Berhentilah Memprovokasi Negeri

Berhentilah Memprovokasi Negeri

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-

Namun, kritik yang sehat berbeda dengan narasi yang terus-menerus membangun ketakutan tanpa dasar yang memadai.

BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia

Analisis yang baik seharusnya memberi jalan keluar, bukan sekadar memperbesar kecemasan. Seorang intelektual semestinya menerangi ruang publik dengan pengetahuan, bukan menambah kabut kepanikan.

Sebab setiap kata yang diucapkan oleh seorang tokoh memiliki dampak sosial yang tidak kecil.

Ketika sebuah pernyataan disampaikan berulang-ulang bahwa negara akan kacau, ekonomi akan hancur, atau keamanan akan runtuh, maka bukan hanya opini yang sedang dibangun, melainkan juga psikologi masyarakat.

Dunia usaha sangat peka terhadap persepsi. Para pelaku bisnis mengambil keputusan bukan hanya berdasarkan angka-angka ekonomi, tetapi juga berdasarkan rasa percaya.

Ketika rasa percaya digantikan oleh rasa takut, investasi tertunda, konsumsi melemah, dan masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekonomi.

BACA JUGA:Penundaisme Maximus

Bahkan ada yang mulai memperkuat pagar pengaman usahanya, menahan ekspansi, atau memilih menunggu situasi yang dianggap lebih pasti.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada masalah itu sendiri.

Banyak krisis justru membesar karena manusia lebih dahulu kehilangan kepercayaan daripada kehilangan sumber daya. Ketika rasa takut menjadi komoditas yang terus diperdagangkan, maka masyarakat perlahan kehilangan optimisme.

Bangsa ini bukan bangsa yang lahir dari keadaan yang mudah. Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang menghadapi penjajahan, pemberontakan, krisis ekonomi, bencana alam, hingga berbagai pergolakan politik.

Namun berkali-kali bangsa ini mampu bangkit karena memiliki modal sosial berupa persatuan, gotong royong, dan kepercayaan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan bersama.

BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama

Optimisme tentu bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Optimisme bukan menolak kritik. Optimisme adalah keberanian untuk melihat persoalan secara jernih sambil tetap percaya bahwa solusi selalu dapat diupayakan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: