Berhentilah Memprovokasi Negeri
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Di tengah derasnya arus informasi, kita hidup pada sebuah zaman ketika kabar bergerak lebih cepat daripada pikiran.
Sebuah pernyataan yang belum tentu benar dapat mengelilingi negeri ini hanya dalam hitungan menit.
Sebuah dugaan dapat berubah menjadi "fakta" hanya karena diulang berkali-kali. Di ruang digital, kecepatan sering kali lebih dihargai daripada kebenaran, sedangkan sensasi lebih laris daripada verifikasi.
BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua
Di sinilah makna tabayyun menjadi semakin relevan. Tabayyun bukan sekadar memeriksa benar atau salah sebuah berita. Tabayyun adalah sikap intelektual sekaligus sikap moral.
Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri, tidak tergesa-gesa menyimpulkan, tidak mudah terpancing emosi, dan tidak menjadikan prasangka sebagai dasar penilaian.
Sayangnya, justru pada era ketika teknologi informasi semakin maju, praktik tabayyun semakin sering ditinggalkan.
Yang dikejar bukan lagi ketepatan informasi, melainkan jumlah tayangan, jumlah pengikut, jumlah "like", dan jumlah pelanggan. Dalam perlombaan mengejar perhatian publik, sebagian orang rela mengorbankan akurasi.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi kabar yang belum tentu benar, analisis yang dibangun di atas asumsi, bahkan ramalan-ramalan yang lebih dekat kepada spekulasi daripada kajian ilmiah.
BACA JUGA:Di Balik Dinding
Belakangan ini, masyarakat juga disuguhi berbagai narasi yang menggambarkan seolah-olah bangsa ini sedang berada di ambang kehancuran.
Ada yang mengatakan negara akan runtuh. Ada yang memperkirakan kekacauan besar segera terjadi. Ada pula yang menggambarkan masa depan Indonesia seakan hanya tinggal menunggu waktu untuk mengalami kolaps.
Sebagai warga negara, tentu kita boleh mengkritik pemerintah. Kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Para akademisi, pengamat, mantan pejabat, tokoh masyarakat, maupun para pakar memiliki hak untuk menyampaikan pandangan dan analisisnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: