At-Takatsur di Negeri Pamer
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok. Disway.id-
JAKARTA, DISWAY.ID - Barangkali jika Surah At-Takatsur turun pada abad media sosial, ayat pertamanya akan tetap sama. Sebab yang berubah hanyalah panggungnya.
Dahulu manusia saling membanggakan unta, kebun kurma, jumlah pengikut kabilah, dan tumpukan emas.
Kini mereka saling memperlihatkan vila di pegunungan, jam tangan seharga rumah sederhana, mobil yang panjangnya hampir menyamai gang kampung, koper yang lebih sering melihat bandara internasional daripada ruang kerja, serta foto makan malam yang nilai tagihannya cukup untuk membayar uang sekolah puluhan anak.
BACA JUGA:Berhentilah Memprovokasi Negeri
Yang berubah hanya teknologi. Kesombongannya tetap sama. Surah At-Takatsur sesungguhnya bukan sekadar berbicara tentang banyaknya harta.
Ia berbicara tentang keadaan jiwa ketika manusia mengukur dirinya bukan dari manfaat yang diberikan, melainkan dari jumlah yang dimiliki.
Hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Semua harus lebih besar, lebih mahal, lebih mewah, lebih viral.
Yang miskin ingin terlihat kaya. Yang kaya ingin terlihat lebih kaya. Yang sangat kaya masih takut kalah kaya. Begitulah penyakit "takatsur" bekerja.
Ironisnya, penyakit itu justru sering tumbuh subur di tempat yang seharusnya menjadi ladang pengabdian. Jabatan publik, yang hakikatnya adalah amanah, perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan status sosial.
BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua
Masyarakat yang membayar pajak akhirnya menjadi penonton.
Mereka melihat iring-iringan kendaraan mewah, perjalanan wisata keluarga yang tak pernah putus, pesta ulang tahun yang lebih mirip festival, pakaian bermerek yang nilainya cukup membeli sawah, tas yang harganya melebihi gaji tahunan seorang guru honorer, serta rumah-rumah yang bahkan satpamnya mungkin membutuhkan peta agar tidak tersesat menuju dapur.
Publik menonton semua itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan iri. Tetapi iba.
Iba kepada negeri yang kaya, namun rakyatnya masih harus antre gas, mengantre pekerjaan, mengantre layanan kesehatan, sementara sebagian kecil elite seolah sedang berlomba mengoleksi kehidupan yang bahkan tidak sempat mereka nikmati.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: