Ia menulis bahwa sebagian besar manusia hidup dalam keputusasaan yang diam-diam. Mereka menjalani hidup yang tidak benar-benar mereka inginkan.
Mungkin, itulah tragedi terbesar manusia modern: hidup menurut harapan orang lain, lalu lupa bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa yang sebenarnya membuatku bahagia?"
Menjadi bohemian bukan berarti harus berambut gondrong, memakai pakaian warna-warni, atau mengembara tanpa tujuan. Menjadi bohemian adalah keberanian untuk hidup secara otentik. Menjadi manusia yang tidak kehilangan keunikan dirinya.
BACA JUGA:Terjebak Arsip: 'Negarawan di Cermin Retak'
Kita boleh bekerja di kantor, menjadi dosen, petani, pedagang, pegawai negeri, atau pengusaha. Kita boleh mengenakan batik ataupun jas.
Tetapi jangan sampai kehilangan jiwa yang merdeka. Sebab manusia tidak dilahirkan untuk menjadi salinan dari manusia lainnya.
Dan bagi seorang beriman, kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang sesungguhnya adalah kebebasan yang tetap berpijak pada nilai-nilai Ilahi.
Manusia boleh menikmati seni, berpikir kreatif, berbeda dengan kebanyakan orang, bahkan melawan arus zaman, tetapi jangan sampai kehilangan arah kepada Sang Pencipta.
Pada akhirnya, sebagaimana akhir lagu Bohemian Rhapsody yang pelan dan sendu itu, kita akan sampai pada kesadaran bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menyenangkan semua orang.
BACA JUGA:Taxman di Era Modern: Saat Semua Aktivitas Terasa Berbayar
Hidup adalah perjalanan untuk mengenali diri sendiri, mencintai sesama, berkarya dengan tulus, dan berserah diri kepada Tuhan. Mungkin kita tidak akan menjadi orang paling terkenal. Mungkin kita tidak akan menjadi orang paling kaya.
Tetapi bila kita dapat hidup sebagai diri sendiri, menikmati secangkir kopi, mendengarkan musik yang kita cintai, membaca buku yang baik, berkarya dengan hati yang merdeka, beribadah dengan khusyuk, dan pulang kepada Tuhan dengan jiwa yang tenang, bukankah itu sudah lebih dari cukup?
Karena pada akhirnya, seperti bisikan lembut Freddie Mercury di penghujung lagunya:
"Anywhere the wind blows..."
Ke mana pun angin kehidupan bertiup, manusia yang telah berdamai dengan dirinya sendiri tidak akan pernah benar-benar tersesat.
By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta