Survival Guide di Republik Caption
Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA: Di negeri +62 yang katanya ramah tamah ini, ternyata ada hukum rimba versi upgrade: bukan lagi makan dan dimakan, tapi membahasakan atau dibahasakan.-dok disway-
Akhirnya, banyak orang berbicara bukan karena ingin menyampaikan kebenaran, tapi karena ingin menghindari kesalahan label. Bahasa jadi bukan alat ekspresi, melainkan alat perlindungan diri.
Kita memilih kata bukan untuk jujur, tapi untuk aman.
Padahal, kalau dipikir-pikir, label itu seringkali lebih mencerminkan yang memberi daripada yang diberi. Tapi ya begitulah, di negeri ini, kadang lebih penting terlihat benar daripada benar-benar benar.
Dan di tengah semua hiruk pikuk ini, bahasa terus bekerja, diam-diam membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Ia bukan sekadar alat, tapi juga arsitek realitas kita.
Kita tidak hanya berbicara dengan bahasa, kita hidup di dalamnya.
BACA JUGA:Katalog Promo Alfamart Terbaru 9-12 Juli 2026, Indomie Goreng Rp10 Ribu Dapat 3!
Membahasakan Atau Dibahasakan
Maka mungkin benar, di dunia manusia berlaku hukum: membahasakan atau dibahasakan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita bisa berbicara, tapi apakah kita sadar saat sedang “dipakai” oleh bahasa. Apakah kita masih berpikir, atau hanya sedang mengulang narasi yang sudah jadi template?
Karena di era ini, menjadi manusia bukan hanya soal bernapas dan bekerja, tapi juga soal bertahan dari label yang beterbangan seperti confetti di pesta demokrasi.
Dan kalau tidak hati-hati, kita semua bisa jadi korban, atau pelaku, dalam permainan besar bernama: perang kata-kata tanpa tanda koma.
Akhirnya, mungkin kita perlu sedikit jeda. Bukan untuk diam, tapi untuk berpikir ulang sebelum membahasakan, dan sebelum membiarkan diri dibahasakan.
Karena bisa jadi, yang paling berbahaya bukan kata-kata orang lain, tapi kata-kata yang kita anggap benar tanpa pernah kita periksa ulang. Di negeri ini, siapa cepat dia viral. Tapi siapa bijak, itu masih dalam tahap uji coba. ##AS@
Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: