Begitu mendarat di bandara Vladivostok saya ”on”-kan HP. Saya sudah minta tolong Nicky di Surabaya: uruskan paket roaming internasional Telkomsel untuk Rusia.
"Bisa," katanyi, setelah komunikasi dengan Grapari Telkomsel. Nicky memang yang selalu urus paket roaming saya untuk berbagai negara.
Tidak bisa. Saya matikan HP untuk dihidupkan lagi: tetap tidak ada sinyal. Saya mulai gelisah. Tanpa HP tidak bisa hidup.
Untunglah proses di imigrasi lancar. Tanpa isi formulir imigrasi. Tanpa ditanya apa-apa. Kurang dua menit paspor sudah distempel. Di imigrasi Rusia tidak menakutkan.
"Beli saja kartu telpon lokal," kata saya dalam hati. Tapi ini masih pukul 06.00 pagi. Konter kartu SIM lokal masih tutup. Tapi loket "informasi" buka.
Seorang petugas siap melayani --kelihatannya ia petugas pengganti: tanpa seragam. Seperti baru bangun tidur.
Wajahnya Tionghoa. Saya coba ajak bicara bahasa Mandarin. Bisa. Lebih bagus dari Mandarin saya. Saya pun bertanya: di mana bisa beli kartu telepon lokal Rusia.
"Kalau mau, saya punya," jawabnya.
"Harga berapa?"
"300 renminbi", jawabnya.
Hah? Di Vladivostok bayar pakai mata uang Tiongkok?
Saya tidak peduli. Saya bayar. Saya minta ia pasangkan kartu itu di HP saya: di slot yang berisi kartu telepon Madinah yang sudah mati. On. Sinyal penuh. Lega. Saya bisa berkomunikasi.
"Saya sudah tiba di Vladivostok," itu WA pertama saya pakai kartu lokal.
"Syukurlah. 很辛苦你..," balas Jannet di Beijing.
Di Vladivostok tiba-tiba saya "buta huruf". Semua petunjuk ditulis dalam huruf Rusia. Tapi saya tahu yang di sana itu kafe --apa pun huruf yang dipajang di depannya. Di situ saya sarapan. Ubi goreng yang irisannya seperti french fries --kentang goreng. Itu tidak penting. Yang penting saya bisa duduk untuk berpikir bagaimana cara pilih hotel. Buka internet. Nama-nama hotel pun muncul. Saya lihat bintangnya. Saya lihat harganya: Huraaaa...!!! Mahal sekali. Semahal di New York di saat ada Piala Dunia.
Saya pun hitung-hitung uang utangan di Beijing kemarin: cukup atau tidak. Alhamdulillah cukup. Tinggal ke konter taksi. Petugasnya langsung sodorkan HP ke saya. Oh... Maksudnyi agar saya bicara di HP-nyi: ke mana tujuan saya. Dia langsung bisa membaca terjemahan apa yang saya ucapkan dalam bahasa Inggris.
Begitulah zaman ini. Saling tidak tahu bahasa, tapi bisa lancar berkomunikasi: berkat si HP bisa jadi penerjemah gratis.
Saya kaget lihat harga taksi ke hotel yang saya pilih: Rp900.000. Tapi emosi segera reda setelah melihat mobilnya: Toyota Alphard. Bukan edisi yang mewah tapi tetap saja Alphard. Dan lagi bandara ini ternyata jauh di luar kota: satu jam perjalanan.
Rupanya salah informasi. Saya dibawa ke sebuah hotel yang dari luar terlihat tidak setara dengan harganya. Saya pun berbicara dengan pak sopir Alphard. Lewat penerjemah gratis. Ia mafhum yang saya maksud. Diantarkanlah saya ke hotel terbaik di Vladivistok. Lokasinya di pusat kota, di pinggir laut.
Di sebelah hotel ini melintang tinggi jembatan baru melintas di atas laut --seperti Jembatan Madura. Di seberang laut terlihat belahan kota Vladivostok.
Sepanjang berjalanan dari bandara saya cari tahu: lokasi apa saja yang menarik, yang harus saya kunjungi. Nomor satu: monumen perang dunia kedua. Nomor dua: jembatan baru. Mudah. Murah. Dua-duanya di sebelah hotel. Jembatan di sebelah kanan, monumen di sebelah kiri.
Pukul 09.00 saya sudah tiba di hotel. Go show. Saya pede saja. Pasti ada kamar. "Saya belum booking. Kami tidak tahu bagaimana mem-booking hotel Anda ini dari luar negeri," kata saya.
Kamar ada. Hanya saja jangan tanya harganya. Tentu saya dikenakan tarif "mendadak". Tarif go show. Sudahlah. Uang bisa dicari. Tapi saya tetap harus berhemat. Saya ditawari: saat itu juga bisa langsung masuk kamar. Tidak harus tunggu jam check-in pukul 14.00. Ada syaratnya: harus tambah bayar dengan tarif setengah hari.
Saya pilih titip tas saja. Lalu jalan kaki ke seberang hotel: habiskan waktu di monumen perang dunia kedua. Toh udara sejuk: 23 derajat. Untuk musim panas seperti 8 Juli 2026 suhu seperti itu "nyaman banar". Bagi orang Vladivostok itu hangat: di situ udara musim dingin bisa minus 35 derajat.
Begitu tiba di monumen perang dunia kedua, ups.... kok ini seperti di Surabaya: ada monkasel --monumen kapal selam. Jangan-jangan monkasel Surabaya dapat inspirasi dari Vladivostok.
Surabaya-Vladivostok memang punya hubungan khusus: sama-sama menjadi basis angkatan laut. Di masa lalu banyak anggota TNI-AL ke Vladivostok. Sekolah. Kursus. Pelatihan. Monkasel yang di Surabaya itu pun kapal selam buatan Rusia --buatan galangan kapal di Vladivostok.
Yang dipajang di Vladivostok itu kapal selam pensiunan perang dunia kedua. Yang dipajang di Surabaya lebih muda: angkatan Trikora perebutan Papua di tahun 1950-an.
Saya beli karcis masuk Monkasel.
"Kapan itu ada orang Indonesia ke sini. Angkatan Laut. Pangkatnya tinggi," ujar petugas jaga pintu masuknya. Dia pun membuka HP. Cari-cari foto. "Saya berfoto dengan mereka," tambahnyi.
Ketemu. Dua orang itu pakai jas TNI-AL. Masih muda. Gagah. Ganteng. Saya baca nama yang tertera di dada. Saya pun tahu siapa mereka.
Kian siang kian ramai. Banyak rombongan tur tiba dengan bus wisata: 90 persen berwajah Tionghoa. Tour leader-nya juga berwajah Tionghoa. Penjelasannya pakai bahasa Mandarin.
Saya dekati beberapa dari mereka. Saya ajak ngobrol pakai bahasa Mandarin. Ada yang datang dari provinsi Shandong. Suami-istri. Mereka berangkat naik kereta api dua hari dua malam ke kota terakhir Tiongkok yang paling dekat dengan Vladivostok. Lalu ganti naik bus melintas perbatasan.
"Saya TikToker," katanya memperkenalkan diri sambil menunjuk kamera khusus yang menempel di dadanya.
"Bisa dapat uang dari TikTok?"
"Hahaa.... Tidak. Tapi saya senang," katanya. Ia pun memberi saya akun TikToknya: 804471982.
Suami-istri itu pensiunan BUMN di Tiongkok. Mereka akan tiga hari di Vladivostok. "Wilayah ini dulunya milik Tiongkok," katanya. "Sedih," tambahnya.
Rupanya ia akan bikin laporan perjalanan untuk rakyat Tiongkok. Inilah kondisi Vladivostok saat ini, wilayah yang dulunya milik Tiongkok".(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 18 Juli 2026: Isi Dompet
Eko Oke
Wah Vladivostok,, terakhir ke sana sebelum Copid19 Pak Dahlan mampirlah ke masjid Vladivostok, eit jangan salah tapi,, disana banyak bangunan berkubah macam masjid di Indonesia tapi ternyata Gereja wkwkwk Waktu kesana lupa saya pas ulang tahun ap, bertebaran gambar palu arit,, tp agama masi lebih bebas drpd di China,, hehe Oiya heran saja kenapa cewek sana cantik cantik sekali 7 i, sampai sampai habis lihat cewek rusky lihat cewek Konoha hilang selera,, wkwk perlu beberapa hari buat netral lagi wkwkw
mario handoko
selamat siang bp thamrin, bp em ha, bp mul, bp jo, bp haji jokosp dan teman2 rusuhwan. sarapan lauk masakan nyonya/ agar tubuh tidak terlihat kurus/ konon uang bukanlah segalanya/ tapi saat dompet kosong semua jadi serius/
Leong Putu
"Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto" ... Nang pasar burung tuku kroto/ Tuku kroto wadahe besek/ Kaet jamane kung Harto/ Kok yo pancet nggowoe kresek/ ... #mbok yo tas Buccheri ngunu.. Hedeeeeeeh
Leong Putu
Nang kali enek iwak gatul/ Bersembunyi di balik batu/ Mas Hasyim memang betul/ Anggota ISTI memang begitu/ Wkwk
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MOSKOW HANYA MAMPIR.. Dari pengakuan Pak Dahlan sendiri, Moskow sebenarnya hanya "mampir". Artinya, kota itu bukan tujuan akhir perjalanan, melainkan persinggahan yang sudah lama diinginkan setelah rangkaian kunjungan ke Amerika dan Kanada selesai. Yang menarik justru bukan kata mampir-nya, melainkan tekad untuk tetap ke Rusia meski rute penerbangan semakin rumit akibat situasi geopolitik. Ketika jalur langsung tertutup, beliau langsung berpikir mencari jalur alternatif melalui negara lain. Kesimpulan saya: Piala Dunia hanyalah agenda utama di awal perjalanan. Setelah itu, perhatian beralih ke Rusia. Moskow memang disebut hanya tempat mampir, tetapi dari cara beliau terus memikirkan rute menuju ke sana, terlihat bahwa persinggahan itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar transit. Mungkin bukan lamanya singgah yang penting, melainkan keinginan untuk melihat Rusia dengan mata kepala sendiri.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DOMPET VS GEOPOLITIK.. Ternyata isi dompet bisa menjadi indikator geopolitik. Kedengarannya lucu. Tapi ada benarnya. Di negara yang terhubung dengan sistem keuangan global, kartu cukup disentuhkan. Urusan selesai. Di Rusia, cerita berubah. Dompet mendadak naik pangkat. Uang tunai kembali menjadi tokoh utama. Ilmunya sederhana. Ekonom menyebutnya biaya transaksi. Semakin banyak hambatan politik, semakin mahal dan rumit sebuah perjalanan. Yang semula cukup membawa kartu, kini harus membawa lembaran uang. Bahkan mungkin perlu kantong plastik, seperti kisah rubel zaman Uni Soviet. Humornya ada di sini. Teknologi terus melaju dengan AI, pembayaran digital, dan dompet elektronik. Namun, satu keputusan geopolitik bisa membuat manusia kembali menghitung lembar uang sambil mencari tempat penukaran valuta. Kesimpulannya, isi dompet ternyata bukan sekadar urusan finansial. Ia juga bisa menjadi "barometer" hubungan antarnegara. Bedanya dengan barometer cuaca, yang satu mengukur tekanan udara, yang satu lagi mengukur... tekanan di kantong.
Jokosp Sp
Inget kemarin lalu saat umrah?. Galuh Banjar yang baru selesai overhoul tempurung lutut saja ditinggaal ke Tiongkok dengan teman bisnisnya. Sampai yang ndorongpun diserahkan ke TKI asal NTT. La ngono kok.....
Irary Sadar
Assalammu'alaikum. Selamat Pagi Pembaca Disway Yang Baik Hati dan Tidak Sombong... Jika orang mau travel, biasanya bingung karena mencari tiket yang murah. Tapi jika Anda seorang yang pernah jadi sesuatu dulu dan yang tajir melintir, harga tiket bukan masalah, tapi rute tiket lah yang bikin sakit kepalah... Namun dari masalah ini kita bisa tahu bahwa Moscow memang susah dimasuki dari jalur udara. Terutama dari negara Nato dan Uni Eropa. Ini akibat perang Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung. Cerita yang menarik. Ternyata ke Vladivostok adalah pilihan mendadak setelah gagal ke Moscow. Mari ditunggu kelanjutan cerita Vladivostok edisi besok... Have a great weekand... 09:12 AM, Komentar: 70.
mario handoko
selamat siang bp agus. "dompet saya sudah tipis. hanya diisi kartu kartu." lho, bukannya kartu kartu bisa digesek di atm beijing. untuk diuangkan jadi renminbi? kemudian lanjut ke money changer. tukar renminbi ke ruble. tentu skenario di atas tidak berlaku. jika saldo di kartu2 sudah dikosongkan galuh banjar. agar abah cepat pulang ke sakura.
Muh Nursalim
Di sini uang cash nda penting. Semua bisa bayar pake kartu n hape. Tapi kok yg ditemukan itu uang cash ya. Buanyaak lagi. Ngapain pula susah-susah. Kan bukan miliknya.
Jokosp Sp
Suatu saat di neraka malaikat mengumpulkan banyak warga negara muslim untuk didata. Hari itu diabsen nama dan asal negaranya. Barisan pertama di kumpulkan dari negara Arab, setelah terkumpul dan dirhitung hanya 10 orang. Lanjud dari Mesir, terkumpul 5 orang. Lanjud dari Brunai Darusalam, hanya 3 orang. Kemudian dari Malaysia, hanya 15 orang. Terus dilanjud dari UEA hanya 10 orang. Dan di barisan paling akhir ternyata paling lama absennya, 1, 2, 3, 4, 5...100, 101, 103...998, 999, 1.000, 1.001 orang. Malaikat sampai pusing mencatat nama-namanya. Ditanyalah ke mereka, kamu semua dari mana?. "Indonesia....bersamaan secara koor". Malaikat melanjutkan pertanyaannya: Bukannya Indonesia pemeluk Islam terbesar, kenapa jadi penghuni neraka terbesar?. "Kami yang paling banyak ini terdiri dari Kontraktor, Pengusaha Tambang, Pejabat Negara, Aparat Negara, Anggota Dewan, dan Pegawai Pemerintahan". Kenapa dari golongan kamu yang banyak masuk neraka ini?. "Karena kami yang jadi koruptor dan garong negara". Terus di mana para copet,, jambret, dan maling itu?. "Mereka sudah diampuni, karena maling hanya untuk makan keluarganya". Bukannya kamu percaya daging babi haram, dan kamu tidak makan?. Dan kenapa korupsi dan menggarong kamu lakukan padahal itu lebih berat dosanya daripada daging babi?. "Daging babi saya makan, maka haram. Kalau korupsi saya tumpuk lebih banyak, sementara yang saya makan sedikit. Saya bahkan berhaji berkali-kali dari korupsi itu". Oh dasar paling sesat.
Tivibox
"Tidak. Tidak mungkin. Isi dompet saya tipis sekali" kata Abah di akhir tulisan hari ini. Dompet itu ada 2 jenis. Dompet fisik dan dompet digital Jaman sekarang, setidak-tidaknya seseorang pasti mempunyai dompet fisik. Tapi kebanyakan orang punya keduanya, fisik dan digital. Untuk dompet digital banyak orang yang punya lebih dari satu. Saya yakin, dompet digital Abah lebih dari satu (dan itu "tidak tipis") Maaf Bah,... kalau saya lancang "ngurusi" dompetnya
Tivibox
Untuk Om @Juve Saya setuju kalau koruptor dihukum adu banteng eh diadu sama harimau lapar di kandang tertutup. Ide ini sangat brilian. Hanya saja, Kalau di Indonesia, saya khawatir harimaunya jadi jinak Karena diiming-iming sesuatu
Sumartan
Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika@100.. Setidaknya Abah DI pernah menyumbang 200 dolar AS untuk 'perjuangan' di Afganistan.
Sugi
Wah inilah keuntungan punya teman luar negeri yang banyak; mau ke mana-mana bisa memilih. Meski begitu, tulisan abah ini tentang jalur ini jalur itu sangat bermanfaat bagi saya. Paling tidak saya mengerti jalan-jalan ke luar negeri cukup ribet ternyata. Tidak hanya dompet harus tebal, jaringan perkawanan harus luas, melek politik luar negeri, disiplin jadwal, dan punya waktu menganggur eh luang yang banyak. Ampun Bah.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Saya mulai mikir ke Ponorogo untuk menemui Perusuh di sana, Mbak Isti: lewat mana. Paling enak lewat Madiun. Tidak mungkin. Sekarang sedang ada demo besar-besaran anggota PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) sehingga Kota Madiun lumpuh. Tidak akan ada bus yang beroperasi dari Madiun ke Ponorogo. Mungkin lewat Magetan saja –meski Magetan lebih dekat dengan Madiun, mestinya jalur angkot dari Magetan ke Ponorogo masih ada. Ternyata sekarang sudah tidak ada lagi jalur angkot di sana. Lantas saya terpikir lewat Trenggalek. Kalau toh tidak ada bus langsung dari Kediri ke Trenggalek, saya masih bisa ambil angkot dari melalui Tulungagung. Dari Kediri ke Tulungagung, lanjut dari Tulungagung ke Trenggalek. Dekat sekali. Ibarat dari St Petersburg lantas ke Moskow. Ternyata jalur Trenggalek ke Ponorogo sedang ada perbaikan total dan jalannya juga ditutup. Buntu. Ingin juga lewat Wonogiri –sekalian bisa mampir rumah seorang teman. Tapi itu juga tidak mungkin. Terlalu jauh. Satu-satunya jalan lewat Pacitan. Saya harus ke Pacitan melalui Trenggalek. Tapi kalau lewat Pacitan terlalu ke selatan, lalu harus balik ke utara. Mendingan lewat Pulung. Dari Tulungagung ada jalur tikus menuju Ponorogo melalui Pulung.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BENAR DIKIT, SALAH BANYAK.. Saya harus mengaku. Tebakan saya memang lebih banyak meleset daripada tepat. Tetapi ternyata tidak nol juga. Ada yang kena sasaran. Saya sempat menduga Pak Dahlan ingin ke Moskow. Benar. Lalu ingin ke St. Petersburg. Benar lagi. Saya juga menduga beliau mengincar kereta Trans Siberia. Ternyata itu memang ada di daftar impian. Yang masih menggantung tinggal satu: ingin bertemu Bu Connie. Ini masih wilayah dugaan. Bisa benar. Bisa juga hanya hasil imajinasi pembaca yang terlalu rajin menyusun kepingan cerita. Begitulah asyiknya mengikuti tulisan Pak Dahlan. Pembaca dipaksa menjadi detektif. Menyusun petunjuk. Menebak arah. Lalu siap tertawa ketika tebakannya terpeleset. Untung masih ada tiga yang benar. Kalau semuanya salah, saya harus ikut naik Trans Siberia. Bukan untuk ke Moskow, tetapi untuk mencari kembali rasa percaya diri.
Denny Herbert
Lagi ramai di media sosial terkait tiga skandal beruntun di Kementerian PU yang sedang disorot tajam netizen: Rencana Liburan Berkedok Dinas: Bocornya surat delegasi resmi ke PBB New York yang mencantumkan nama istri dan anak menteri, dengan tanggal pulang yang dicurigai pas dengan Final Piala Dunia 2026 di New Jersey. Meskipun akhirnya dibatalkan, keikutsertaan anak dinilai tidak punya dasar hukum jelas. 2 Mutasi Janggal (Diduga Pembungkaman): Pasca surat tersebut viral, terjadi mutasi massal sekitar 114 pegawai. Sebanyak 8 pejabat eselon dari unit perencanaan anggaran dan humas (sumber dokumen bocor) langsung dinonjobkan dan dilempar ke pelosok Indonesia Timur. 3. Nepotisme Jabatan: Sorotan terhadap keponakan menteri yang merangkap dua jabatan strategis sekaligus, yaitu sebagai Komisaris PTPP dan Tenaga Ahli Menteri. Publik di medsos kini mendesak adanya transparansi anggaran dan pembenahan etika pejabat agar tidak mencederai kepercayaan masyarakat.
Gerring Obama
Harusnya pak Dis mengklaim dulu ke orang rusia lewat DISWAY bahwa pak dis sudah ada perjanjian dengan putin punya kartu sakti bisa tukar Rubel 20% dari limit , seperti apa yang dilakukan Trump terhadap selat hormusz, lalu ketika sudah tiba disana tinggal mencairkan saja tanpa kena bunga. Hehehehe Kan, mengklaim kan gampanggg... Ziahhh
Er Gham 2
Jika Anda sedang jalan ke daerah. Dan iseng ingin tahu, apakah suatu gedung kantor dinas atau institusi, kepalanya sedang berada di kantor tersebut, bagaimana caranya. Lihat saja, apakah ada sebuah mobil yang diparkir pas depan pintu masuk. Seolah olah mobil tersebut menghalangi atau memalangi pintu masuk utama gedung itu. Kalo ada, berarti kepala dinas nya ada di dalam. Berdasar pengalaman travel belasan tahun, ini kayaknya berlaku di seluruh kabupaten, terutama di daerah pelosok. Entah apa maksudnya. Mungkin agar sang kepala dinas tidak perlu berjalan jauh jika akan masuk ke mobil dinasnya. Atau menghindari sengatan panas matahari.
Muin TV
Tentang Febrie Adriansyah bagian 2 (habis) Langsung saja. Kalau saya jadi Presiden Prabowo, maka saya akan bebaskan Febrie Adriansyah dan mengangkatnya menjadi jaksa agung. Semua uang yang ditemukan itu, sah menjadi milik Febri. Kenapa begitu? Dalam kepercayaan kami sebagai umat Islam, ketika kita mau masuk surga, maka semua amal-amalnya ditimbang. Mana yang lebih berat, amal kebaikan atau amal keburukannya yang lebih berat. Kalau amal kebaikannya yang lebih banyak, maka otomatis masuk syurga. Begitu juga sebaliknya. Bagaimana dengan Febrie Adriansyah ini? Lihatlah, 3 juta hektar kebun sawit berhasil dikembalikan ke negara. Sebulan bisa menghasilkan 9 trilyun rupiah. 1 tahun 96 trilyun. 10 tahun, 960 trilyun. Belum lagi uang cash yang mencapai 11 trilyun. Sedangkan yang diambil dia cuma 1,5 trilyun. Itu pun kalau memang benar itu uang dia. Beda dengan kasus koruptor lain. Seperti Harvey Muis (Suami Sandra Dewi). Dia memang mengeruk timah untuk memperkaya diri. Bukan untuk negara. Banyak orang menginginkan hukuman mati untuk koruptor. Sebelum menerapkan hukuman mati, sebaiknya perbaiki dulu struktur gaji para pejabat dan ASN di Indonesia. Harusnya gaji pejabat negara itu, di atas direktur bank BUMN. Kalau gajinya sudah tinggi, masih korupsi juga, baru terapkan hukuman mati. Jadi intinya, ampuni Febrie, bebaskan dia. Kebaikan dia lebih banyak dari pada keburukannya.
Ferdy Holim
Vladivostok dulu adalah bagian dari Tiongkok. Tapi setelah Perang Candu Kedua berakhir, Dinasti Qing terpaksa menyerahkan Outer Manchuria (termasuk Vladivostok) kepada Rusia pada tahun 1860. Kelak setelah Dinasti Qing runtuh dan Tiongkok menjadi republik, Tiongkok juga kehilangan Outer Mongolia (yang sekarang menjadi negara sendiri) juga atas campur tangan Rusia. Mungkin karena itulah Tiongkok begitu ngotot mempertahankan Taiwan, Hongkong, Macau, Tibet, Xinjiang, dan Laut Tiongkok Selatan. Pokoknya Tiongkok tidak boleh kehilangan wilayah lagi.
riansyah harun
Rusia punya sistim keuangan sendiri. Namun siapa tau model pembayaran asal Indonesia Qris bisa terterima di Rusia..??? Apalagi Pak Prabowo, sudah ber ulang ulang ber silaturahim dengan pak Putin..???? Akh..., sentil dulu Pak Purbaya, yang sudah jarang muncul di medsos....., ada peluang nich pak.
Runner
Mari merencanakan (baca: mengkhayal) yang asyik-asyik. Dapat tiket dan sangu naik kereta Trans Siberia. Rute dari Moskwa menuju Vladivostok. Wuiih… jarak tempuh 9.200 km melalui 8 zona waktu. Lama perjalanan sekitar 144 jam. 6 sampai 7 hari. Start dari Stasiun Yarolavsky Moskwa, finish distasiun Vladivostok. Infonya sih, kereta yang paling terkenal namanya “Rossiya”. Tentu ini kereta ada kelas yang bisa bobo. Perjalanan melintasi perbatasan Eropa dan Asia di Pegunungan Ural. Padang rumput yang luas. Hutan Siberia. Jembatan-jembatan di atas sungai. Melintasi tepi danau air tawar Baikal. Singgah di Yekaterinburg (kota Tsar Romanov), Novosibirsk ibukota Siberia, Kota Irkutsk dekat danau Baikal, Ulan Ude sebagai pusat Budha Rusia. Kapan rencana terlaksana ? Nabung dulu atau bisa jadi ini jenis hadiah untuk perusuh.