Survival Guide di Republik Caption

Survival Guide di Republik Caption

Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA: Di negeri +62 yang katanya ramah tamah ini, ternyata ada hukum rimba versi upgrade: bukan lagi makan dan dimakan, tapi membahasakan atau dibahasakan.-dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID - Di negeri +62 yang katanya ramah tamah ini, ternyata ada hukum rimba versi upgrade: bukan lagi makan dan dimakan, tapi membahasakan atau dibahasakan.

Kalau dulu singa mengejar kijang, sekarang warganet mengejar typo. Kalau dulu yang kuat memangsa yang lemah, sekarang yang cepat bikin narasi memangsa yang telat klarifikasi.

Di sinilah kita hidup, di sebuah republik yang rakyatnya lebih takut “dibahasakan” daripada dibahasakan ulang oleh ibunya sendiri.

Konon, manusia adalah makhluk rasional yang berkomunikasi untuk mencapai saling pengertian. Itu kata para filsuf.

Tapi di timeline media sosial, rasionalitas itu sering kalah oleh satu hal yang lebih sakti: caption pedas + emot api.

BACA JUGA:Kafe de'Clan Cipete Diduga Punya Jampidsus Febrie Adriansyah? Begini Jawaban Polisi

Bahasa Naik Pangkat

Bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia sudah naik pangkat jadi alat pencitraan, alat penghakiman, bahkan alat olahraga, khususnya cabang lempar opini dan loncat logika.

Siapa yang paling lincah memainkan kata, dialah yang paling berkuasa. Bukan karena paling benar, tapi karena paling viral.

Hari ini, seseorang bisa berubah status sosial hanya dalam hitungan detik, cukup dengan satu label. Pagi hari dia warga biasa, siang hari jadi “pengamat dadakan”, sore hari naik level jadi “tokoh kontroversial”, malamnya resmi jadi “bahan konten”.

Semua itu bukan karena perubahan substansi, tapi karena perubahan bahasa.

Di kantor-kantor, bahasa juga punya kehidupan sendiri. Kritik yang jujur bisa tiba-tiba berubah jadi “tidak konstruktif”. Saran sederhana bisa naik kelas jadi “serangan personal”.

Bahkan kalimat, “Pak, mungkin bisa diperbaiki,” bisa ditafsirkan sebagai kudeta kecil-kecilan terhadap kekuasaan meja kerja.

Yang lebih menarik, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sensitif pula pendengarannya terhadap bahasa. Sedikit saja kalimat melenceng, langsung dianggap ancaman negara mini bernama “instansi”.

Padahal kalau santai sedikit, mungkin semua bisa selesai dengan secangkir kopi dan gorengan. Tapi tidak, karena di sini yang dipertaruhkan bukan hanya argumen, melainkan citra diri yang sudah dibangun dengan susah payah di grup WhatsApp.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: