Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa dalam Meradjoet Sendja, Persembahan Cinta Untuk Republik

Sabtu 15-08-2026,23:58 WIB
Reporter : Dita Hastuti
Editor : Marieska Harya Virdhani

Marcella juga menyatakan bahwa acara ini adalah ruang yang tepat untuk berkolaborasi menjadi lebih bermanfaat, tidak hanya untuk profesi dan sesama, tetapi untuk memajukan kebudayaan Indonesia dan memberdayakan masyarakat," tegas Marcella.

Ia juga menyoroti bahwa budaya dan kemanusiaan adalah elemen penting yang akan memperkuat identitas bangsa, dan "meradjoet Sendja" adalah jawaban nyata atas keprihatinannya terhadap kondisi para seniman senior Indonesia. 

Para talent dalam orkestrasi kebangsaan ‘meradjoet Sendja’ ini adalah aktor dan aktris profesional diantaranya ada Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah. Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, Ridho Rokhanah yang digawangi oleh tim artistik berpengalaman, didukung oleh 200 paduan suara yang akan mengiringi puncak acara.

Orkestrasi ‘meradjoet Sendja’ dibagi ke dalam empat babak yang sarat akan narasi sejarah dan kebangsaan. Babak I berjudul "Fajar Nusantara" menggambarkan kelahiran alam Nusantara dan dialog antara Soekarno dan Hatta.

BACA JUGA:DMC Dompet Dhuafa Yogyakarta Latih 168 Warga SD Muhammadiyah Kalipakem I Hadapi Gempa Bumi

Babak II "Tanah Pengasingan" mengisahkan perenungan Hatta, Syahrir, dan Soekarno di masa pembuangan yang melahirkan Pancasila. Babak III "Bahasa Keberanian" menampilkan monolog Siti Soendari tentang keputusan penting dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Puncaknya, Babak IV "Pertemuan Satu Malam" menyajikan pertemuan Soekarno dan Tan Malaka dengan dua jalan berbeda, yang ditutup dengan monolog Soekarno di senja usianya. Finale akan dimeriahkan oleh 500 pelajar yang memenuhi auditorium menyanyikan lagu "Pancasila" secara bersama-sama—sebuah simbol estafet nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Salah satu aktor senior yang terlibat, Arswendy Bening Swara, yang telah berkecimpung di dunia perfilman sejak 1985 dan aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya sejak 1982, mengungkapkan ketertarikannya bergabung karena nilai-nilai kebangsaan yang diusung. "meradjoet Sendja" adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa.

Sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Arswendy juga berbagi pengalaman kepada para talent muda, menekankan pentingnya akting yang tidak terlihat seperti akting—sebuah filosofi yang ia pelajari dari pengalaman internasionalnya di Marrakech International Film Festival.

"Peran tokoh sejarah di atas panggung adalah tantangan besar karena kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat mereka di hadapan generasi masa kini," ujarnya.

BACA JUGA:Gramedia dan Dompet Dhuafa Tebar Kepedulian, Puluhan Anak Yatim Sambut Sekolah dengan Bahagia

Social Fund PARFI 56 dan Dompet Dhuafa

Kolaborasi antara PARFI 56 dan Dompet Dhuafa telah terjalin sejak penandatanganan Nota Kesepahaman pada Desember 2024, yang bertujuan memperluas kampanye kemanusiaan dan pemberdayaan berbasis budaya . Komitmen ini diwujudkan dalam berbagai program, termasuk bantuan sosial bagi pekerja seni yang membutuhkan.

Melalui orkestrasi kebangsaan "meradjoet Sendja", PARFI 56 dan Dompet Dhuafa memperkuat sinergi ini dengan menghadirkan program Social Fund, di mana seluruh hasil penjualan tiket acara ini akan disumbangkan sepenuhnya untuk mendanai kegiatan sosial bagi dua kelompok penerima manfaat: para seniman dan budayawan Indonesia yang memasuki masa senja serta kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latif, memberikan apresiasi yang mendalam terhadap kolaborasi ini.

BACA JUGA:Palestina: Terima Kasih Warga Indonesia melalui Dompet Dhuafa Terus Bergerak Gulirkan Bantuan

Ia menilai bahwa sinergi antara Dompet Dhuafa dan PARFI adalah perpaduan jiwa yang tepat, dimana jiwa Dompet Dhuafa adalah memberdayakan, sementara jiwa PARFI adalah berbudaya.

Kategori :