Di Balik Dinding
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Ada pepatah lama yang mengatakan, "Jangan menilai buku dari sampulnya."
Di negeri ini, pepatah itu rupanya sudah naik kelas menjadi, "Jangan menilai rumah dari dindingnya."
Sebab, siapa tahu di balik wallpaper bermotif kayu, tersembunyi sesuatu yang lebih mengilap daripada keramik Italia.
BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia
Konon, dinding sekarang bukan lagi sekadar pembatas ruang. Ia telah berevolusi menjadi penjaga rahasia.
Ada dinding yang menyimpan paku, ada yang menyimpan foto keluarga, ada pula yang menyimpan... yah, biarlah penyidik saja yang tahu.
Yang lucu, masyarakat kita tidak pernah kehilangan kemampuan untuk berimajinasi. Begitu mendengar ada "brankas di balik dinding", sebagian langsung membayangkan film Mission Impossible.
Sebagian lagi teringat kisah Ali Baba dan gua penuh harta. Bedanya, kalau Ali Baba harus mengucapkan "Open Sesame", di sini cukup membawa palu dan surat penggeledahan.
Ironis memang.
Selama ini kita sibuk mempercantik ruang tamu agar tamu terkesan. Ternyata yang paling menarik justru bagian rumah yang tidak pernah dipamerkan.
BACA JUGA:Penundaisme Maximus
Barangkali beginilah nasib sebuah dinding. Ia berdiri diam bertahun-tahun, tidak pernah diwawancarai wartawan, tidak pernah membuat konferensi pers, tetapi suatu hari mendadak menjadi tokoh utama berita nasional.
Kalau saja dinding bisa berbicara, mungkin ia akan mengeluh.
"Kenapa selama ini kalian hanya memuji catku? Padahal bebanku jauh lebih berat daripada sekadar menopang atap."
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: