Resto Kuburan

Resto Kuburan

Ilustrasi dua sisi masa depan Koperasi Desa Merah Putih.--

Kegagalan Koperasi Desa Merah Putih bisa berdampak sangat besar: diubahnya UUD 1945, khususnya pasal 33. Di Dismorning kemarin saya menyebutkan KDMP itu sebagai perjudian yang sangat besar. Belum pernah ada presiden Indonesia yang berani mencoba melaksanakan Pasal 33 UUD 45 selain Prabowo.

Presiden Soeharto pernah membuat gerakan KUD. Meski namanya Koperasi Unit Desa tapi tidak didirikan di semua desa seperti yang sekarang dilakukan Presiden Prabowo. KUD hanya di tiap kecamatan. Hasilnya Anda sudah tahu: gagal total.

Presiden-presiden berikutnya hanya "berani" melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 dengan cara mudah: membuat Kementerian koperasi. Punya menteri koperasi. Pernah di kementerian itu koperasi digabung dengan usaha kecil. Kesannya: koperasi itu memang tergolong usaha kecil.

Saya tidak tahu apa latar belakang sebenarnya Presiden Prabowo mendirikan koperasi begitu masifnya: di semua desa. Begitu cepatnya: dalam setahun harus sudah jadi semua. Ibarat bongkar rumah, Presiden Prabowo tidak lagi hanya pakai linggis dan ganco. Presiden Prabowo pakai buldoser.

Kemungkinan satu: Presiden Prabowo benar-benar hanya semata-mata ingin melaksanakan UUD 1945. Semua presiden kan disumpah untuk melaksanakan UUD. Presiden yang tidak melaksanakan UUD bisa disebut pengkhianat negara. Hukuman bagi pengkhianat negara adalah harus dilengserkan dan dihukum berat. Bahwa setelah dilaksanakan ternyata gagal bukan salah yang melaksanakan. Bisa jadi salah yang merumuskan Pasal 33 UUD 1945.

Kemungkinan kedua: Presiden Prabowo tersentuh nurani dan emosinya. Yakni ketika besarnya kemiskinan tidak teratasi. Ketimpangan ekonomi melebar. Sistem kapitalisme tidak memihak rakyat. Dengan kapitalisme yang kaya kian kaya –dengan kecepatan roket. Yang miskin memang bisa meloncat, tapi dengan kecepatan kodok.

Maka Presiden Prabowo memutuskan lebih mengandalkan koperasi sebagai alternatif dari kapitalisme. Sekali gebrak langsung di setiap desa di seluruh Indonesia. Tidak ada presiden Indonesia senekad Prabowo. Seluruh warga desa otomatis menjadi anggota koperasi KDMP di desa itu.

Para pendukung sistem ekonomi koperasi punya semangat tinggi bahwa sistem koperasi bisa lebih baik dari kapitalisme.

Mereka juga mengagungkan betapa sukses koperasi di Belanda. Di Jepang. Pun di Singapura. Di sana koperasinya kelas raksasa semua. Bahkan raksasa dunia.

Mereka seperti lupa, sebesar-besar koperasi di Belanda tidak bisa mengubah sistem kapitalisme negara. Pun di Jepang. Dan di negara lainnya. Mereka tidak mempersoalkan itu. Mereka berkoperasi tanpa maksud mengubah kapitalisme.

Di sana koperasi beriringan dengan kapitalisme. Koperasi ternyata bisa hidup subur di sistem kapitaliame itu sendiri. Bahkan koperasi di sana menjalankan praktik kapitalisme.

Misalnya raksasa koperasi peternak sapi perah di Belanda: Royal FrieslandCampina. Anggota koperasi itu besar sekali: 35.000 peternak. Anggotanya menyebar di berbagai kabupaten dan distrik di seluruh Belanda.

Dalam praktiknya bukan koperasi itu yang berbisnis. Untuk menjalankan bisnis koperasi itu mendirikan NV –semacam Perseroan Terbatas di Indonesia. Yang berbisnis adalah perusahaan NV tersebut, dengan manajemen yang modern –tidak ada bedanya dengan perusahaan di sistem kapitalis.

Apakah semua anggota koperasi yang 35.000 orang itu jadi pemegang saham NV? Tidak. Pemegang sahamnya adalah koperasi.

Lalu siapa yang hadir di RUPS NV? Yang hadir adalah pengurus koperasi.

Bahkan ketika rapat anggota koperasi pun tidak semua anggota perlu hadir. Sistem korumnya tidak didasarkan 50%+1 dari jumlah anggota.

Yang boleh hadir di rapat anggota adalah perwakilan-perwakilan anggota. Mengingat anggota koperasi tersebar di banyak distrik maka anggota di satu distrik memilih wakil mereka. Wakil di distrik itulah yang hadir di rapat anggota –lembaga tertinggi dalam koperasi.

Perusahaan NV milik koperasi itu sendiri sama sekali tidak berbeda dengan perusahaan kapitalis biasa. Mereka bahkan bersaing sebagai sesama kapitalis.

Tentu koperasi yang selama ini ada di Indonesia tidak begitu. KDMP juga tidak begitu.

Maka saya tidak bisa membayangkan konsekuensi kalau KDMP nanti gagal. Padahal kans untuk berhasil begitu besar dipertanyakan.

Ada kesan koperasi itu sekaligus antitesa kapitalisme. Padahal koperasi bisa sekaligus jadi kapitalis.

Tapi untuk menilai KDMP berhasil atau gagal kita harus sabar menunggu setahun lagi: hari itu kita bisa belok kanan ke restoran. Bisa juga belok kiri ke kuburan. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 9 September 2026: Secukupnya Selamanya

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

JADI PENGURUS SECUKUPNYA, JADI WARGA SELAMANYA.. Kalimat ini sederhana. Tetapi dalam organisasi, maknanya dalam sekali. Jabatan memang ada batas waktunya. Pengabdian seharusnya tidak. Saya justru tertarik pada satu konsekuensinya. Kalau menjadi pengurus hanya “secukupnya”, maka organisasi harus dibangun supaya tidak bergantung pada pengurusnya. Sistem harus lebih kuat daripada figur. Di sinilah empat agenda besar NU menjadi ujian. Islam Nusantara. Gerakan madaniah. Ekonomi akar rumput. Pendidikan. Semuanya membutuhkan kerja panjang. Tidak mungkin selesai dalam satu periode kepengurusan. Karena itu pembagian tugas yang disarankan Pak Dahlan menarik. Ketua umum tidak harus menjadi pemain tunggal. Ia cukup menjadi dirigen. Yang ahli biarlah memainkan instrumennya masing-masing. Ada satu lagi yang penting. Jangan sampai organisasi terlalu sibuk mengurus sumber "dana". Sampai lupa mengurus sumber "daya" manusia. Tambang bisa menghasilkan uang. Tetapi pendidikan menghasilkan manusia. Dan manusia itulah yang membuat organisasi hidup selamanya. Mungkin inilah arti sebenarnya “secukupnya selamanya”. 1) Jabatan boleh berganti. 2) Gagasan jangan berhenti.

siti asiyah

ketika ada label islam nusantara artinya Nu bikin arena pertandingan dan perlawanan, mengapa tidak dibuat sederhana : membumikan ajaran Islam misalnya. labeling akan menciptakan pesaing.

siti asiyah

Lebih enak jadi warga negara selamanya ?? Yakin, setengah yakin atau tidak yakin sama sekali ?? Problem kita hari ini adalah adagium kalo mau enak jadilah penguasa, setidaknya jadilah bagian dari yang berkuasa.Karena jadi warga negara terbukti tak pernah ada pembelaan ataukah sekedar keberpihakan. Maka berbondong orang ingin jadi penguasa atau bagian dari penguasa itu.Warga yang uangnya berlimpah ( konglo biasanya ) akan bikin partai, klas pengusaha akan masuk partai dan nyalek, orang kaya kecamatan akan bayar untuk anaknya jadi ASN/TNI/Polri, orang kaya desa hartanya diinvestasikan untuk jadi kades atau beli jabatan perangkat desa, yang gak berpunya berlomba masuk di lembaga desa, setidaknya dapat honor dan dibayari BPJS-nya. Kenapa hal ini rantai berantai ?? Karena jadi warga negara di republik ini luarbiasa cobaan dan deritanya.

Bahtiar HS

Siji loro telu Gambar Kakbah pilihanku Papat limo enem Nek dicatet aja gelem Pitu wolu songo Nek dipeksa tinggal lungo Songo njur sepuluh Gambar Kakbah paling ampuh Lagu singkat itu msh sy hapal luar kepala sampai sekarang. Lagu heroik pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat kampanye Pemilu 1977. Dimana NU jd motor penggerak utama partai hasil fusi zaman Orba 1973 itu. Keluarga sy sbg nahdhiyin turut serta dlm Pemilu. Termasuk sy, anak kelas 1 SD Maarif (lbh dikenal SD NU) di Ogoronop. Ikut kampanye keliling kota naik truk krn sound systemnya nyewa punya paklik yg pengusaha sound bukan horeg waktu itu. Sepanjang jalan, lagu yg diputar di antara yel2 di atas adalah lagu2 Bang Haji Rhoma Irama. Sejarah mencatat, PPP berjaya waktu itu. Menaklukkan telak Jakarta pusat rezim dg suara terbanyak mengalahkan Golkar. Juga menang di Aceh. Scr nasional, PPP sukses mengamankan 29,2% suara, menjadikannya satu2nya wadah politik yg mampu menandingi dominasi mutlak Golkar di era Orde Baru. Itu semua dipicu oleh solidnya jaringan ulama, santri, dan struktur kultural NU, shg PPP meraih kejayaan elektoral luar biasa pada Pemilu 1977 itu. Begitu 1984 NU kembali ke Khittah 26 dan membebaskan warga NU memilih partai, maka perlahan PPP meredup. NU pun bertebaran di mana2 yg menyebabkannya juga meredup. Besar, tp terpecah di banyak lini. Serigala itu lbh mudah memangsa kambing yg jalan terpisah jauh dari kawanannya. Dan lagu itu kini spt NU dan PPP: tinggal jd kenangan manis.

Bahtiar HS

Betul sekali jk disebut kemajuan NU (dan PPP) itu tergantung SINTEN. Siapa pemimpinnya. KH Idham Chalid dan KH Masykur adl dwitunggal ulama-politisi legendaris yg jd arsitek utama kejayaan politik NU sekaligus motor penggerak PPP pd masa Orba. Keduanya tokoh komplit dg predikat ulama karismatik, pejuang kemerdekaan, pejabat tinggi negara, serta Pahlawan Nasional. Kiai Idham memegang rekor sbg Ketum PBNU terlama dlm sejarah: 28 tahun (1956–1984). Ia dikenal sbg "mahaguru politik" warga NU krn keluwesan diplomasi politiknya yg mampu membawa NU melewati badai 3 zaman: Orla (Era Sukarno), Masa Transisi 1965, hingga Orba (Era Soeharto). Beliau Deklarator & Presiden Pertama PPP. Wakil Perdana Menteri Era Soekarno. Ketua DPR/MPR era Soeharto. Smtr Kiai Masykur adl Panglima Tertinggi Laskar Hizbullah-Sabilillah saat perang kemerdekaan & anggota BPUPKI. Di struktur keagamaan, beliau pernah jd Ketum PBNU 1950–1956, mendahului Kyai Idham. Beliau Benteng Ideologis & Ketua Fraksi PPP DPR. Ketua DPP PPP. Menteri 5 kabinet. Sepak terjang paling legendaris Kiai Masykur terjadi saat pemerintah Orba mengajukan RUU Perkawinan 1973 yg dianggap sekuler dan bertentangan dg hukum Islam. Sbg Ketua Fraksi PPP, beliau memimpin benteng perlawanan umat Islam di parlemen dg sangat gigih. Keteguhannya membuat pemerintah akhirnya mengalah & merevisi RUU sesuai syariat Islam sblm disahkan jd UU No. 1/1974. Itu duluuu. Kalau sekarang? Bukan SINTEN (siapa) lg, tapi PINTEN (berapa). Wani piro.

Andi Taruna

sekian tahun baca disway, gatel juga ingin merusuh. tolong jika abah jadi sesuatu atau punya akses ke sesuatu: plat no (nopol) itu tolong sesuatu yang permanen, tidak bisa dilepas-lepas, silakan dipikirkan bersama pihak yg berkepentingan. dibuat canggih, ada RFID/semacamnya, jadi begitu masuk pom/apapun yg dilengkapi pembaca sinyal terlacak datanya hanya kendaraan legal administrasi dan fungsi yang bisa nikmati subsidi, integrasi dengan data seluruh indonesia. begitu mobil jadi surat2nya, sudah termasuk jatah BBM subsidi, selama sebulan adalah sekian, lewat dari itu ya silakan puasa atau beli lebih mahal. di ujung brat pulau jawa saja banyak praktik helikopter, apalagi non jawa. itu dari yang terungkap, coba lacak siapa yang beli? dijual kemana? yg beli tolong dihukum jauh lebih berat, karena tidak akan ada yang mau prkatik seperti itu jika tidak ada pasarnya. pertamina dengan cangghnya teknologi sekarang, setiap pom wajib online berapa stok bbm yg mereka terima, data realtime, misal saya isi 20 ribu ya terpampang berapa yang saya beli, berapa sisa bbm di pom, data bisa dilihat semua orang di nozzle dan di online, kapan estimasi datang stok, kan tiap truk bbm ada gps. tapi itu buhu diri kayaknya, buntungin kaki sendiri.. jadi ya maaf saya pagi pagi sudah ber-prabowo

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@Mbah Mars.. RISYWAH HASANAH? Mbah Mars memang punya cara tersendiri menikmati sebuah cerita. Istilah-istilah yang biasanya serius, di tangan Mbah Mars bisa berubah menjadi permainan kata yang jenaka: Ada “taqdim”, “ta’khir”, “qashar”, sampai istilah-istilah yang bikin kita senyum sambil garuk-garuk kepala. Yang menarik bukan soal istilah hukumnya, tetapi kelincahan Mbah Mars memainkan bahasa untuk menggambarkan dinamika sebuah perhelatan organisasi. Saya memilih menikmatinya sebagai humor dan satire ringan saja. Tidak perlu dibawa ke perdebatan istilah atau kesimpulan hukum. Toh, dalam urusan ikhtiar dan harapan, kita semua punya cara masing-masing. Yang penting: 1) tetap santun dalam ikhtiar, 2) jernih dalam melihat keadaan, dan 3) lapang menerima hasil. Selebihnya, biarlah Mbah Mars tetap menjadi Mbah Mars. Karena kalau semua guyonan harus dibawa ke ruang sidang, nanti yang tadinya mau senyum malah sibuk mencari kitab.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Mau mendidik pemilih Pemilu agar Indonesia bisa memilih pejabat yang baik, maka perbaikilah sistem pendidikan di NU agar bisa mengajarkan tentang demokrasi yang benar dan baik. Jika orang NU masih bisa dibeli suaranya, maka Indonesia sampai kapanpun suara di Pemilu akan bisa dibeli. Jika pemilihan Pengurus PBNU saja masih dihiasi dengan politik uang, maka sampai kapanpun Pilpres dan Pilkada kita akan dimenangkan oleh pemilik uang. Wajah kita sebagai bangsa Indonesia, akan sangat bergantung sama wajah NU.

Dahlan Batubara

Saya justru merindukan NU yg melahirkan ulama2 hebat yang bukan saja menguasai fikih, usul fikih. Tetapi juga menguasai kedalaman filsafat islam serta digdaya dalam berijtihat kelembagaan. Ijitihad kelembagaan - kita sudah tahu - adalah menggunakan prinsip dan tujuan serta metodologi syariat utk merancang dan mengoreksi serta mengembangkan lembaga/sistem dalam negara serta sistem sosial. NU yg mampu mengubah sistem. Seperti arti harfiah Nahdlatul Ulama=kebangkitan ulama. Harus bangkit dong, bergerak melahirkan peradaban universal.

