Surat Al-Waqiah adalah surat ke-56 dalam Al-Qur'an. Ia sering dibaca sebagai pengingat tentang rezeki, kematian, dan kehidupan akhirat.
Namun, barangkali yang lebih penting dari sekadar membacanya berulang-ulang adalah menghadirkan pesan-pesannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Waqiah mengajak manusia melihat kembali dari mana sesungguhnya rezeki berasal, ke mana kehidupan akan berakhir, dan untuk apa segala kesibukan dunia dijalankan.
BACA JUGA:At-Takatsur di Negeri Pamer
Sebab manusia sering kali terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa kepada siapa rezeki itu pada akhirnya bergantung.
Kita hidup pada zaman yang serba cepat. Orang ingin cepat kaya, cepat terkenal, cepat memiliki rumah besar, kendaraan bagus, jabatan tinggi, dan kehidupan yang tampak mewah di media sosial. Kesabaran menjadi barang langka.
Proses dianggap terlalu panjang, sementara hasil harus segera terlihat.
Tidak sedikit orang kemudian mengambil jalan pintas.
Di sinilah persoalannya menjadi serius. Ketika keinginan memiliki lebih besar daripada kemampuan menahan diri, harta dapat berubah menjadi tujuan, bukan lagi sarana.
Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi kesempatan. Kekuasaan yang semestinya digunakan untuk melayani justru dipakai untuk memperoleh keuntungan pribadi.
BACA JUGA:Berhentilah Memprovokasi Negeri
Kita kembali dikejutkan oleh kasus dugaan korupsi di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Pada Agustus 2026, KPK menetapkan Rektor Unsoed dan lima orang lainnya sebagai tersangka dalam dugaan korupsi terkait penerimaan mahasiswa baru.
KPK mengungkap beberapa klaster dugaan pemerasan dan gratifikasi, termasuk permintaan uang kepada orang tua calon mahasiswa.
Kasus ini mengingatkan kita pada perkara di Universitas Lampung (Unila) beberapa tahun sebelumnya. Mantan Rektor Unila Karomani ditangkap KPK dalam kasus suap penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri.
Dalam perkara tersebut, praktik penerimaan mahasiswa dikaitkan dengan pungutan atau suap dari orang tua calon mahasiswa.