Memasuki puncak musim kemarau 2026, Wibi mengatakan kombinasi pemantauan, intervensi cepat, pengendalian sumber pencemar, dan keterlibatan masyarakat diperlukan untuk menjaga kualitas udara Jakarta tetap lebih baik bagi warga.
Agustus 2026 Puncak Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September. Agustus diperkirakan menjadi bulan dengan wilayah terdampak musim kemarau paling luas.
Pada awal Agustus, sebanyak 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BACA JUGA:Pemprov DKI Ubah Konsep Rusun Jakarta: Terintegrasi TOD, Sekolah hingga UMKM
Pada Dasarian I Agustus, curah hujan di 90,79 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori rendah. Sebanyak 87,28 persen wilayah juga mengalami sifat hujan di bawah normal.
DKI Jakarta termasuk wilayah yang mengalami musim kemarau. Kondisi kering membuat risiko penurunan kualitas udara meningkat karena berkurangnya hujan mengurangi proses pencucian polutan di atmosfer.
BMKG pada akhir Juli 2026 juga menyatakan El Nino telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Fenomena ini berpeluang memperkuat kondisi kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama di sejumlah wilayah.
Dalam kondisi atmosfer kering, partikulat dan polutan lebih sulit tercuci oleh hujan. Konsentrasinya dapat meningkat ketika kondisi atmosfer dan pola angin mendukung.
Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA Institut Pertanian Bogor, Ana Turyanti, menilai penguatan sistem peringatan dini kualitas udara yang disiapkan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta penting dilakukan. Informasi kualitas udara, kata dia, dapat ditampilkan di lokasi-lokasi strategis yang banyak dikunjungi masyarakat.
BACA JUGA:Dishub DKI Tegaskan Tak Ada Kenaikan Tarif Parkir: Fokus Benahi Tata Kelola dan Parkir Liar
"Dengan begitu, awareness masyarakat terhadap kondisi kualitas udara dapat meningkat," kata dia.
Menurut Ana, kualitas udara Jakarta cenderung menurun saat musim kemarau. Kondisi itu tidak hanya dipengaruhi sumber emisi, tetapi juga cuaca dan musim yang menentukan penyebaran serta pencucian polutan di atmosfer.
Berkurangnya hujan membuat proses pencucian polutan semakin minim. Kondisi ini diperkuat fenomena El Nino pada periode Juni hingga pertengahan Agustus 2026.
Rata-rata lima wilayah Jakarta mengalami sekitar 44 hari tanpa hujan berturut-turut. Di sejumlah lokasi, periode tanpa hujan bahkan mencapai 55 hari.
Pada musim kemarau, kata Ana, angin dominan bertiup dari timur dan tenggara Jakarta. Pola angin ini berpotensi membawa polutan dari wilayah sekitar ke Jakarta. Karena itu, persoalan kualitas udara tidak sepenuhnya dapat dilihat berdasarkan batas administrasi.