Nyanyian Debu di Bawah Langit Az-Zariyat
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Istimewa-
"All we are is dust in the wind."
Kalimat itu telah berpuluh-puluh tahun bergema dari sebuah lagu yang ditulis Kerry Livgren, personel grup rock Kansas. Bagi sebagian orang, ia hanyalah lirik puitis tentang kefanaan hidup.
Bagi sebagian yang lain, ia adalah pengingat bahwa seluruh ambisi manusia, sebesar apa pun, pada akhirnya akan kembali menjadi debu.
BACA JUGA:At-Takatsur di Negeri Pamer
Jauh berabad-abad sebelum lagu itu lahir, Al-Qur'an telah membuka Surat Az-Zariyat dengan sumpah-sumpah yang agung:
"Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, demi awan yang mengandung hujan, demi kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan demi (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya hari pembalasan pasti terjadi." (QS. Az-Zariyat: 1–6).
Lalu disusul peringatan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia modern: "Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat." (QS. Az-Zariyat: 8).
Betapa menariknya dua sumber yang lahir dari dunia yang sangat berbeda itu bertemu pada satu titik yang sama: manusia bukan pusat alam semesta. Kita hanyalah bagian yang sangat kecil dari ciptaan-Nya.
Barangkali memang kita tidak lebih dari debu yang beterbangan di dalam angin. Debu tidak pernah memilih ke mana ia akan diterbangkan.
BACA JUGA:Berhentilah Memprovokasi Negeri
Anginlah yang menentukan arahnya. Debu tidak memiliki kuasa untuk menetapkan tempatnya berakhir. Ia hanya bergerak mengikuti kehendak yang lebih besar daripada dirinya.
Begitu pula manusia. Namun anehnya, justru makhluk yang begitu kecil ini sering merasa dirinya paling besar. Kita membangun gedung-gedung tinggi seolah ingin menyaingi langit.
Kita mengumpulkan harta seakan usia tidak memiliki batas. Kita berebut jabatan seolah kursi kekuasaan mampu mengalahkan kematian.
Di ruang sosial hari ini, manusia lebih sibuk membangun citra daripada membangun makna. Media sosial dipenuhi perlombaan untuk terlihat berhasil. Yang dipamerkan bukan lagi karya, melainkan kemasan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: