Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Jumat 24-07-2026,13:33 WIB
Oleh: M Purwadi

Kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Pemuda di caffee itu membuka ponselnya setiap pagi.

Mungkin mereka sedang mencari hal yang sama: petunjuk, ketenangan, makna. Hanya jalannya yang berbeda.

Dan tugas kita, para dai, para ulama, para penulis, siapa pun yang merasa terpanggil adalah memastikan bahwa di jalan yang baru itu, cahaya kebenaran tetap menyala. Bahwa di tengah derasnya algoritma, pesan ilahi tetap sampai.

Bahwa di antara jutaan konten yang bersaing, ada satu yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.

Dari mimbar ke layar. Dari jemaah ke pengikut. Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan kita semua penceramah maupun pendengar, imigran digital maupun native, adalah para perantau di dalamnya, mencari jalan pulang bersama.

by: Moh Purwadi - Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

 

 

Kategori :