Networking Rebahan
Suasana hari kedua Gathering Perusuh Disway di DIC Farm, Pacet, Mojokerto. Meja yang terlihat di foto ini terbuat dari kayu randu. -FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Saya seperti jadi tertuduh di ”muktamar” Gondang, dekat Pacet (Lihat Disway kemarin: Bintang Perusuh). Padahal awalnya saya hanya ingin sedikit merendah: ”Di DIC Farm ini tidak ada barang mahal. Meja panjang ini misalnya, terbuat dari jenis kayu yang kalau dijual pun tidak ada yang beli”.
"Kayu apa?" tanya seorang ”Perusuh” Disway.
"Kayu ini dulu waktu di pondok dipakai untuk bantal para santri. Kayu randu".
"Oh, ini yang membuat pohon randu kian langka," ujar perusuh itu.

Para perusuh melihat akik, gelang, dan kalung yang dibawa oleh Sujatmiko dan ditaruh di atas meja randu. -FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Di DIC Farm dulunya memang tumbuh beberapa kayu randu. Di pinggir-pinggir batas tanah. Sejak saya mulai menengok lahan ini di masa Covid-19, pohon randunya tinggal dua batang. Dua-duanya besar. Tinggi. Daunnya sudah meranggas tua. Di sebelah barat pohon itu terhampar sawah. Berarti penyinaran matahari pagi untuk padinya kurang sempurna. Terhalang pohon. Ditebang.
Yang menebang bingung: kayunya dibuang ke mana. Tidak laku dijual. Tidak bisa pula untuk kayu bakar. Lalu saya putuskan untuk dijadikan meja. Dianggap nyeleneh: meja dari kayu randu.

Perusuh memamerkan cincin akik pemberian ahli geologi Sujatmiko dan buku perusuh dari Thamrin Dahlan.-FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Tentu ketebalannya saya buat 20 cm. Agar tidak ”molet” seperti "perusuh" yang malas bangun pagi. Lalu permukaannya disapu dengan api yang disemprotkan dari tabung api. Diberi warna kayu. Bentuk mejanya tidak harus persis segi empat. Pinggirannya tidak harus lurus: ikut lekukan pohon saja. Itulah meja utama yang dipakai bermuktamar perusuh kemarin itu.
Meja randu itu ditaruh di kolong ”rumah Manado”: rumah kayu yang dulu didatangkan dari Tomohon. Bawah untuk muktamar, atas untuk tidur "perusuh" wanita.
Tidak semuanya. Ada yang membawa kemah pramuka. Empat orang. Mereka pasang kemah di lapangan basket mini di sebelah rumah Manado. "Lebih nyaman dari tahun lalu. Tidak ada hujan. Lokasi ini sudah begitu banyak berubah. Lebih cantik," ujarnyi di depan tendanyi.

Dahlan Iskan mengajak Sumhaji (kanan) dan Datuk Dimyani untuk podcast Dismorning edisi Minggu, 23 Agustus 2026-FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Saya pun minta maaf telah membuat pohon randu kian langka. Nama orang yang menuduh saya itu Anda sudah tahu: Sumhaji. Ia kelahiran Konawe, Sulawesi, tapi asal-usulnya dari Batu, Malang. Ayahnya menjadi transmigran di masa nan silam.
Sumhaji benar-benar merasakan kian sulit mencari kapuk dari pohon randu. Untuk apa? "Saya ini eksporter kapuk randu. Ekspor sampai Eropa," ujar Sumhaji.
Dulu, pohon randu banyak ditanam di pinggir-pinggir jalan. "Ketika jalan jalan dilebarkan habislah pohon randu," katanya. Kini Sumhaji mencari kapuk randu sampai ke Sumbawa.

Perusuh Cak Mulyanto mendapat -FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Di Eropa kapuk randu juga untuk bantal. Atau kasur. Tidak ada guling di sana. Guling tidak dikenal di budaya barat. Guling lahir di zaman Belanda menjajah Indonesia. Mereka datang tanpa istri. Malam-malam tidak ada yang dipeluk. Dibuatlah guling. Sejak itu guling punya terjemahan dalam bahasa Inggris: Dutch wife –itu terjemahan unik yang bisa dipercaya: ngawurnya.
Bantal dari kapuk randu pun kini kian langka. Digantikan poliester atau bulu angsa. "Di Eropa bantal dari kapuk randu naik daun lagi. Yakni sejak ada gerakan menyayangi binatang," ujar Sumhaji.
Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir pakai bantal kapuk randu. Kenangan saya pada bantal kapuk adalah kenangan buruk: banyak kutunya. Kutu busuk pula. Maka pekerjaan tambahan sebagai anak-anak adalah mencari kutu yang bersarang di pojok-pojok bantal: di jahitannya. Di situ pula kutu busuk bertelur dan beranak sehingga sangat sulit memberantasnya. Saya lupa kenapa belakangan kutu busuk seperti tiba-tiba lenyap di jagat bantal nusantara.

Fransiska dan para parusuh mengikuti senam pagi yang dipimpin Dahlan Iskan dan instruktur Senam Dahlan Iskan.-FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Tanpa muktamar ini saya tetap akan mengira sudah tidak ada lagi orang yang cari penghidupan dari kapuk randu. Ternyata masih jadi bisnis yang mengasilkan dolar.
Sumhaji pun saya ajak podcast bersama Sasa di Dismorning Minggu pagi lalu. Di situ Sumhaji berani menyebut diri sebagai ”profesor kapuk”. Ia memang ahli di bidang kapuk randu. "Di musim panas kapuk randu terasa lebih dingin. Di musim dingin terasa lebih hangat", katanya.

Sujatmiko memimpin para perusuh untuk menyanyikan lagu Bagimu Negeri. -FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Di masa kecil tidak ada istilah beli bantal. Bantal bisa dibuat sendiri: pakai kain sarung yang sudah diafkir. Sudah sobek sana-sini. Lalu diisi kapuk yang diambil dari pohon. Setiap mencari kapuk randu selalu dapat bonus: biji randu. Warnanya hitam. Sekecil butiran kedelai. Digoreng tanpa minyak. Saya masih ingat rasanya tapi sudah agak-agak lupa namanya. Klentheng?
Selain Sumhaji ada lagi perusuh yang saya ajak ngobrol panjang: Ahmad Reza Ropi. Nama tambahan Ropi itu dari saya: agar saya ingat Reza yang perusuh ini adalah Reza yang menemukan bisnis berkat bertemu direktur rumah sakit.
Sang direktur lagi berpikir bagaimana agar rumah sakit yang ia pimpin tidak didominasi aroma obat. Agar pasien tidak jenuh dengan aroma itu. Sang direktur terkesan setiap lewat dekat toko Roti O hidungnya terasa nyaman: menghirup aroma roti yang harum enak.

Ahmad Reza (kanan), pemilik Ropi, roti kopi, saat perkenalan perusuh di DIC Farm, Pacet, Mojokerto, 22 Agustus 2026-FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Reza langsung seperti dapat ilham: ”Bisa, Pak," jawabnya.
Dari situlah Reza menciptakan roti aroma kopi. Roti Kopi –Ropi. Jadilah Ropi merk roti buatannya. Kebetulan sang istri adalah cucu pembuat roti di zaman Belanda. Dia masih menyimpan resepnya.
Kini Reza sudah mempunyai 130 outlet Ropi di 130 rumah sakit tipe C. Ia tidak masuk RS kelas atas karena mereka punya cara sendiri menghilangkan aroma obat di rumah sakitnya.
Ke muktamar Reza membawa beberapa contoh Ropi. Ditaruh di depan saya. Dalam sekejap saya sudah tidak sempat merasakan enak-tidaknya. Reza tidak membawa banyak Ropi karena roti resmi muktamar ini adalah Dea (Disway 26 Oktober 2025: Garis Kemampuan).

Perusuh Agung Prasetyo Utomo (kanan) sharing pengalaman dengan dua perusuh dari Sidoarjo dan Semarang. -FOTO: BOY SLAMET-HARIAN DISWAY-
Begitulah serunya. Di muktamar ini saya pun melihat: waktu kosong lebih penting dari waktu ada acara. Karena itu acara-acara dibuat singkat-singkat: agar waktu kosong lebih banyak. Saya lihat mereka aktif saling networking di waktu kosong. Tidak ada yang hanya rebahan. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 22 Agustus 2026: Bintang Perusuh
Bahtiar HS
Memang betul kata Emha. Sing penting dudu kutang-e, tp isine. Sy jg menyadari itu Pak Agus. Krn itu rasanya jimat itu nggak akan dilepas pemiliknya. Terlalu banyak "harta bernilai" di dalamnya. Juga histori yg telah dilewatinya. Mungkin dia akan dipajang dj Kantor Disway kelak setelah dipensiunkan, bersanding dengan batu berusia 25 juta tahun yg diterima malam kemarin itu. Krn itu tak layak berharap dpt dilungsurkan. Maka sy "ikhlas" wkwkw (ngeles).
Edi Sampana
Sekarang hidup di Kalimantan TDK enak karena panas dan kabut asap. Debit air PDAM juga berkurang karena sungai SBG sumber air baku kadar garamnya mulai tinggi. Mudah mudahan hujan lebat segera turun. Ya Allah ampunilah dosa kami dan kurangilah derita kami. Aamiin
Jo Neka
Ternyata cak Mul berwajah asli Jawa.Awalnya saya beepikir beliau berwajah Prancis.Selamat cak Mul..Kita tidak perlu menjadi Bintang.Cukup menjadi lilin saja.Saya ikut bangga.Perusuh begitu solid.
istianatul muflihah
Gathering perusuh, berkenalan dengan bapak ibu kakak yang menarik menarik ceritanya. Kalau cerita saya generik saja, hanya 2 kalimat yang biasa saja. Mau menceritakan kisah cinta bertepuk sebelah tangan juga tidak mungkin. Terlalu drama dan membuat kita lupa akan masalah masalah penting bangsa ini. Sebenarnya agak uji nyali menulis ini. Sebab hampir pasti, dalam hitungan prediksi saya. Kalimat ini akan di screenshot Cak Mul. Sisanya, saya jadi bulan bulanan. Tapi GR amat. Ada begitu banyak isu penting bangsa ini yang lebih mendesak untuk di diskusikan. Apalagi topik obrolan perusuh, adalah hal hal yang bermutu dan penting.
istianatul muflihah
Ada beberapa yang perlu di konfirmasi ulang dari tulisan abah. Bahwa obat yang di minum Bu Monica seharga 4.5 juta/tablet itu bukan dari BPJS tapi ditanggung dari asuransi swasta. Serta bukan dikonsumsi selama 3 bulan, tapi 3 tahun. Kurang lebih begitu kalau yang saya simak.
Leong Putu
"Pak Jatmiko membawa 10 oleh-oleh: bebatuan berharga. Mulai batu akik asli sampai batu kalkopirit berumur antara 20-25 juta tahun. Yang terakhir itu diserahkan untuk saya" Sepertinya Pak Jatmiko kena gendham. Sakno....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Juve.. Paling nanti BATAL. Karena banyak yang protes.. Biasanya yang protes adalah: 1) Pemilik mobil. 2) Pemilik udaha di lokasi terkait. Karena pengunjung turun drastis. Karyawannya pun bingung harus parkir di mana.. ## Gajinya UMR. Parkirnya "premium"..
Murid SD Inpres
prinsip seni fotografi paling mendasar itu adalah "always shoot people for picture in their best poses". lihatlah dokumentasi foto foto muktamar / gathering ke-6 perusuh CHD di atas, seperti dipotret secara impromptu ala kadarnya dan seadanya oleh orang yang bukan berasal dari dunia seni fotografi. seolah tidak diperhitungkan derajat angle seperti apa yang bisa membuat satu objek hidup terasa lebih vivid, atau terlihat lebih interesting. seolah tidak dikalkulasi jarak sumber flare pencahayaan alami yang bisa meng-obstruct hasil jepretan. seolah tidak dicermati harus berapa kali take dan retake untuk mendapatkan ekspresi paling memorable dari objek yang difoto. seolah para peserta gathering pun tidak dipandu pula bagaimana harus memperlihatkan gesture, micro expression, eye contact, swift smiling, burst laughter, ketika momen pemotretan dramatic tertentu. untuk acara seperti ini, pihak panitia semestinya ingat satu hal krusial: pertajam detail plans. supaya apa? supaya salah satu unsur planning-nya, salah satunya dokumentasi foto, bisa menghasilkan output yang maksimal.
Juve Zhang
Akan demo ke jakarta depan gedung DPR dari pelosok negeri utamanya dari Pati ....mereka akan demo menuntut DPR menuntaskan UU perampasan aset bagi koruptor...karena itu tuntutan rakyat sudah bosan dengan kasus koruptor yg berjilid jilid.....hebat sekali rakyat dari Pati ini mau jauh jauh ke jakarta untuk demo....salut buat rakyat Pati....kita Disini gampang hanya protes sambil nyantai di rumah....tapi rakyat Pati ini luar biasa mau susah payah ke gedung DPR....mari jangan lelah menyuarakan suara rakyat....yg sudah jenuh dengan korupsi....Don Dahlan Iskan layak mewawancarai rakyat Pati yg akan demo ke gedung DPR....layak naik tayang kehebatan rakyat Pati ini...supaya menyebar ke pelosok negeri.... gubernur Jakarta Pramono mendukung rakyat Pati dan siap menampung tidur mereka ....ini nampaknya PDIP mendukung rakyat Pati untuk demo....dan konon partai lain memblok demo ini.... seperti nya adu kekuatan PDIP dan partai lain lain....sangat bagus jika Don Dahlan mewawancarai koordinator rakyat Pati...yaitu Botok... panggilan nya.sangat bagus jika Pak Botok diwawancarai....suara rakyat suara Tuhan.
Nimas Mumtazah
Ketika Padamu Negeri di kumandangkan.. Beliau menahan tangis, beliau bawa kami melihat Indonesia dengan hati dan semangat. Jangan lelah mencintai negeri ini. Teladan nyata di depan mata. Pak terima kasih Nasihat dan supportnya.
Irary Sadar
Ada tiga kali saya merinding membaca tulisan CHDI kali ini. Biasanya setelah membaca CHDI, saya akan 'absen' komentar satu-persatu, baru setelah itu menulis komen. Tapi kali ini harus komen dahulu, baru baca komen. Pertama : Ada peserta perusuh dengan usia 85. Luarbiasa. Saya sempat berguman 'MashaAllah' dan tiba-tiba bulu roma di kedua lengan berdiri. Sungguh luarbiasa Pak Sujatmiko ini. Luarbiasa.... Kedua : Ada peserta paling jauh. Ternyata dari Batam, wanita lagi. Saya 'merinding halus'. Iri dan sekaligus bahagia. Iri karena belum bisa ngumpul bareng seperti dia dan bahagia karena ada yang mewakili dari tempat saya. Anda sudah tahu, untuk kaum mendang-mending seperti saya, biaya tiket ke tempat CHDI itu terasa mehong. lebih mahal daripada nyebrang ke Johor Bahru atau Singapura sekalipun.. Hehe.., Apalagi di akhir pekan, mahalnya tiket pesawat berlipat-lipat. Ketiga : Ini yang membuat merinding saya benar-benar menusuk sukma. Pak Sujatmiko meminta semua perusuh berdiri dan menyanyikan 'Bagimu Negeri'..? What the heck..! Bayangkan, Anda memnyanyikan lagu tersebut pada pertemuan dari berbagai 'utusan daerah', bersama-sama dengan Abah. Haha, tentu rasa bergemuruh didada 'bercampur-aduk' . Amazing, luarbiasa...
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Ahmad Zuhri.. JADI ADA PERUSUH YANG PENGUSAHA, ADA JUGA PERUSUH YANG HANYA TUKANG KOMENTAR.. Benar kata Ahmad Zuhri. Wirausaha itu seperti virus. 1) Ada yang langsung tertular. 2) Ada yang cuma demam. 3) Ada yang kebal. Tidak ketularan blas. 4) Ada pula yang cukup menjadi penonton sambil rajin bertanya: “Untungnya berapa?” ### Di Muktamar Perusuh, jenisnya ternyata lebih beragam. 1) Ada perusuh pengusaha. Mereka menciptakan produk, membuka lapangan kerja, menanggung risiko. 2) Ada perusuh profesional. Kariernya dibangun dari keahlian. 3) Ada perusuh akademik. Senjatanya teori dan data. 4) Ada perusuh investor. Uangnya bekerja ketika pemiliknya tidur. 5) Ada pula perusuh komentator. Tidak punya pabrik. Tidak punya toko. Tetapi punya opini. Kadang lebih panjang daripada laporan tahunan. Contohnya saya. He he.. Konon, pengalaman kewirausahaan memang bisa menular melalui social learning. Kita melihat, mendengar, lalu meniru. Tetapi tidak semua orang cocok menjadi pengusaha. Faktor modal, kemampuan, karakter, jaringan, gen, dan keberanian mengambil risiko ikut menentukan. Jadi jangan minder menjadi perusuh komentator kayak saya. He he.. Bisa jadi tugasnya memang bukan membangun perusahaan. Tugasnya membangun suasana. He he..
Leong Putu
"Perusuh terjauh kali ini datang dari Batam: Fransiska Jappy. Dia berjuang ke suami untuk bisa dapat izin ke muktamar ini". Berjuang??? Wkwk..... Pastilah dianyi ini istri yang baik. Dialognyi mungkin begini: "Say....aku pergi Jatim, mau ikut gathering perusuh, boleh?". "Janganlah Say....aku gimana?". "Cuma semalam doang kok!". "Cuma semalam katamu? Sedetikpun kau tinggalkan, aku rindu". "Ooooh so sweet...plis lah... Aku mohon". "Hmmm". "Boleh ya....." "Kalau aku kangen gimana?". "Ya...vicall lah.....". "Ok...cuma semalam kan? "Iya.....". "Ok..." Wkwkwk.... Padahal burung kalau kehilangan sarangnya bakal bikin sarang baru! Minimal cari sarang nganggur... Wkwk.... Jelaslah itu suaminyi cuma pura² ngelarang. Buaya karat itu. Padahal.....dia bahagia banget. Ha ha ha....
Jo Neka
Di kampung saya banyak warga yang memelihara anjing.Dan biasanya.Anjing yang sering menggonggong.Jarang mengigit.Jadi yang biasa berteriak kawin lagi.Justru adalah lelaki penakut.Hiihiii mangap.Bukan penakut.Tetapi setia..
Nimas Mumtazah
Muktamar Perusuh ke 6 pacet Datang dengan gembira Pulang membawa bahagia Satu yang belum terealisasi Ulekan yang saya bawa dari rumah Nganggur di tas.. Sedianya akan saya 'hadiahkan' untuk pak Leong P...
Wilwa
Merta Ada. Hmmmm. Guru Meditasi Healing Lintas Agama Kepercayaan dan Lintas Suku Bangsa. Plesiran sambil Healing / Penyembuhan “Jiwa Raga” di Pulau Dewata. Recommended!
Tivibox
Ajaran Guru Merta Ada sangat universal. Kita diajarkan memancarkan kebaikan bagi semua makhluk, dunia, bumi ini bahkan alam semesta yang maha luas. Tiap akan mengakhiri sesi meditasi usada, kita selalu diajarkan untuk memancarkan kebaikan (pikiran harmonis ) ke segala penjuru : "Semoga semua hidup berbahagia".
Edi Susanto
Saya sungguh beruntung, nunut mobil Ibu Agustina Mardiko Wati. Perjalanan Bawen - Pacet, pulang pergi. Ibarat ngenger gratis tanpa mbayar, dan tanpa takut ditagih janji. Bahkan dapat bonus Soto Kwalinya mbah Cipto. Juga jadah empuknya Wedangan mbah Wiryo. Tak lupa tentu kisah perjuangan beliau, membangun bisnis alat berat senilai ratusan milyar. Beliau yg lebih beken dipanggil bu Monica ini, dulunya adalah seorang staf akunting di bbrp perusahaan. Berbeda dengan staf pada umumnya, insting bisnisnya memang luar biasa. Kisah suksesnya bermula dari Yamaha Alfa. Motor butut kesayangan suami tersebut diam-diam ia jual, dan ditukar celana kolor. Beliau tidak melawan, saat suaminya tercinta mencak-mencak merasa kehilangan. Rencana dan gerak cepatnya yang begitu brilian, cukup menjadi jawaban sekaligus pembuktian. Tumpukan celana sisa ekspor segudang penuh itu, ludes dalam waktu satu minggu. Kejeniusan langkahnya yang penuh perhitungan, tidak hanya berhenti disitu. Dengan tabungan hanya 10 juta, beliau nekat membeli eskavator senilai 35 juta. Kemudian beliau pasang suaminya, menjadi 'karyawannya'. Kejelian melihat peluang, dan langkah berani penuh perhitungan inilah, yang menjadi cikal bakal bisnisnya yang menggurita. Jual beli dan persewaan alat berat, sampai tak terhitung banyaknya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 29
Silahkan login untuk berkomentar