Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

Padahal justru keberagaman itulah yang membentuk wajah Indonesia. Boleh jadi, masyarakat Toraja akan bertanya mengapa masyarakat Jawa memuliakan kerbau Kiai Slamet.

Masyarakat Jawa pun mungkin bertanya mengapa kerbau Toraja dikurbankan dalam jumlah besar.

Masyarakat Bali memiliki tafsir berbeda lagi. Lampung pun demikian. Tidak ada yang salah. Karena kebudayaan memang tidak diciptakan untuk menjadi seragam.

BACA JUGA:Estetika Lowbrow

Belajar Membaca Sebelum Menghakimi

Peristiwa penobatan adat terhadap Joko Widodo sesungguhnya menghadirkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar polemik tentang kepala kerbau. Ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan hanya negara politik, melainkan juga negara budaya.

Di negeri yang memiliki ribuan tradisi, simbol tidak bisa dibaca secara serampangan. Ia memerlukan konteks, sejarah, dan pemahaman terhadap cara pandang masyarakat yang melahirkannya.

Ketika sebuah ritual adat dipotong menjadi satu gambar, lalu ditafsirkan semata-mata melalui lensa politik, kita berisiko kehilangan makna yang sesungguhnya.

Boleh saja ada kritik terhadap seorang tokoh politik. Itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.

BACA JUGA:Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi

Namun, ketika kritik tersebut menyeret simbol-simbol adat tanpa terlebih dahulu memahami logika budaya yang mendasarinya, kita bukan sedang memperkaya diskusi publik, melainkan memperlebar jurang salah paham.

Mungkin, yang lebih kita perlukan hari ini bukanlah semakin banyak penafsir, melainkan semakin banyak pembelajar. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kebijaksanaan sering kali lahir dari kesediaan untuk memahami sebelum memutuskan, mendengar sebelum menghakimi, dan menghormati keberagaman makna yang hidup di dalam kebudayaan Nusantara.

Pada akhirnya, kepala kerbau itu bukan sekadar kepala kerbau. Ia adalah cermin yang memantulkan cara kita memandang budaya: apakah dengan rasa ingin tahu yang rendah hati, atau dengan prasangka yang tergesa-gesa.

Di sanalah kualitas peradaban sebuah bangsa diuji. 

By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: