Berhentilah Memprovokasi Negeri

Berhentilah Memprovokasi Negeri

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-

Sebaliknya, pesimisme yang terus-menerus dipropagandakan tanpa disertai tanggung jawab hanya akan melahirkan masyarakat yang saling curiga, mudah marah, dan kehilangan harapan.

Karena itu, marilah kita menghidupkan kembali budaya tabayyun. Setiap menerima informasi, berhentilah sejenak. Periksa sumbernya. Bandingkan dengan informasi lain.

Tanyakan apakah berita itu benar, apakah bermanfaat, dan apakah menyebarkannya akan membawa maslahat atau justru memperbesar keresahan.

Tabayyun juga berarti berani mengatakan, "Saya belum tahu." Dalam tradisi keilmuan, mengakui keterbatasan pengetahuan jauh lebih terhormat daripada menyebarkan dugaan yang belum teruji. Tidak semua informasi harus segera dibagikan.

BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption

Tidak semua isu harus segera dikomentari. Kadang-kadang diam adalah bentuk tanggung jawab yang paling bijaksana.

Al-Qur'an telah mengingatkan dengan sangat tegas dalam Surat An-Nur ayat 19:

"Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya perbuatan yang amat keji di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang fitnah dalam pengertian sempit, tetapi juga mengingatkan bahaya menyebarkan sesuatu yang merusak kehidupan bersama.

Berita bohong, kabar yang dibesar-besarkan, dan narasi yang sengaja menumbuhkan kepanikan dapat menggerus kepercayaan sosial, memecah persaudaraan, bahkan melemahkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

BACA JUGA:Selfie Dulu, Tuhan Nanti

Maka, kepada siapa pun yang memiliki ruang bicara di hadapan publik—para pengamat, akademisi, mantan pejabat, tokoh masyarakat, pekerja media, pembuat konten, maupun pengguna media sosial—marilah kita menggunakan pengaruh itu dengan penuh tanggung jawab.

Kritiklah dengan data. Berbedalah dengan santun. Ingatkan masyarakat dengan argumentasi. Tetapi jangan membangun panggung ketakutan yang membuat bangsa ini kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Negeri ini memang tidak sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih ada ketimpangan, korupsi, kemiskinan, dan berbagai persoalan lainnya.

Namun menyelesaikan masalah tidak pernah dimulai dengan menebarkan kepanikan. Ia dimulai dengan kejernihan berpikir, ketenangan bersikap, dan kesediaan bekerja bersama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: