Survival Guide di Republik Caption

Survival Guide di Republik Caption

Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA: Di negeri +62 yang katanya ramah tamah ini, ternyata ada hukum rimba versi upgrade: bukan lagi makan dan dimakan, tapi membahasakan atau dibahasakan.-dok disway-

BACA JUGA:Ada Ular Masuk Rumah? Ustadz Khalid Basalamah Ungkap Cara Mengusirnya Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Arena Gladiator Modern

Masuk ke dunia media sosial, kita akan menemukan arena gladiator modern: kolom komentar.

Di sana, bahasa tidak lagi tunduk pada tata krama. Ia liar, bebas, dan kadang tidak mandi. Orang-orang saling melempar label seperti tukang parkir melempar karcis: cepat, tepat, dan tanpa banyak pertimbangan.

Ada yang disebut “kaum rebahan”, “tim hore”, “generasi micin”, “kaum bumi datar”, “ibu garis keras”, sampai “intelektual kopi sachet”. Semua label itu beredar bebas, seperti diskon tanggal kembar.

Lucunya, sebagian besar orang lebih sibuk menghindari label daripada memperbaiki diri. Yang penting bukan benar atau salah, tapi jangan sampai dibahasakan jelek.

Kalau bisa, justru kitalah yang lebih dulu membahasakan orang lain, biar aman.

Ini semacam strategi bertahan hidup: serang duluan sebelum diserang. Mirip ayam kampung, tapi dengan WiFi.

BACA JUGA:Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp100 Juta Cicilan Ringan 1-5 Tahun, Ajukan Buat Modal Bisnis!

Ahli Asah Bahasa

Dalam dunia politik, bahasa sudah jadi senjata utama, lebih tajam dari pedang, lebih licin dari janji kampanye. Para kandidat tidak hanya berlomba menawarkan program, tapi juga berlomba memilih diksi.

Satu kata bisa menentukan nasib. “Reformasi” bisa terdengar heroik, tapi “perubahan” bisa terasa lebih santai.

“Stabilitas” terdengar menenangkan, tapi “status quo” bisa jadi bahan ejekan.

Maka, muncullah para ahli bahasa dadakan: konsultan citra, buzzer profesional, dan netizen berpengalaman yang bisa membedakan antara “kritik tajam” dan “nyinyir halus” hanya dari penggunaan tanda titik tiga.

Di panggung ini, yang penting bukan hanya apa yang dikatakan, tapi bagaimana membahasakannya. Bahkan kadang, yang tidak dikatakan justru lebih penting, karena bisa diisi sendiri oleh imajinasi publik.

Dan publik kita, seperti biasa, sangat kreatif dalam urusan itu. Yang paling menarik adalah fenomena takut dibahasakan. Ini penyakit sosial yang cukup serius, tapi belum masuk BPJS.

Orang bisa tenang menghadapi masalah nyata, tapi panik luar biasa menghadapi kemungkinan dicap. Takut dibilang “tidak peduli”, “tidak peka”, “tidak berpihak”, atau yang paling horor: “tidak relevan”.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: