Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Jumat 24-07-2026,13:33 WIB
Oleh: M Purwadi

Seorang dai dengan konten berkualitas bisa menjangkau jutaan orang dalam semalam-sesuatu yang tidak mungkin dicapai dari mimbar masjid mana pun.

Penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital mampu menjangkau khalayak yang lebih luas melalui platform media sosial, menggunakan video pendek, kolaborasi kreatif, dan elemen visual yang menarik.

Di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius: komodifikasi agama, hilangnya konteks, dan tergerusnya otoritas keilmuan. Sekretaris Jenderal MUI mengingatkan bahwa viralitas bukanlah ukuran dakwah yang benar. Kebenaran hakiki, bukan viralitas, yang harus menjadi patokan.

Tapi ada kabar baik. Di tengah hiruk-pikuk digital, muncul upaya-upaya serius untuk menjembatani kesenjangan.

Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, misalnya, mengadakan pelatihan manajemen media sosial untuk para asatidz dan santri—bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperkuat peran pesantren dalam menyampaikan dakwah melalui media sosial. 

"Kita tidak boleh kalah dari hal buruk. Media sosial harus menjadi ruang dakwah penuh kebaikan," tegas Ketua Umum Yayasan Al Umanaa, Ustaz Mahdi Karim.

Ini adalah langkah kecil tapi penting: mengakui bahwa dakwah digital bukanlah musuh, melainkan medan baru yang harus diisi.

"Kita harus hadir di ruang algoritma, agar umat tidak kehilangan arah dalam beragama." kata KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi.

BACA JUGA:Tradisi Ketupat Lebaran Tak Lepas dari Sejarah Dakwah Sunan Kalijaga

Menemukan Jalan di Tengah Pusaran

Pada akhirnya, dakwah tetaplah dakwah. Ia adalah upaya mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada kebenaran, dan membimbing kepada jalan yang lurus.

Medium boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi esensinya tetap sama: pertemuan antara pesan dan hati, antara penceramah dan pendengar.

Hanya saja, sekarang pertemuan itu terjadi di ruang yang berbeda. Bukan lagi di masjid yang sunyi, tetapi di layar yang terang.

Bukan lagi dalam barisan yang rapi, tetapi di komentar yang bertebaran. Bukan lagi dengan anggukan khusyuk, tetapi dengan like dan share.

Apakah ini kemunduran? Saya tidak yakin. Mungkin ini justru kesempatan. Kesempatan untuk menjangkau mereka yang tidak pernah datang ke masjid.

Kesempatan untuk berbicara dengan mereka yang tidak pernah mendengar ceramah. Kesempatan untuk membawa pesan kebaikan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi.

Tapi satu hal yang pasti: dakwah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Seperti yang diingatkan MUI, para juru dakwah tak bisa lagi mengandalkan pola konvensional. Dunia telah berubah. Audiens telah berubah. Sekarang giliran dakwah yang berubah tanpa kehilangan ruhnya.

Kategori :