

BACA JUGA:Estetika Lowbrow

Tidak semua peristiwa membutuhkan podcast tiga jam. Kadang-kadang, diam justru merupakan bentuk kecerdasan yang paling langka.

Namun diam bukan barang yang laku di pasar digital. Diam tidak menghasilkan viralitas. Diam tidak mendatangkan pengikut. Diam tidak mengundang sponsor.

Karena itu, sebagian orang rela menggadaikan ketenangan demi sepuluh ribu penonton dan dua puluh ribu komentar. Bahkan ada yang lebih takut kehilangan perhatian publik daripada kehilangan akal sehat.

Maka jangan heran bila kita hidup di tengah kebisingan yang sangat ramai tetapi miskin kebijaksanaan.

BACA JUGA:Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi

Semua orang berbicara. Semua orang menjelaskan. Semua orang mengoreksi. Semua orang merasa paling tahu. Tetapi hanya sedikit yang benar-benar mendengar.

Padahal Tuhan menganugerahkan manusia dua telinga dan hanya satu mulut. Mungkin ada pesan sederhana yang tersembunyi di sana: mendengar seharusnya dua kali lebih banyak daripada berbicara.

Al-Qur'an dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 mengingatkan manusia agar menjauhi prasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menggunjing sesama.

Sebab ternyata lidah yang tidak dijaga dapat lebih tajam daripada pedang, dan komentar yang sembrono dapat lebih mematikan daripada fitnah yang disengaja.

BACA JUGA:Ketika Kejatuhan Dirayakan

Boleh berbeda pendapat. Boleh berdebat. Boleh mengkritik. Tetapi tidak setiap percakapan harus berubah menjadi arena tinju verbal.

Tidak setiap mikrofon harus diperebutkan. Tidak setiap lawan bicara harus dikalahkan. Sebab dunia ini sudah cukup bising. Tidak perlu ditambah dengan lomba siapa yang paling keras suaranya.

Barangkali sesekali mulut perlu mengambil cuti. Biarlah telinga bekerja lembur. Karena bisa jadi, kemajuan peradaban tidak ditentukan oleh seberapa panjang manusia berbicara, melainkan oleh seberapa dalam manusia mendengarkan.

Dan siapa tahu, di tengah banjir komentar dan tsunami pendapat, orang yang paling bijaksana justru bukan mereka yang paling sering muncul di layar, melainkan mereka yang tahu kapan harus berkata-kata dan kapan cukup tersenyum sambil menyeruput kopi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: