JAKARTA, DISWAY.ID-- Kinerja neraca perdagangan Indonesia mulai menunjukkan pemulihan di tengah volatilitas ekonomi global. Bank Indonesia (BI) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 makin menyusut dibandingkan periode bulan sebelumnya.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa tekanan pada neraca migas mulai mereda.
Defisit perdagangan sektor migas pada Juni 2026 berhasil ditekan ke angka USD 3,49 miliar, membaik ketimbang capaian bulan sebelumnya yang menyentuh USD 3,76 miliar.
BACA JUGA:IHSG Tancap Gas Mengawali Agustus, Cek Rekomendasi Saham Potensial BBCA Hingga SMGR
Rapor hijau tersebut membuat ketahanan posisi perdagangan secara keseluruhan tetap terjaga. Sepanjang paruh pertama tahun ini, neraca perdagangan nasional konsisten berada di jalur positif.
Secara akumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari hingga Juni 2026 masih mencetak surplus tebal sebesar USD 3,58 miliar, jelas Ramdan dalam keterangan resminya.
Guna menjaga tren positif ini, BI siap mempererat kolaborasi lintas lembaga. Bank sentral berkomitmen memperkuat sinergi kebijakan bersama pemerintah dan otoritas terkait demi membentengi ketahanan eksternal dari gejolak luar negeri.
Bank Indonesia terus memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan melalui sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah, tegasnya.
BACA JUGA:Komisi IX DPR Desak Pemerintah Segera Jalankan Putusan MK soal Program MBG, Tak Perlu Tunggu 2028
Sektor Nonmigas Jadi Mesin Penggerak
Membaiknya performa perdagangan ini disokong penuh oleh performa impresif sektor nonmigas. Data BPS menunjukkan neraca perdagangan nonmigas pada Juni 2026 mampu membukukan surplus sebesar USD 3,04 miliar. Capaian ini melompat signifikan dari surplus bulan sebelumnya yang berada di angka USD 2,15 miliar.
Peningkatan surplus ini ditopang oleh melesatnya total nilai ekspor nonmigas yang menembus angka USD 24,39 miliar. Komoditas berbasis sumber daya alam, seperti lemak dan minyak hewani atau nabati, menjadi motor utama penggerak ekspor sepanjang Juni.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih kokoh menjadi tiga negara tujuan utama yang menyerap porsi terbesar komoditas ekspor nonmigas asal Indonesia.