Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Senin 31-08-2026,08:55 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Hari ini memiliki satu, besok ingin dua. Hari ini memiliki rumah, ingin rumah yang lebih besar. Hari ini memiliki jabatan, ingin jabatan yang lebih tinggi. Hari ini memperoleh keuntungan, ingin keuntungan yang lebih besar lagi.

Keinginan sebenarnya tidak pernah selesai. Padahal manusia memiliki keterbatasan usia. Kita sering bertindak seolah-olah akan hidup selamanya, sementara kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak pernah membatalkan janji.

Membaca Al-Waqiah seharusnya bukan sekadar rutinitas lisan. Ia semestinya menjadi semacam cermin bagi diri sendiri: dari mana hartaku datang, bagaimana aku mendapatkannya, dan untuk apa aku menggunakannya?

BACA JUGA:Penundaisme Maximus

Pertanyaan sederhana, tetapi sangat sulit dijawab oleh manusia yang sudah terlalu jauh mengejar dunia.

Korupsi yang terjadi berulang kali, termasuk di lingkungan perguruan tinggi, menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kurangnya aturan.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan membangun sistem. Kita juga harus membangun manusia.

Perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan manusia pintar yang mampu memperoleh gelar dan jabatan.

Ia harus menghasilkan manusia yang mengerti batas. Manusia yang tahu kapan harus berkata cukup. Manusia yang memahami bahwa jabatan adalah amanah dan uang bukan ukuran kemuliaan.

Di sinilah agama, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari seharusnya bertemu.

BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama

Al-Waqiah mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini sementara. Rezeki adalah pemberian Allah, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha.

Kerja keras tetap penting, tetapi kesabaran dan kejujuran tidak boleh ditinggalkan.

Mungkin kita perlu kembali belajar tentang qanaah—bukan berarti malas atau menerima kemiskinan tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk merasa cukup setelah melakukan ikhtiar yang benar.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang paling kaya.

Pada akhirnya, yang dibawa manusia bukan rumahnya, bukan mobilnya, bukan rekeningnya, bukan gelarnya, bahkan bukan jabatannya.

Kategori :