Juve Zhang

PM Singapura Lawrence Wong mau donasikan sebagian gaji nya untuk kegiatan amal....yg didonasikan lumayan gede Rp 19 milyar ggaji setahun....Gaji Beliau Sebagai PM Rp.50 milyar....hebat sekali donasikan 19 milyar rupiah jadi setahun gaji nya cukup 30 milyar Rupiah saja..... Secukupnya....toh Bukan Selamanya jadi PM....yg mau Selamanya kan Sultan Petruk....di kita minta naik gaji berebut tak dengar ada yg mau donasi gaji 19 milyar Rupiah setahun.....luar biasa.

Liam Then

Anda bayangkan Y, dimiringkan ke kanan. Y itu adalah lintasan sungai Landak dan Kapuas. Di batang Y itulah lintasan sungai kapuas yang memisahkan dua kawasan niaga Siantan Pontianak Selatan dan Pasar Kapuas + Jalan Tanjung Pura + Kawasan pelabuhan Pontianak di Pontianak Utara. Di batang Y itu berdiri entah sejak kapan, penyebrangan ferry ASDP, jadi orang dari sisi Pontianak , mayoritas harus mau ke daerah Siantan dan daerah hulu, setidaknya harus melewati beberapa km, melintasi 2 jembatan yang menghubungkan dua cabang Y tersebut. Bayangkan berapa liter bensin terbakar tiap hari sejak entah kapan secara total. Bayangkan pula waktu yang terbuang dari kegiatan orang Siantan dan Pontianak lalu lalang. Belakangan sisi Pontianak yang lebih ramai, lintasan percabangan Y itu sering kena kemacetan akut, karena disain jalan dan kawasan yang kurang melihat jauh ke masa depan. Kondisinya sepertinya bakal tambah parah semakin ke depan. Karena kawasan di lintasan percabangan Y itu, sudah berkembang menjadi kawasan dengan tingkat pertumbuhan hunian yang sangat tinggi. Jadi anda bayangkan saja, semua lalu lalang ratusan ribu orang Pontianak, di jalur cabang Y itu pada hari kerja dan jam sibuk. Yang di Siantan, mau ke Pontianak, Yang di Pontianak Siantan, dan penduduk sekitar percabangan Y, semua tumplek blek di jalur tersebut.

Juve Zhang

Sambil maratahon 12 km yg melelahkan...jalan thon panas terik....sepi jalanan siang mampir RM Padang...telur ikan sarden balado terong tahu ....kenyang makan ......bayar murah....penjual bilang dulu jualan masakan Padang di jakarta sewa tempat 50 juta setahun.... disini sewa 800 ribu sebulan dan jualan dia ramai ...karena murah dan segar ikan empuk...... semangat sekali jualan kenapa gak beli tempat....dia bilang ada tawaran beli dekat dia usaha sekarang 250 juta rumah gede....wow murah sekali....duit tak ada warisan ada di Pariaman tak boleh dijual....ya sabar saja....dia energik semua masak melayani bungkus sama dia sendiri....agak kurus cukup lelah katanya......lihat atelt sepakbola Malaysia 72 tahun kawin sama anak gadis 20 tahun ....lebih gagah Don Dahlan Iskan dibanding atlet sepakbola itu....lihat penjual RM Padang wow sekilas mirip ayu Azhari....ini kurus karena kerja AA gemuk banyak duit....duit secukupnya.. saja maka anak gadis 20 tahun pun mau sama Tua Bangkotan . 72 tahun.... Pun tak gagah tak ganteng....

Edi Susanto

Ada hal yg luput dr keberhasilan pengurus NU periode kemarin. Yaitu pembenahan administrasi internal. Saya ini warga NU, dan sudah pernah menjadi pengurus NU, meski kelas pinggiran. Sedikit banyak saya tahu perkrmbangan dan manfaatnya. Sebagaimana umumnya tata kelola administrasi di Indonesia, di kantor NU ini juga awalnya amburadul. Dan di masa Gus Ketum inilah dasar-dasar tata kelola administrasi yg rapi itu mulai digarap dr nol. Dan lahirlah sistem aplikasi Digdaya. Yg menata semua yg amburadul menjadi rapi. Tertata sesuai bidang tugas dan peruntukannya. Memang ga kelihatan di luar. Krn ini internal. Namun justru yg ga kelihatan oleh org kebanyakan inilah yg kemudian menjadi dasar langkah2 strategis selanjutnya. Karena dengan tata kelola administrasi yg rapi dan bersih ini, bisa menghindarkan dr penyelewengan yg banyak terjadi. Sayang sekali budaya Indonesia belum bisa mengadopsi dan menghargai hasil.karya periode sebelumnya. Sy dengar, sistem administrasi yg dibangun bertahun2 tsb langsung dihentikan ketika pengurus baru bertahta. Dan jika mereka memutuskan untuk membangun sendiri. Maka pencapaian kerja pengurus sebelumnya akan kembali ke titik nol lagi. Sampai disini kita tahu. Yg jadi korban tetap warga NU.

Liam Then

Sambil nggacor tadi tentang biaya bangun jembatan penting 1 T, dan APBD tahunan kota Pontianak yang cuma 2T ,serta bayangkan betapa MBG dikabarkan habiskan 1T lebih per HARI. Saya jadi membayangkan, skenario jika priotitas berbeda dikerjakan oleh pemerintah. Nasi sudah jadi bubur, jika memang pantang anak panah dilepaskan jika busur sudah terpentang. Setidaknya masih bisa hemat anak panah,atau pastikan panahnya tepat sasaran. Jangan sampai malah jadi "friendly fire", alih-alih kena musuh, perbaiki asupan gizi, malah sebabkan timbul berita korban keracunan makanan massal. Pemerintah harus tegas, tindaklah SPPG-nya. Kasih zero tolerance, kalau sampai terjadi sekali, lansung hentikan saja kontrak suplainya. Jika misal ada RM Padang, sebabkan keracunan makanan massal. Pasti oleh pihak berwenang, langsung ditutup tokonya. Begitu pula , seharusnya dengan SPPG, harus ada disiplin yang ketat yang serupa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 114

  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Eksan Susanto
    Eksan Susanto
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Guo Shan Lie
    Guo Shan Lie
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • NR 29
    NR 29
  • Wilwa
    Wilwa
  • Laksana DedeS
    Laksana DedeS
    • Wilwa
      Wilwa
  • dm ikan
    dm ikan
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Kholison
    Kholison
  • HANVINCY ADNOV
    HANVINCY ADNOV
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • Tivibox
    Tivibox
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Tivibox
      Tivibox
  • Fendi Njau
    Fendi Njau
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
  • rian
    rian
  • Alief Wikarta
    Alief Wikarta
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Miftakhi Zakaria
    Miftakhi Zakaria
  • Tivibox
    Tivibox
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Tivibox
      Tivibox
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Warok Ponorogo
    Warok Ponorogo
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Wilwa
      Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • heru santoso
      heru santoso
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Someone Random
    Someone Random
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • DeniK
    DeniK
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Dikdik Sadikin
    Dikdik Sadikin
    • DeniK
      DeniK
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Arif Rahman
    Arif Rahman
  • Sadewa 19
    Sadewa 19
  • Ismail Lutan
    Ismail Lutan
  • Fa Za
    Fa Za
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
  • heru santoso
    heru santoso
    • istianatul muflihah
      istianatul muflihah
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
    • Mbah Mars
      Mbah Mars
    • Ahmed Nurjubaedi
      Ahmed Nurjubaedi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
    • Beny Arifin
      Beny Arifin
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • alasroban
    alasroban
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Tivibox
      Tivibox
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Hamdi
    Hamdi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • my Ando
    my Ando
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • Tivibox
    Tivibox
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi